
"Agak terlambat, Dok?" potong Gavin, karena merasa begitu panik.
"Iya, cukup terlambat anda membawa istri anda datang ke rumah sakit."
"Lalu, bagaimana Dok? Apa kandungan istri saya masih bisa diselamatkan? Dokter, tolong selamatkan anak yang ada di dalam kandungan istri saya, Dok."
"Kita berdoa saja, untuk saat ini Nona Cheryl harus menjalani bed rest di rumah sakit ini. Kalau pendarahan itu berhenti, itu artinya janinnya bisa diselamatkan. Tapi kalau kondisinya memburuk, terpaksa kita harus melakukan kuretase."
"Astaga," gerutu Gavin. Dia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tuan Gavin, saat menjalani bed rest, usahakan istri anda agar tidak banyak bergerak. Dan, satu lagi yang paling penting, usahakan istri anda agar tidak terlalu berfikir berat karena itu juga akan sangat berpengaruh."
"Iya Dokter."
"Sebentar lagi, istri anda akan dibawa ke ruang perawatan. Anda bisa menemaninya di sana."
"Iya dok, terima kasih banyak."
Dokter itu lalu meninggalkan Gavin, masuk ke ruangannya. Lalu tak berapa lama seorang perawat mendorong brankar Cheryl ke sebuah ruang perawatan, sementara itu Gavin berjalan di samping brankar Cheryl sambil menggengam tangannya.
"Anak kita pasti selamat, kamu tenang ya, Sayang."
Cheryl menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di ruang perawatan Cheryl. Setelah perawat yang membawa Cheryl keluar dari ruangan itu, Gavin kemudian duduk di samping brankar Cheryl, sedangkan Frizz tampak memainkan ponselnya di atas tempat tidur khusus jaga pasien.
"Mas, jadi Tante Diandra yang bawa Frizz tadi malem?"
"Iya sayang, mungkin dia pikir aku mau kembali kalo dia bawa Frizz."
Cheryl pun tersenyum. "Kasihan Tante Diandra."
"Kasihan? Tidak ada yang perlu dikasihani dari seorang Diandra. Apa kau tahu, tadi bahkan aku bertemu dengan Alex saat menjemput Frizz."
"Alex?"
"Ya, ada Alex di rumah kami dan saat aku datang mereka sedang bertengkar."
__ADS_1
"Mereka bertengkar?"
"Iya sayang. Udah ga usah dipikirin, yang penting sekarang kamu istirahat, ga boleh banyak gerak, dan jangan kebanyakan pikiran. Makanya aku batesin kamu biar ga buka medsos sama interaksi sama orang lain karena gini. Aku ngga mau sesuatu terjadi sama anak kita, kamu ngerti kan, Sayang?"
Cheryl lalu menganggukkan kepalanya. "Terus kenapa tiba-tiba kamu kaya gini? Kamu kecapeen?"
Cheryl menggelengkan kepalanya. "Lalu?"
"Lupa pake earphone...," jawab Cheryl sambil memonyongkan bibirnya.
"Astagaaa..., jadi kamu denger orang-orang yang lagi ngomongin kamu?"
Cheryl menganggukkan kepalanya lagi. "Jadi Tante Diandra melakukan percobaan bunuh diri?"
"Iya, tapi pura-pura. Cuma buat narik perhatian aku sama cari simpati publik. Buktinya dia sehat-sehat aja kan? Tadi malem, dia bisa jemput Frizz ke apartemen kita, terus tadi pagi waktu aku ketemu, dia juga sehat, ga ada luka apapun."
"Astaga, Tante Diandra."
"Tolong kamu nggak usah pikirin itu lagi, Sayang. Tenangkan pikiran kamu ya!"
"Tapi Mas...."
"Aku kepo sama berita itu deh, aku boleh liat pemberitaan tentang Tante Diandra nggak?"
"Nggak sayang, aku nggak mau sesuatu terjadi sama kamu."
"Mas.., please... Aku janji ga bakalan masukin ati sama pikiran. Aku cuma kepo sama akting Tante Diandra, itu aja. Please...," rengek Cheryl dengan tatapan mengiba, yang membuat Gavin luluh.
"Ya udah, tapi sebentar aja ya. Terus kamu harus janji, jangan dimasukin ati terus ga boleh terlalu dipikirin."
