Terjerat Pesona Suami Tanteku

Terjerat Pesona Suami Tanteku
Restui Kami


__ADS_3

"Sebentar sayang, aku liat dulu!"


Gavin lalu berjalan ke arah balkon kamar, dan melihat ke arah bawah. Di komplek halaman gedung apartemen, kini tampak begitu banyak wartawan tengah melihat ke arah apartemennya.


"Sial, wartawan itu pasti datang ke sini untuk mencari tahu hubunganku dengan Cheryl!" gerutu Gavin. Dia kemudian berjalan masuk ke dalam apartemen lalu mendekat ke arah Cheryl.


"Ada apa, Om?" tanya Cheryl yang melihat kepanikan di wajah Gavin.


"Cheryl, ada banyak banget wartawan di bawah, Sayang. Mereka pasti mau cari tau tentang kita!"


"Terus kita gimana, Om?"


"Kita harus pergi dari sini, Cheryl. Ini bukan tempat yang aman lagi."


"Pergi kemana?"


"Ke rumah orang tuaku."


Cheryl kemudian menggangukkan kepalanya. "Kita pergi kalo wartawan itu udah lengah ya, Sayang. Kalo sekarang masih terlalu berbahaya."


"Iya Om," jawab Cheryl sambil menggigit bibir bawahnya. Melihat kepanikan di wajah Cheryl, Gavin kemudian menarik tubuh Cheryl agar naik ke atas pangkuannya, lalu memeluknya dan mengelus punggungnya.


"Everything is gonna be okay, believe me! Cheryl, dengarkan aku."


"Terkadang ada begitu banyak hal di luar dugaan kita, di luar kendali kita, bahkan jauh dari ekspektasi kita. Tapi kita tetap harus berdamai dengan fakta, karena hidup ini memang rumit. Dan di kehidupan yang rumit ini, kau tidak perlu memikirkan penilaian orang lain terhadapmu. Because it's about you, not they. Pada akhirnya kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu pilih dan tentukan, dan respons orang lain bukan penentu, karena yang tahu bagaimana kamu, itu dirimu sendiri. Belum tentu orang yang saat ini sedang menghakimi kita, menghina kita, dan berfikiran buruk pada kita, itu jauh lebih baik daripada kita. Ikuti saja alur semesta hingga suatu saat nanti, biarkan mereka ditampar oleh kebenaran yang pada akhirnya membuat mereka malu pada kebenaran itu sendiri."


Gavin kemudian membelai wajah Cheryl sambil menatap wajahnya dengan tatapan begitu hangat. "Kamu ngerti kan, Sayang? Aku yakin kita pasti bisa lewatin ini semua, dan biarkan mereka semua menghakimi kita. Saat mereka tahu kebenaran itu, di saat itulah kita bisa berjalan dengan kepala tegak, karena kita tidak pernah membalas apa yang mereka lakukan pada kita, dan membuat mereka malu pada dirinya sendiri."


Setelah menyelesaikan kata-katanya, Gavin kemudian mengecup kening Cheryl, lalu turun ke hidung, bibir, dan menempelkan kening mereka, seraya berucap lirih. "I love you."

__ADS_1


Wajah Cheryl pun bertemu merah, rasa cemas, takut, dan gundah yang ada di dalam hatinya, seakan kini luntur. Laki-laki yang ada di depannya saat ini memang bisa membuat moodnya jadi lebih baik, dan Cheryl tidak pernah menyesali pilihannya pada Gavin, meskipun saat ini seluruh dunia membencinya, dan dia tak peduli itu. Karena kehidupan ini, sejatinya dia yang menjalani, dan kenyamanan yang saat ini dia rasakan jauh lebih berharga daripada apapun.


"Cheryl, lebih baik kita berkemas sekarang," ucap Gavin yang membuyarkan lamunan Cheryl. "Iya Om."


Mereka lalu mengemasi barang-barang mereka, setelah itu, Gavin berjalan ke arah balkon untuk melihat bagaimana kondisi saat ini di bawah. "Gimana, Om?"


"Cukup aman, Cheryl. Udah ga banyak yang berkeliaran, kayaknya udah banyak yang tidur."


"Kita pergi sekarang?"


"Iya."


Mereka berdua, lalu terpaksa membangunkan Frizz, meski dengan wajah yang terkantuk-kantuk, Frizz akhirnya pun bangun meskipun kesadarannya belum begitu pulih saat mereka berdua mengajaknya pergi keluar dari unit apartemen itu. Namun, saat mereka baru saja membuka pintu apartemen, tampak Hana dan Rama, orang tua Cheryl berdiri di depan pintu apartemen itu sambil menatap tajam ke arah mereka.


