Terjerat Pesona Suami Tanteku

Terjerat Pesona Suami Tanteku
Senandung Lirih


__ADS_3

"Silahkan masuk Gavin, kita bicara di dalam."


"Tidak usah, di sini saja. Apakah kau tahu, betapa sulitnya aku mengendalikan emosiku saat bertemu denganmu? Kalau aku masuk ke dalam rumah, mungkin aku tidak sanggup lagi mengendalikan emosiku ini. Apa kau tahu bagaimana sulitnya meredam amarah di dalam hatiku saat melihat wajahmu? Bahkan rasanya aku sangat ingin membunuhmu dan Diandra."


"Maafkan aku, Gavin. Aku tahu kesalahanku sangat besar padamu, aku..." Belum selesai Alex mengucapkan kata-katanya, tiba-tiba Gavin sudah memukulnya kembali.


BUGH BUGH BUGH


"Kenapa kau diam?"


"Aku ikhlas kalau kau mau membunuhku."


"Cih, dasar munafik! Sekarang dengarkan aku, Alex. Besok aku akan menjual rumah ini! Kalau rumah ini sudah terjual, silahkan angkat kaki dari rumah ini, tapi kau tenang saja. Meskipun kalian berdua pernah menyakitiku, aku tidak akan membiarkan kalian jadi gelandangan! Aku akan membagi rumah ini sebagai harta gono-giniku dengan Diandra! Tapi ingat jangan pernah ganggu kehidupan kami dengan Frizz! Kalian boleh menemuinya tapi kau tidak boleh mengambilnya dariku! Apa kau mengerti, Alex?"


"Iya Gavin."


"Dan satu lagi, tolong rahasiakan jati diri Frizz, sampai dia dewasa! Aku tidak ingin pertumbuhan psikologis Frizz terganggu!"


"Jadi, kau sudah tahu Frizz bukan anak kandungmu?"

__ADS_1


BUGH BUGH BUGH


"Cihhhh, seribu pukulan pun tak akan sanggup menebus dosa kalian berdua, Alex! Aku tidak mau berlama-lama di sini, jadi tolong pahami apa yang sudah kukatakan padamu tadi! Angkat kaki secepatnya dari rumah ini, lalu jangan pernah ganggu Frizz!"


"Iya Gavin, aku mengerti."


"Cuihhhh..."


Gavin kemudian membalikkan tubuhnya, berniat untuk pergi dari rumah itu, sebenarnya dia masih ingin menghajar Alex habis-habisan. Tapi melihat kondisi Alex yang terlihat pucat dan tubuhnya tampak bergetar, Gavin pun memilih untuk pergi dari rumah itu. Namun saat baru saja melangkahkan kakinya, tiba-tiba Alex memanggilnya kembali. "Gavin!"


Gavin pun menoleh dan menatap Alex yang baru saja memanggilnya. "Maafkan kami, semoga kau selalu bahagia dengan kehidupan pernikahanmu yang sekarang. Maafkan kami atas semua kebohongan yang mungkin sudah tidak terhitung banyaknya. Maaf kami sudah menjadikanmu tameng dalam hubungan ini, aku tahu kau pasti sangat marah, aku tahu kau pasti merasa sangat dicurangi dan hidup layaknya pecundang selama tujuh tahun terakhir ini, aku tahu kesalahan kami begitu besar. Aku paham, kalau ini sangat menyakitkan bagimu, dan kami memang tidak layak mendapatkan maaf darimu. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, terima kasih sudah menjadi ayah yang baik untuk Frizz. Tidak pernah menjadi ayah yang baik bagi Frizz adalah penyesalan terbesarku, sekali lagi terima kasih banyak Gavin, semoga kalian bahagia."


Alex kemudian menganggukkan kepalanya, setelah melihat anggukan kepala Alex, Gavin kemudian pergi meninggalkan rumah itu. Saat Alex baru memasuki rumah, tiba-tiba bel kembali berbunyi.


TETTTT TETTT


Alex pun kembali berjalan ke arah pintu, dan membuka pintu itu kembali. "Tolong besok temui aku!" kata seseorang yang saat ini berdiri di depan Alex sambil memberikan bungkusan makanan padanya. Belum sempat Alex menjawabnya, dia sudah meninggalkan Alex pergi begitu saja.


Alex pun hanya menatap nanar kepergiannya, dia lalu masuk ke dalam rumahnya, dan melihat Diandra yang sudah terbangun, dan saat ini sedang duduk di tepi ranjang. "Kau bangun Diandra? Apa kau lapar? Ini ada makanan untukmu. Kita makan bersama ya."

__ADS_1


Diandra tetap diam di atas ranjang, tatapan matanya bahkan terlihat kosong. "Aku suapi saja ya, Diandra?"


Alex kemudian keluar dari kamar itu, mengambil piring dan sendok, lalu menyuapi Diandra makan. Namun, Diandra tetap diam. Tatapan mata kosongnya, kini bahkan begitu sendu disertai butiran-butiran bening yang keluar dari kedua sudut matanya.


"Diandra!" panggil Alex sambil membelai rambut dan memegang tangannya. Diandra hanya tersenyum tipis, detik berikutnya terdengar senandung lirih dari bibirnya.


"Aku bisa membuatmuuuu, jatuh cinta kepadaku, meski kau tak cinta..., kepadaku...."


***


Hana menatap layar televisi yang masih diwarnai pemberitaan tentang Diandra dan Alex. Kini, berbagai hujatan begitu ramai dilayangkan untuk adiknya itu. Tidak hanya di televisi, tapi juga di berbagai media sosial, bahkan seluruh anggota keluarga besar mereka dan tetangga pun tak luput memberikan cemoohan untuk Diandra, hingga membuat orang tuanya, Adam dan Ranti harus dirawat di rumah sakit. Ya, saat ini Hana memang sedang di rumah sakit, menunggu orang tuanya yang terbaring tidak berdaya di atas ranjang.


Adam mendapat serangan jantung mendadak, sedangkan Ranti, penyakit darah tingginya kumat. Mereka tidak kuat mendengar hujatan serta hinaan yang dari semua orang pada Diandra. Bahkan kedua orang tuanya pun sampai tidak berani keluar rumah karena malu, dan takut akan hujatan yang tak pernah habis dilayangkan pada Diandra.


Hana kemudian buru-buru mematikan berita di televisi, sebelum orang tuanya terbangun dan melihat pemberitaan itu lagi. Saat ini, dia benar-benar merasa begitu marah dan benci pada Diandra yang telah membuat keluarga mereka menanggung malu. Bahkan sejak tadi pagi, dia mengabaikan panggilan telepon dan pesan dari Diandra, tidak hanya dia tapi juga kedua orang tuanya pun sama, mereka sudah terlalu marah dan kecewa.


Kepala Hana seakan begitu penat akan semua masalah yang akhir-akhir ini menimpa keluarganya, apalagi saat melihat raut wajah Adam dan Ranti yang terlihat begitu sayu dan penuh beban. Dia kemudian keluar dari ruang perawatan tersebut, bermaksud untuk mencari udara segar. Dan, di saat dia baru saja keluar dari ruang perawatan orang tuanya, tiba-tiba dia melihat sosok yang dikenalnya sedang berjalan di koridor rumah sakit.


"Bukankah itu Gavin? Kenapa malam-malam Gavin ada di rumah sakit ini? Apa ini artinya, Cheryl juga ada di rumah sakit ini?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2