
Gavin kemudian mendekat pada Cheryl lalu memeluknya sambil tersenyum. "Gapapa sayang, nanti aku ceritain kalo Frizz udah bobo."
"Tapi Om gapapa kan? Gimana kerjaan Om di kantor?"
Gavin kemudian menempelkan jari telunjuknya pada bibir Cheryl, kemudian mengecup bibir itu. "Nanti aku ceritain kalo Frizz udah bobo. Mending sekarang kamu masak dulu buat makan malem, aku mau mandi sama Frizz. Tadi aku mampir sebentar ke pasar buat belanja isi kulkas," ujar Gavin sambil memperlihatkan satu kantong plastik berisi bahan makanan."
Melihat isi kantong plastik yang dibawa oleh Gavin, Cheryl pun tersenyum. Dia tak menyangka Gavin mau berbelanja di pasar, hal yang sangat jarang dilakukan oleh laki-laki.
"Sayang, kamu kenapa liatin kaya gitu?"
"Om lucu."
"Lucu apanya? Ganteng gini masa dibilang lucu."
"Itu," jawab Cheryl sambil menunjuk kantong plastik yang saat ini ada di atas meja.
"Kenapa?"
"Om gemesin bangat sih mau belanja di pasar."
"Hahahaha gemes?"
Cheryl lalu menganggukan kepalanya. "Baiklah, kalau gitu tiap hari Om mau belanja di pasar biar kamu makin gemes sama Om."
"Idih, sok imut banget sih. Ya udah aku mau masak dulu, Om."
Gavin lalu menganggukan kepalanya, sementara itu Cheryl membawa kantong plastik tersebut ke dapur. "Frizz, mandi sama papa yuk!" ajak Gavin. Namun, baru saja Frizz menganggukkan kepalanya, tiba-tiba terdengar teriakan Cheryl dari arah dapur.
"Ahhhh, Ommmmm!"
Gavin yang panik mendengar teriakan itu, lalu bergegas berlari ke arah dapur dan melihat Cheryl yang saat ini sedang berjongkok sambil menangis. Gavin pun mendekat ke arah Cheryl lalu memeluknya. "Kamu kenapa, Sayang?"
__ADS_1
Cheryl mendongakkan wajahnya, lalu menatap Gavin. "Om, aku baru aja mau masak, tapi liat bahan masakan itu rasnya udah mual, Om. Aku pengin muntah terus, hiks.., hiks..."
Gavin pun tersenyum lalu menghapus air mata di wajah Cheryl. "Sayang, kondisi wanita hamil memang berbeda-beda, dan kamu termasuk yang sensitif sama bau makanan gini. Ya udah, kamu mandiin Frizz aja ya. Biar om yang masak."
Cheryl lalu menatap wajah Gavin. "Emang Om bisa masak?"
"Luluhin hati kamu aja bisa apalagi masak," jawab Gavin sambil tersenyum nakal.
"Ihhhhh Om, nyebelin!" gerutu Cheryl sambil meninggalkan Gavin yang sedang terkekeh, lalu mendekat ke arah Frizz, dan membawanya masuk ke kemar mandi. Sedangkan Gavin, hanya menatap Cheryl sambil tersenyum simpul. Dia menyadari siapa itu Cheryl, seorang wanita yang anggap saja masa mudanya telah dia renggut. Seharusnya saat ini Cheryl masih bisa melanjutkan pendidikannya, seharusnya saat ini Cheryl masih bisa bersenang-senang dengan teman seusianya, tapi sayangnya dia tidak bisa melakukan semua itu karena menjalin hubungan dengannya, dan terseret pada masalah yang rumit seperti ini, hingga dikucilkan oleh dunianya.
Bagi Gavin, Cheryl layak untuk bahagia, dan dia akan memberikan kebahagiaan pada Cheryl, apapun caranya. Apalagi saat ini dia sedang mengandung darah dagingnya. Gavin menghembuskan nafas panjangnya, lalu tersenyum, mencoba untuk menghibur diri sendiri, meskipun saat ini sebenernya perasaannya begitu campur aduk, namun dia tidak mau memperlihatkan kesedihan itu, demi Cheryl, dan buah hatinya.