"Mba Hana, Mas Rama," ucap Gavin.


"Mama, Papa."


"Mas, Mba, silahkan masuk."


"Cheryl, kamu liat kan banyak banget wartawan di bawah. Kamu liat kan bagaimana reaksi orang-orang ke kamu? Coba kamu pikir baik-baik Cheryl! Apa kamu masih mau mempertahankan hubungan kamu sama laki-laki seperti itu? Dia nggak baik untuk kamu dan masa depan kamu, Cheryl! Kamu masih punya masa depan cerah kalo mau ninggalin dia!"


"Tapi ma!"


"Mba, Mas, kita ngomong di dalem aja, nggak enak sama penghuni apartemen yang lain kalo suara kita sampe ganggu mereka."


Rama lalu menatap Hana dan menganggukkan kepalanya. Mereka lalu masuk ke dalam apartemen, di saat itu pula, Gavin tampak membisikkan sesuatu pada Cheryl, dan Cheryl pun menganggukkan kepalanya. Dia kemudian masuk ke dalam kamar dan menidurkan kembali Frizz agar tidak mendengar perdebatan mereka nantinya.


"Mau minum apa, Mas, Mba?"

__ADS_1


"Ga usah basa-basi Gavin, kita ke sini cuma mau bawa Cheryl pulang! Ingat, sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi putriku menjalin hubungan sama kamu!"


"Maaf Mba, aku nggak bisa lepasin Cheryl. Kita saling mencintai, lagipula ada anak aku di dalam kandungan Cheryl. Aku ga bisa lepasin Cheryl gitu aja, aku harus bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam kandungan Cheryl."


"Tapi kamu masih jadi suami Diandra, Gavin," sela Rama.


"Aku mau cerein Diandra, Mas."


"Kamu mau ceraikan Diandra? Apa kamu nggak liat dia lagi hamil, Gavin?" balas Hana.


"Maaf Mba, rumah tangga kami memang sudah tidak bisa dipertahankan, karena sudah terlalu banyak kebohongan. Aku tadi sudah hubungin pengacara, dan dia sedang memproses perceraian kami. Lagipula mas sama mba kan tahu, anak yang ada di dalam kandungan Diandra itu bukan anakku, dan aku punya bukti itu dari perhitungan tanggal yang dokter berikan saat kami memeriksakan kandungan Diandra kemarin, bukti itu yang aku jadikan untuk proses perceraian kami. Dan ada lagi salah satu bukti lagi yang aku temukan hari ini, kalau sebenarnya sejak awal pernikahan kami, Diandra sudah tidak jujur padaku."


"Alah, ga usah banyak ngeles kamu Gavin! Pokoknya hari ini juga kalian harus pisah! Aku nggak mau hubungan kalian semakin berdampak buruk buat putriku! Cheryl! Cheryl ayo kita pulang!" teriak Hana.


"Ga bisa gitu mba, mas. Ingat Cheryl sedang hamil, dan itu darah dagingku."


"Aku tidak sudi!"


"Mas Rama, tolong percaya aku. Liat ini mas, liat bukti ini kalau Diandra sudah membohongiku sejak awal kami menikah!" ucap Gavin sambil memberikan sebuah surat yang berisi keterangan tentang operasi keperawanan yang pernah dilakukan oleh Diandra.


Rama kemudian mengambil surat itu, lalu membacanya bersama Hana. "Mba, mas tolong mengerti keadaan kami. Kami saling mencintai, dan cinta itu datang saat rumah tanggaku sudah rapuh dan tidak bisa dipertahankan. Mba sama mas bisa lihat sendiri kan bagaimana sikap Diandra? Selama ini aku udah selalu sabar sama semua sikap dia, tapi apa? Dia sudah curangin aku, bahkan sejak awal kami menikah!"


Hana dan Rama yang membaca surat itu pun begitu terkejut, bahkan tangan Rama pun bergetar saat memegang surat itu, sedangkan Hana tampak menutup mulutnya.


"Mba, mas. Aku ingin menikahi Cheryl, aku ingin menikah dengan Cheryl sekarang juga. Tolong restui kami."


Bersambung...


NOTE:

__ADS_1


Mampir juga ya ke novel bestie othor novelnya Kak Rini Sya, dijamin kalian langsung jadi ibu peri kaya Kak Rini Sya 😩😅😅



__ADS_2