Terjerat Pesona Suami Tanteku

Terjerat Pesona Suami Tanteku
Pilihan


__ADS_3

Ketika masih sibuk menenangkan Cheryl, tiba-tiba ponsel Gavin berbunyi. Gavin lalu mengangkat panggilan telepon itu yang berasal dari salah satu staf kantornya.


[Halo, ada apa Vano?]


[Pak Arya mencari anda Pak Gavin, apa anda bisa ke kantor sekarang?]


[Iya Vano.]


Gavin kemudian menutup panggilan telepon itu, lalu memegang wajah Cheryl yang kini terlihat lebih tenang. "Ada apa, Om?"


"Aku ada urusan di kantor sebentar Cheryl, tenangkan dirimu, jangan nyalakan ponsel ataupun berita di televisi. Berbuatlah sesuatu yang menyenangkan, kau bisa mendengarkan musik atau menonton film. Jangan biarkan dirimu sedih, kau harus bahagia. Jangan pernah dengarkan mereka, mereka bisa saja menghakimi kita karena tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Ingat, ini kisah cinta kita, aku, dan kamu, tanpa ada mereka. Kau mengerti kan?"


"Iya Om."


"Aku pergi dulu, Sayang."


Gavin kemudian mengecup kening Cheryl, lalu keluar dari unit apartemen itu, Cheryl menatap kepergian Gavin dengan tatapan yang begitu pilu, dia tahu sesuatu yang buruk kemungkinan akan terjadi, tapi dia juga tidak ingin terlihat sedih agar Gavin tidak mencemaskannya dan bisa menyelesaikan urusannya dengan tenang.


Sementara itu, Gavin yang kini sedang dalam perjalanan menuju kantornya pun merasakan hal yang sama, dia merasa sesuatu yang buruk pasti akan terjadi saat salah satu stafnya mengatakan jika pimpinan perusahaan mereka ingin bertemu, tapi Gavin sudah mempersiapkan hatinya jika ada hal buruk yang bisa saja terjadi. Setengah jam kemudian, Gavin pun sudah sampai di kantornya, dan langsung menuju ke ruangan pimpinannya.


Tok tok tok


"Masuk!"


Gavin kemudian membuka pintu ruangan itu, saat Gavin berjalan masuk ke dalam ruangan itu, tampak Arya menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam.


"Selamat siang, Pak Arya?"

__ADS_1


"Kau kemana saja, Gavin?"


"Maaf Pak, tadi pagi saya ada urusan penting yang tidak bisa saya tinggalkan."


"Urusan penting? Maksudmu pacaran dengan keponakanmu itu? Benar-benar memalukan! Aku malu memiliki karyawan sepertimu, Gavin!"


"Maafkan saya, Pak. Ini benar-benar tidak seperti yang anda pikirkan, karena sebenarnya istri saya yang terlebih dulu berselingkuh, bahkan janin yang ada di dalam kandungannya bukan darah daging saya, Pak."


"Cihhhhh, tidak usah banyak alasan untuk menutupi kesalahanmu! Semua orang juga sudah tahu bagaimana kelakuan bejatmu itu! Apa kau tidak sadar semua sikapmu itu telah memperburuk citra perusahaanku!"


"Maafkan saya, Pak."


"Gavin, aku tahu bagaimana kinerjamu, sekarang aku akan memberikan penawaran padamu. Tenang saja, aku akan tetap mempertahankanmu asal kau meninggalkan selingkuhanmu itu dan memberikan pernyataan kalau semua ini hanyalah salah paham!"


"Maaf Pak, saya tidak bisa melakukan semua itu, saya tidak bisa meninggalkan Cheryl. Dan semua ini benar-benar tidak seperti yang anda pikirkan karena sebenarnya yang terlebih dulu memulai perselingkuhan adalah istri saya, bukan saya Pak. Saya juga punya bukti kalau istri saya sudah membohongi saya sejak awal kami menikah dulu."


"Apa Pak Arya? Saya dipecat?"


"Ya, kau dipecat Gavin! Mulai hari ini kau bukan bagian dari perusahaan ini lagi dan aku sudah tidak mau melihat wajahmu di depanku! Berkemaslah dan angkat kakimu sekarang juga dari perusahaan ini!"


"Tapiii Pak..."