Beberapa jam kemudian saat Frizz sudah terlelap, dan setelah makan malam, meskipun dengan berbagai drama Cheryl yang berulang kali muntah, akhirnya mereka berdua memiliki waktu untuk bicara berdua. Gavin mendekat ke arah Cheryl yang saat ini sedang duduk di depan televisi.
"Sayang, Om mau cerita."
"Iya Om, jadi gimana sebenernya?"
Mendengar perkataan Gavin, mata Cheryl pun berembun. Dia kemudian memeluk Gavin dan menangis di atas dadanya. "Jangan nangis terus dong sayang, kan om bilang kamu harus bahagia."
"Aku juga lagi nangis bahagia, Om."
Gavin kemudian terkekeh. "Ada satu lagi, Sayang."
"Sebelum kita pergi, kita harus menyelesaikan semua urusan kita."
"Urusan apa Om?"
"Kamu harus urus administrasi cuti kamu di kampus, dan om mau jual seluruh aset om. Termasuk menjual apartemen ini."
"Apa, dijual? Kan sayang."
__ADS_1
"Tapi harus Cheryl, kita mau pergi ke tempat yang jauh, bukan di negeri ini, dan om butuh modal untuk memulai usaha."
"Jadi kita mau pindah ke luar negeri, Om? Kemana Om?"
"Masih Om pikirin Cheryl, om mau hubungi temen-temen Om dulu, tempat mana yang bagus buat kita memulai usaha. Dan, ada satu lagi urusan yang harus kita selesaikan."
"Apa Om?"
"Menikah, om mau meminta restu sama orang tua kamu."
"Kalau mereka ga setuju gimana, Om? Om tahu kan gimana sikap mama ke Om?"
"Yang penting kita udah minta restu ke orang tua kamu, Cheryl. Mereka mau kasih restu apa nggak, ya terserah mereka. Setiap orang kan punya pilihan, Sayang. Dan kita harus menghormati pilihan orang tuamu, apapun itu."
Cheryl menghembuskan nafas panjangnya, lalu kian erat memeluk Gavin, entah mengapa rasanya dia sangat menyayangi laki-laki itu. Laki-laki dewasa yang mengajaknya hidup dalam sebuah mahligai rumah tangga, meskipun untuk saat ini dia harus merelakan cita-citanya, tapi Cheryl ikhlas. Bukankah kodrat wanita memang menjadi seorang ibu dan istri yang baik, apapun yang telah diraihnya, pada dasarnya kodrat wanita adalah pendamping pria. Karena wanita hanyalah bagian tulang rusuk, bukan tulang punggung.
"Gimana sayang, kamu setuju kan sama semua rencanaku?"
"Iya Om, aku mau ikut kemanapun om pergi."
Gavin melepaskan pelukan mereka, lalu menatap Cheryl dengan tatapan begitu dalam, kemudian mengecup keningnya.
"Aku tahu ini menyakitkan, tapi meskipun sakit kita harus menahannya. Aku tahu ini juga pahit, tapi meskipun pahit kita tetap harus bisa menelannya. Terkadang bahagia memang membutuhkan fase-fase seperti ini, karena semesta tahu apa yang sudah kita berikan dengan hati yang tulus."
Mendengar perkataan Gavin, Cheryl pun menganggukkan kepalanya. Namun, tepat di saat itulah tiba-tiba mereka mendengar sesuatu yang mengganggu pendengaran mereka. Suara yang sedikit bising, dari arah bawah apartemen mereka. Mereka lalu berpandangan sambil mengerutkan kening mereka.
"Om kok berisik banget di bawah, ada apaan Om?"
NOTE:
Mampir juga ya ke karya bestie othor novelnya Kak Hana Hikari, dijamin ceritanya keren abis deh
__ADS_1