Terjerat Pesona Suami Tanteku

Terjerat Pesona Suami Tanteku
Menyesal Jatuh Cinta


__ADS_3

Perawat yang ada di depan Gavin pun tersenyum. "Karena anda belum membuat janji, sebentar saya tanyakan dulu pada Dokter Anita."


Gavin menganggukkan kepalanya, lalu menunggu perawat itu di luar ruangan, beberapa saat kemudian, perawat itu pun keluar dan mendekat ke arah Gavin. "Kebetulan Dokter Anita sedang ada waktu luang, silahkan jika ingin berkonsultasi."


Gavin menganggukan kepalanya, kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. "Selamat siang, Dokter. Perkenalkan saya Gavin."


"Iya Tuan Gavin, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Emh, begini Dokter saya mau tanya apa operasi keperawanan di rumah sakit ini sudah berjalan lama?"


Dokter Anita pun tersenyum. "Kenapa anda bertanya seperti itu, Tuan Gavin?"


"Tidak apa-apa, Dokter. Saya cuma mau menanyakan apakah istri saya pernah melakukan operasi keperawanan di sini?"


Dokter Anita lalu mengerutkan keningnya. "Istri anda? Oh maaf Tuan, kalau maksud kedatangan anda ke sini untuk menanyakan pasien yang pernah melakukan operasi keperawanan saya tidak bisa menjawab itu karena itu merupakan data rahasia yang harus kami lindungi."


'Astaga, aku harus menggunakan cara lain agar dokter ini percaya padaku,' batin Gavin. Dia pun terdiam, tampak berfikir sejenak, lalu tersenyum kembali pada Dokter Anita, kemudian membuka suaranya kembali saat sebuah ide terlintas di benaknya.

__ADS_1


"Oh-emh begini Dokter, sebenarnya saya ke sini atas suruhan istri saya, saya sebenarnya tahu dia pernah melakukan operasi keperawanan di sini. Lalu dia menyuruh saya untuk menanyakan hal ini lagi pada anda, sebenarnya dia ingin melakukan operasi ini setelah dia melahirkan nanti. Karena saat ini istri saya sedang hamil, Dok," dusta Gavin.


"Oh, jadi istri anda yang menyuruh anda untuk menanyakan ini pada saya?"


"Iya Dokter, anda tahu kan dok, ada beberapa wanita hamil yang sering mengalami ngidam berat dan itu terjadi pada istri saya, untuk saat ini dia tidak bisa keluar rumah karena kondisinya tidak memungkinkan. Jadi, dia menyuruh saya menanyakan hal ini pada anda."


"Baiklah kalau seperti itu, saya memahami kondisi kalian. Sebentar saya cek dulu data pasien, untuk mengetahui kondisi istri anda. Kalau data medis sebelumnya bagus dan tidak ada keluhan apapun, dia bisa melakukan operasi itu untuk yang kedua kali. Siapa nama istri anda, Tuan?"


"Diandra Paramitha, kurang lebih dia melakukan operasi ini enam tahun yang lalu, Dok," jawab Gavin yang sebenarnya hanya menduga-duga kapan Diandra melakukan operasi keperawanan tersebut, padahal dia pun juga tidak tahu Diandra sebelumnya pernah melakukan operasi keperawanan atau tidak.


"Astaga, jadi anda suami dari artis Diandra Paramitha? Seingat saya artis Diandra Paramitha, dulu memang pernah datang dan melakukan operasi di sini."


Seketika jantung Gavin pun seakan berhenti berdetak, bahkan hatinya terasa begitu sakit seperti dihujam pisau yang membuatnya merasa benar-benar terluka, dan hancur. Rasanya, ingin sekali Gavin mengumpat, berteriak, dan mengamuk di ruangan itu, tapi dia berusaha mengendalikan emosinya karena saat ini dia sedang bersandiwara di depan dokter yang ada di hadapannya guna mendapatkan semua bukti kecurangan Diandra dalam pernikahan mereka.


Dokter Anita lalu mengecek data pasiennya di laptop miliknya, sedangkan Gavin hanya bisa termenung, meratapi kebodohannya. Lebih tepatnya menyesalkan masa lalunya, entah dia yang benar-benar bodoh atau Diandra yang begitu licik telah membohongi dirinya. Semakin dalam Gavin memikirkan itu, hatinya terasa begitu sakit, sakit karena wanita yang dulu dia cintai dengan sepenuh hati, ternyata telah berbohong padanya, dan berbuat curang di belakangnya. Meskipun saat ini rasa cintanya pada Diandra telah memudar, tapi tak dapat dipungkiri dulu Diandra pernah menjadi satu-satunya wanita yang Gavin cintai dengan sepenuh hati, dan sayangnya cinta itu ternyata dibalas degan kebohongan yang begitu besar. Kepala Gavin pun seakan ingin pecah, rasanya dia benar-benar menyesal telah jatuh cinta pada seorang wanita seperti Diandra. Tiba-tiba, lamunan Gavin tersentak saat Dokter Anita memanggilnya.


"Tuan, Gavin."

__ADS_1


"Oh, emh bagaimana Dok?"


"Begini Tuan Gavin, menurut catatan medis Nyonya Diandra, tidak ada yang bermasalah dengan kondisi kesehatannya dulu. Jadi, ini artinya Nyonya Diandra bisa melakukan operasi itu kembali setelah melahirkan, asalkan proses kelahiran anak anda melalui operasi sesar agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Ini catatan kesehatan istri anda enam tahun lalu sebagai bahan pertimbangan saat akan melakukan operasi kembali, Tuan Gavin."


Gavin lalu mengambil kertas yang diberikan oleh Dokter Anita sambil tersenyum padanya. Sebuah senyum kepalsuan untuk menutupi sakit hatinya, sekaligus senyum kemenangan karena dia telah mendapatkan bukti kecurangan Diandra selama ini.


"Terima kasih, Dokter. Saya akan menyampaikan ini pada istri saya."


"Iya Tuan Gavin, senang bisa membantu anda."


"Saya permisi dulu, Dokter."


"Iya Tuan."


Gavin lalu bangkit dari tempat duduknya, kemudian keluar dari ruangan itu, dia berjalan di sepanjang koridor rumah sakit dengan tangan yang terkepal dan nafas yang begitu menderu menahan emosi yang ada di dalam hatinya. Hingga akhirnya, dia pun sampai di dalam mobil miliknya dan membuka kertas hasil catatan medis Diandra enam tahun lalu. Mata Gavin pun terasa begitu panas, begitu pula hatinya saat melihat tanggal pada catatan medis itu yang menunjukkan jika Diandra melakukan operasi tersebut, tepat beberapa minggu sebelum mereka menikah.


"SHITTTTTTT! KAU BENAR-BENAR BRENGSEK, DIANDRA! BAJINGAN! SELAMA INI TERNYATA KAU TELAH MENIPUKU! DASAR BRENGSEK! BRENGSEK KAU DIANDRA!" teriak Gavin berulang kali di dalam mobil. Dia kemudian bergegas mengendarai mobilnya keluar dari rumah sakit itu.

__ADS_1


"KAU BENAR-BENAR BRENGSEK DIANDRA! AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGAMPUNIMU!"


__ADS_2