"Tidak ada tapi-tapian! Itulah balasanya kalau kau tidak mau menuruti perintahku! Pergi dari sini sekarang juga atau kupanggilkan petugas keamanan untuk membawamu keluar dari sini!" bentak Arya.


Gavin pun tersenyum, dan mencoba menerima keputusan itu dengan lapang dada. Dia tahu setiap pilihan pasti ada konsekuensinya, termasuk konsekuensi yang dia hadapi saat ini, kehilangan pekerjaan dan jabatan yang telah dia capai dengan penuh perjuangan. Dan Gavin tidak merasa menyesal atas pilihan yang telah dia ambil, karena untuk saat ini, Cheryl dan anak yang ada di dalam kandungannya, jauh lebih berharga daripada apapun. Gavin menatap Arya sejenak, lalu menghembuskan nafas panjangnya.


"Terima kasih, Pak Arya. Terima kasih atas kesempatan yang telah anda berikan pada saya untuk bekerja di perusahaan ini. Saya sadar, saya bukan manusia baik, saya hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Semoga setelah saya pergi, perusahaan ini tidak terkena dampak dari sikap buruk saya, saya pamit Pak Arya."

__ADS_1


Gavin lalu keluar dari ruangan Arya, kemudian masuk ke dalam ruangannya, dan mengemasi barang-barangnya. Setelah selesai berkemas, dia keluar dari ruangannya, lalu berpamitan pada beberapa stafnya. Beberapa dari mereka memang ada yang terlihat sedih, dan memberikan salam perpisahan dan pelukan hangat untuk Gavin. Namun, ada juga yang berbisik sinis padanya.


"Tau rasa tuh Pak Gavin, kena karma dia. Itu tuh balasannya kalo khianati istri sah. Mana pake selingkuh sama keponakan istrinya lagi, dasar ga ada otak!"


"Iya bener, mereka memang manusia ga punya adab, ga punya moral! Wanita secantik Ibu Diandra aja pake diselingkuhin, dasar ga bersyukur!"


"Dan, asal kalian tahu ya, selingkuhan Pak Gavin itu juga lagi hamil loh!"


"Beneran? Jadi Pak Gavin udah buntingin tu bocah juga?"


"Iya."


"Dasar mereka berdua emang ya, ga punya hati. Ga pantes disebut manusia, kelakuan mereka kaya iblis!"


"Iya bener."


Sayup-sayup, Gavin sebenarnya mendengar bisik-bisik yang sedang membicarakan dirinya, lebih tepatnya membicarakan keburukan dirinya dan Cheryl. Tapi, dia berusaha mengendalikan emosinya, dan mencoba berfikir jernih. Ya, mulai saat ini dia harus berfikir jernih untuk mencari penghasilan agar bisa menghidupi Cheryl dan anak yang ada di dalam kandungannya. Dia pun mengabaikan semua itu, memilih bergegas keluar dari kantornya, dan pulang.


Selang setengah jam kemudian, Gavin pun sudah sampai di apartemennya. Sejenak, dia berdiri di depan pintu unit apartemennya. Dia merasa cemas, dia takut jika Cheryl tahu dia sampai dipecat dari pekerjaannya karena sikapnya untuk tetap mempertahankan dirinya, maka akan semakin menambah beban pikiran Cheryl. Gavin mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nafasnya, kemudian baru masuk ke dalam unit apartemen itu. Cheryl yang sedang menemani Frizz menonton kartun pun begitu terkejut melihat Gavin yang membawa sekotak kardus barang-barang miliknya.


"Om, Om kenapa bawa barang-barang Om seperti itu?" tanya Cheryl sambil mengerutkan keningnya.


"Emh, Cheryl..., aku... "


Bersambung....


NOTE: Othor tidak pernah mengatakan kalau Gavin itu seorang CEO loh ya, baca di bab 2, Gavin itu hanyalah seorang manager yang bekerja di sebuah perusahaan konstruksi. Dan mengenai Gavin yang punya sekretaris, di perusahaan besar itu manager juga banyak yang memiliki sekretaris karena sekretaris itu tidak hanya dimiliki oleh seorang CEO, bukankah jobdesk sekretaris itu membantu atasan kerja? So, cari tahu dulu sebelum berasumsi.

__ADS_1


__ADS_2