"Iya Mas..."
"Just one minutes."
"Bentar banget sihhhh."
__ADS_1
"One minutes or never."
"Baiklah."
Gavin kemudian menyalakan televisi yang ada di ruang perawatan Cheryl. Namun, saat televisi itu menyala, beberapa siaran infotainment itu tidak lagi memberitakan percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Diandra. Tapi seluruh berita di televisi menyiarkan tentang perselingkuhan antara Diandra dengan Alex, yang merupakan mantan pemilik production house yang baru saja berpisah dari istrinya, Bianca. Dan, ironisnya yang membuka aib perselingkuhan itu adalah Bianca sendiri, saat Alex sedang berada di rumah Diandra.
Dalam pemberitaan itu, tampak muka Alex lebam-lebam akibat pukulan yang dilayangkan oleh Gavin. Mereka berdua pun tampak menutup wajah mereka dengan tangan, saat kamera wartawan menyorot wajah mereka disertai protes yang terlontar dari bibir keduanya. Ya, jelas saja mereka malu karena itu sama saja mereka sedang ditelanjangi habis-habisan oleh Bianca, hingga membuat aib mereka diketahui oleh publik.
Kejadian pagi ini pun seketika mematahkan statement dari Diandra sebelumnya, saat dia memposisikan dirinya sebagai istri yang terdzalimi akibat tingkah dari suaminya yang berselingkuh dengan keponakannya sendiri. Cukup lama Gavin dan Cheryl melihat berita infotainment itu, bahkan mereka juga melihat sendiri pertengkaran Diandra dan Bianca, serta alasan Bianca melakukan semua itu agar perselingkuhan mereka diketahui oleh publik.
Gavin yang awalnya hanya memberikan waktu selama satu menit pada Cheryl pun akhirnya membiarkan waktu satu menit itu berlalu, karena pemberitaan di televisi tidak lagi memojokkan mereka. Hingga Gavin merasa cukup aman membiarkan Cheryl menonton pemberitaan televisi tersebut.
Setelah dirasa cukup melihat pemberitaan itu, Gavin lalu mematikan televisi lalu membelai wajah Cheryl sambil tersenyum. "Kamu liat sendiri kan, bagaimana skenario kehidupan ini berjalan. Baik buruknya sikap kita pasti ada balasannya. Cheryl, aku tahu perbuatan kita berselingkuh di belakang Diandra itu juga salah. Tapi, tidak sepantasnya kita membuka aib sesama manusia, karena sejatinya apa yang akan kita lakukan pasti akan berbalik pada diri kita sendiri. Saat Diandra membuka aib kita, maka suatu saat aibnya juga akan dibuka oleh orang lain. Bahkan situasinya jauh lebih parah, seperti yang dialami Diandra saat ini."
"Iya mas."
"Sekarang kamu bisa lebih tenang kan? Meskipun tidak sepenuhnya pandangan orang berubah pada kita, tapi setidaknya mereka tahu kalau posisi kita tidak sepenuhnya salah karena perselingkuhan itu yang memulainya terlebih dulu adalah Diandra."
Cheryl pun menganggukkan kepalanya. "Kamu sekarang istirahat aja ya, dan ga boleh mikir yang macem-macem lagi."
"Iya Mas."
Cheryl pun mulai memejamkan matanya, mungkin obat yang diberikan oleh Dokter mulai bekerja, hingga tiba-tiba dia mulai merasa ngantuk. Tepat di saat itulah ponsel Gavin berbunyi.
[Ya halo.]
[Dengan Tuan Gavin?]
[Iya benar.]
[Tuan Gavin, hasil tes DNA yang anda ajukan suah keluar hasilnya. Anda boleh mengambilnya sekarang juga.]
[Iya, terima kasih banyak.]
Gavin kemudian mengecup kening Cheryl yang saat ini sudah tertidur. "Aku keluar sebentar, Sayang." Setelah itu, Gavin mendekat pada Frizz yang saat ini sedang berbaring di atas tempat tidur jaga di ruang perawatan itu. Sejenak Gavin menatap Frizz, lalu membelai rambut dan mengecup keningnya.
__ADS_1
"Whatever the result, you always my son," ucap Gavin sambil meneteskan air matanya.
Bersambung...