Terjerat Pesona Suami Tanteku

Terjerat Pesona Suami Tanteku
Kita Perlu Bicara


__ADS_3

"Tuan Alex, Nyonya."


"Alex?"


"Iya Nyonya."


"Katakan saja aku tidak mau bertemu dengannya, Bi."


"Saya sudah mengatakannya, Nyonya. Tapi Tuan Alex memaksa untuk bertemu."


Bianca pun menghembuskan nafasnya, tak dapat dipungkiri, hatinya sebenarnya masih begitu sakit. Dia pun tak menampik, masih ada rasa cinta di dalam hatinya untuk Alex. Bagaimanapun juga, dia dan Alex sudah menikah selama tujuh tahun, dan melupakan cinta itu begitu saja, bukan perkara yang mudah. Meskipun rasa cinta itu kini sudah tertutup oleh kebencian, tapi masalah hati memang rumit, sulit diurai dengan kata-kata, apalagi dipahami oleh logika.


Bianca kemudian bangkit dari kursi meja makan, lalu melangkahkan kakinya mendekat pada Alex, meskipun rasanya begitu berat bertemu dengan laki-laki itu.


"Ada apa, Alex?" tegur Bianca, Alex yang sedang berdiri menatap halaman mansion Bianca kemudian membalikkan tubuhnya. Dia pun mengulas senyum tipis di bibirnya sembari menatap Bianca dengan tatapan teduh.


"Selamat malam, Bianca."


"Aku tidak ingin mendengar basa-basimu, aku juga sedang tidak punya banyak waktu untuk mendengar ocehanmu. Jadi tolong cepat katakan apa tujuanmu datang ke sini?"


"Bianca, aku hanya ingin meminta maaf padamu, sungguh aku hanya ingin meminta maaf dari hatiku yang paling dalam."


"Cih, kau pikir aku percaya pada kata-kata maaf busukmu itu? Kau berkata seperti itu agar aku kasihan padamu kan? Asal kau tahu Alex, aku sangat membencimu, bahkan kalau saat ini kau mati pun aku tidak peduli."

__ADS_1


"Silahkan saja, Bianca. Kau berhak melakukan itu, kau berhak membenciku, aku memang pantas mendapatkan itu."


"Bagus kalau kau menyadari itu, kalau kau sudah selesai, tolong kau pergi dari rumah ini karena aku sudah sangat muak denganmu! Tolong pergi, dan jangan membuang-buang waktuku! Kesalahan terbesarku adalah bertemu dengan laki-laki menjijikan seperti dirimu!"


"Iya Bianca, aku akan pergi sekarang. Aku hanya ingin meminta maaf, itu saja. Saat kau mengusirku, bukankah aku belum pernah meminta maaf padamu? Aku hanya tidak mau ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatiku. Sekali lagi maafkan aku, aku telah menyia-nyiakan waktumu selama tujuh tahun pernikahan kita dengan cinta palsuku. Aku tidak memintamu untuk memaafkan aku, karena aku sadar, aku memang tidak pantas untuk dimaafkan. Setelah kejadian menyakitkan ini, semoga kau bisa hidup bahagia, Bianca. Terima kasih telah menjadi istri yang baik bagiku. Aku pulang dulu."


Alex kemudian pergi meninggalkan Bianca yang masih berdiri termenung, tatapan matanya kosong sambil menatap sosok Alex yang kini berjalan keluar dari rumahnya. Hatinya masih terasa begitu sakit, malam ini, dia merasakan ketulusan yang terucap dari permintaan maaf Alex, tapi di balik ketulusan itulah yang membuat hatinya justru terasa begitu sakit.


"Bukankah cinta itu penuh warna? Tapi mengapa, aku hanya melihat warna hitam pada cinta yang kurasakan?" gumam Bianca sambil menatap kepergian Alex, sampai sosok itu menghilang dari pandangannya.


Alex yang saat ini berjalan pulang, merasakan tubuhnya begitu lemas. Bahkan beberapa kali terdengar suara dari perutnya. Namun, dia tetap melangkahkan kakinya dengan langkah yang tegap karena saat ini dia sedang meninggalkan Diandra sendirian di rumah, dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Diandra, apalagi saat ini Diandra masih belum bisa mengendalikan emosinya.


"Maafkan aku Bianca, biarpun kau tidak memaafkan aku, tapi setidaknya aku lega, aku sudah meminta maaf padamu."


***


"Kenapa sayang?"


"Mas, lebih baik kita tinggal di sini aja ya, aku ga mau pindah ke Singapura. Aku lagi hamil, Mas. Aku pengen deket sama keluarga kita, ya meskipun orang tua aku belum setuju sama pernikahan kita. Tapi, kita masih punya orang tuamu buat bantu aku setelah aku melahirkan, Mas."


"Iya sayang, kita tinggal di sini aja. Tapi aku mau jual rumah lamaku dulu, nanti kita beli rumah yang baru, tinggal di apartemen kurang nyaman kalo kita udah punya anak, Sayang."


"Iya Mas, tapi apa nggak sayang kalo kamu jual rumah itu?"

__ADS_1


"Nggak Cheryl, terlalu banyak kenangan pahit di rumah itu, terutama tentang rumah tanggaku dengan Diandra."


"Lalu, bagaimana dengan Tante Diandra, Mas? Bukannya rumah itu jadi harta gono gini kalian?"


Mendengar perkataan Cheryl, Gavin pun menghembuskan nafasnya kasar. "Aku harus bicara dengan Diandra dan Alex, aku juga masih belum bisa menerima semua kebohongan yang mereka lakukan padaku, Cheryl."


"Mas kendalikan emosimu."


"Sangat sulit mengendalikan emosiku kalau mengingat mereka berdua, Cheryl."


"Mas...."


"Sayang, aku pergi dulu. Tolong jaga Frizz ya," ucap Gavin sambil mengecup kepala Cheryl.


"Mas kamu mau kemana?"


Namun Gavin tidak membalas pertanyaan Cheryl, dia hanya tersenyum dan keluar dari ruangan itu begitu saja.


"Mas...."


***


Sementara itu, Alex kini sudah sampai di rumah dengan peluh yang bercucuran di tubuhnya, setelah menempuh perjalanan selama satu jam dengan berjalan kaki. Namun, tanpa dia sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang tidak pernah luput mengamatinya sampai dia masuk ke dalam rumah itu.

__ADS_1


Setelah masuk ke dalam rumah, dia kemudian masuk ke dalam kamar Diandra. Di dalam kamar, tampak Diandra masih tidur dengan begitu lelap. Saat akan merebahkan tubuhnya di samping Diandra, tiba-tiba terdengar suara bel yang berbunyi. "Siapa yang datang malam-malam seperti ini?" gumam Alex. Dia kemudian beranjak dari tempat tidurnya, lalu membuka pintu rumah itu.


"Alex, kita perlu bicara."


__ADS_2