
"Kau memang benar-benar kurang ajar, Diandra! Lihat saja, pasti aku akan membalasmu!"
"Memangnya gembel sepertimu bisa apa, Alex?"
"Jaga kata-katamu, sebelum kau menyebutku dengan gembel seharusnya kau berfikir jika apa yang kau miliki saat ini juga karena campur tangan dariku! Karir yang kau miliki itu juga karena diriku, bahkan barang-barang mewah yang kau miliki itu juga semua pemberianku! Dan aku akan mengambil semua barang-barang itu, Diandra! Kau yang sebenarnya gembel dan tidak punya apa-apa!"
"Iya tapi sekarang kau bisa apa? Kau mau mengambil barang-barang itu? Hei jangan bermimpi, Alex, kau tidak mungkin bisa mengambil barang yang sudah kau berikan pada orang lain! Seharusnya kau sadar, saat ini kau hanyalah manusia tidak berguna yang tidak memiliki apa-apa! Jadi, lebih baik kau menjauhlah dariku dan jangan pernah tunjukkan lagi batang hidungmu padaku! Security kenapa kau diam saja, cepat bawa laki-laki itu!"
Kedua security itu kemudian mencekal tangan Alex. "Kau memang bajingann! Brengsekkk kau, Diandra!" teriak Alex saat dua orang security menarik tubuhnya dari ruangan Diandra.
"Cih, dasar manusia bodoh tidak berguna, kau sudah miskin dan aku tidak mau berhubungan lagi denganmu, Alex!" gerutu Diandra sambil mendecih sebal.
Selang beberapa saat kemudian, Diandra pun tampak begitu frustasi memikirkan semua yang terjadi, berulang kali dia menjambak rambutnya sambil beberapa kali mengumpat. "Pantas saja Mas Gavin sudah tidak peduli padaku, ternyata dia sudah tahu semua rahasiaku. Dia tidak hanya tahu perselingkuhanku dengan Alex tapi dia juga sudah tahu aku sudah tidak perawann saat aku menikah dengannya," gumam Diandra.
Dia lalu mencoba menghubungi Gavin, namun Gavin ternyata susah memblokir nomernya. "Sial!" umpat Diandra, hatinya rasanya begitu panas penuh amarah yang begitu membara.
Diandra kemudian memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya, kepalanya terasa begitu berdenyut. Bahkan rasanya kepala itu hampir pecah memikirkan hidupnya yang saat ini terasa begitu hancur dan berantakan. Apalagi setelah tahu jika Alex sudah tidak memiliki apa-apa, rasanya tidak ada harapan untuk masa depannya kecuali kembali pada Gavin. Dia kemudian membuka matanya, diiringi seringai di bibirnya.
"Ya, untuk saat ini hanya Frizz satu-satunya harapanku. Aku harus bisa menggunakan Frizz untuk membuat Mas Gavin kembali padaku."
Diandra kemudian memencet tombol emergency kembali untuk memanggil perawat. Tak berapa lama, Seorang perawat pun masuk ke ruang perawatan itu.
__ADS_1
"Ada apa Nyonya Diandra?"
"Suster, tolong lepaskan infusku! Aku ingin pulang sekarang juga."
"Pulang? Bukankah anda belum diperbolehkan pulang, Nyonya?"
"Jadi kamu berani bantah aku? Cepat lepaskan infus ini! Asal kau tahu, aku sebenarnya tidak apa-apa. Aku baik-baik saja!"
"Sebentar saya bicarakan dulu dengan Dokter Anton yang menangani anda, Nyonya."
Perawat tersebut kemudian keluar dari ruang perawatan Diandra, lalu setelah itu dia masuk ke dalam ruang perawatan itu kembali bersama dengan salah seorang dokter.
"Anton, aku mau pulang sekarang juga!"
"Aku udah nggak peduli sama mereka, Anton. Karena ada urusan yang lebih penting bagiku, tolong Anton, aku mau pulang sekarang juga."
Anton pun menggelengkan kepalanya sambil berdecak lirih. "Ck, baiklah kalau begitu terserah kau saja, aku sudah berusaha membantumu, untuk selanjutnya jika ada sesuatu yang terjadi, itu bukan urusanku."
"Iya Anton, terima kasih banyak udah bantuin aku. Tolong lepaskan infusku, aku mau pulang sekarang juga."
Anton kemudian menganggukkan kepalanya, lalu menyuruh perawat yang ada di sampingnya untuk melepaskan infus Diandra. "Terima kasih Anton, aku pulang dulu."
__ADS_1
Dokter tersebut lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecut. "Kau sudah dewasa tapi ternyata kau masih sama seperti dulu, Diandra. Kau ceroboh dan gabah, kau tidak menggunakan akal sehatmu saat kau dalam posisi yang tidak menguntungkan dirimu. Kau hanya mementingkan ego dan ambisimu saja," ujar dokter tersebut.
Sementara itu, Diandra yang sudah pergi dari rumah sakit kini tampak berdiri di sebuah pintu. Di depan pintu itu, Diandra tampak tersenyum menyeringai lalu membuka pasword smart lock door yang ada di depannya, lalu perlahan masuk ke dalam ruangan itu.
***
Paginya..
Amara terbangun dari tidur lelapnya saat mendengar suara ponselnya yang berbunyi berulang kali. Dengan begitu malas, akhirnya Amara pun mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo! Ada apa sih telepon pagi-pagi gini? Masih ngantuk nih!" omel Amara pada seseorang di ujung sambungan telepon.
Setelah beberapa saat mendengar jawaban dari orang yang menghubunginya, tiba-tiba raut wajah Amara berubah menjadi pucat pasi, ponsel yang menempel di telinganya pun terjatuh begitu saja, rasanya untuk sekedar menggengam ponsel itu pun dia begitu lemas.
"Tidak, ini tidak mungkin," ujar Amara lirih, namun perasaannya yang kian meronta membuat ucap lirih itu menjadi teriakkan kencang.
"TIDAKKKKKK!"
Bersambung...
NOTE: Mampir juga ya ke novel terbaru Kak Irma Kirana ya, dijamin seru abis deh 😍😘🤗
__ADS_1