
"Bawa Cheryl pergi, Mba. Aku pengin Cheryl pergi dari kehidupan Mas Gavin. Bawa Cheryl pergi ke suatu tempat yang nggak diketahui Mas Gavin."
"Itu bukan hal yang mudah, Diandra. Kau tahu mereka berdua sangatlah sulit dipisahkan dan begitu keras kepala, apalagi saat ini Cheryl sedang mengandung anak Gavin."
"Bukan cuma Cheryl mba, apa mba lupa kalau aku juga lagi hamil?"
"Tapi bayi yang ada di dalam kandunganmu itu bukan anak Gavin! Sudahlah Diandra, kamu ga usah pake drama lagi ngaku-ngaku itu anak Gavin. Ga ada yang percaya!"
"Terserah deh kalo Mba Hana nggak percaya, aku juga ga minta Mba Hana percaya. Aku cuma butuh bantuan Mba Hana karena tujuan kita sama, misahin Mas Gavin sama Cheryl. Dan aku ga bisa lakuin sendiri tanpa bantuan dari Mba Hana."
Hana pun terdiam, lalu menghembuskan nafas panjangnya. "Memangnya apa yang mau kamu lakukan? Ingat, aku tidak mau putriku tersakiti!"
"Aku juga nggak bilang mau menyakiti Cheryl, Mba. Aku cuma mau misahin mereka biar ga lanjutin hubungan mereka lagi, Mba. Tapi aku ga bisa lakuin ini sendiri. Mba Hana harus bantu aku!"
"Apapun akan kulakukan agar mereka bisa berpisah, Diandra! Sampai kapanpun aku tidak sudi adik iparku menjadi suami dari putriku!"
Mendengar perkataan Hana, Diandra pun tersenyum. Sedangkan Hana hanya menatap ke arah depan dengan tatapan kosong, dia tahu apa yang akan dia lakukan jika mengiyakan perkataan Diandra itu artinya sama saja menyakiti Cheryl, tapi menurutnya akan jauh lebih baik seperti itu daripada kelak putrinya akan mendapatkan pandangan buruk dari orang-orang karena telah merebut suami dari Tantenya. Dan, Hana tak mau ada hal buruk lainnya yang bisa saja datang pada kehidupan Cheryl, apalagi yang menyangkut masa depannya. Meskipun saat ini dia sedang mengandung darah daging Gavin, Hana tak peduli itu karena keberadaan anak itu bisa dipikirkan seiring berjalannya waktu, dan sekarang yang terpenting adalah memisahkan Cheryl dengan Gavin.
"Mba!" panggil Diandra yang membuyarkan lamunan Hana. Hana pun tersentak, kemudian menatap adiknya.
"Mba, gimana? Mba mau kan kerjasama sama aku?"
"Asal jangan menyakiti putriku!"
"Nggak Mba, karena yang mau kita serang itu psikologisnya."
"Apa maksudmu, Diandra?"
__ADS_1
"Mba, hubungan Mas Gavin itu bukan hal yang mudah, dan pasti dianggap tabu oleh orang-orang sekitar kita. Apalagi Cheryl adalah keponakan Gavin, posisi mereka sangat sulit, Mba. Kita cukup bikin psikologis mereka tertekan, dan akhirnya mereka mau memutuskan hubungan mereka. Dan, di saat Cheryl terpuruk, Mba bawa pergi Cheryl sejauh mungkin dari Mas Gavin, sejauh mungkin ke tempat yang nggak diketahui Mas Gavin. Gimana Mba? Mba Hana setuju kan sama rencana aku?"
"Itulah alasannya aku ingin mereka berpisah, Diandra. Agar Cheryl putriku tidak mendapat pandangan negatif dari orang-orang sekitar."
"Mba benar, dan kita harus memisahkan mereka secepatnya. Kita mulai lalukan rencananya besok."
"Apa rencanamu?" tanya Hana. Diandra kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Hana, membisikkan sesuatu di telinga kakaknya, agar rencana itu tidak didengar oleh kedua orang tua mereka.
***
Keesokan Harinya...
Gavin tampak mengamati sosok mungil yang saat ini sedang sarapan begitu lahap di depannya. Sejenak rasa sesak merasuk ke dalam hatinya saat berbagai pertanyaan menari dalam benaknya. Rasanya dia sangat takut, entah mengapa terkadang kenyataan memang begitu menyakitkan hingga banyak orang yang memilih untuk lari dari kenyataan. Padahal sejatinya kenyataan itu adalah kehidupan yang harus dihadapi, sepahit apapun sebuah kenyataan, kita tak bisa mengelaknya.
Melihat Gavin yang terus menerus menatap Frizz, Cheryl kemudian menggengam tangan Gavin. "Om kenapa? Apa Om khawatir Frizz merindukan Tante Diandra?"
"Lalu?"
Gavin kemudian bangkit dari kursi meja makan, lalu menarik tangan Cheryl agar mengikutinya berjalan je sofa.
"Apa apa, Om?" tanya Cheryl saat mereka sudah duduk di sofa.
"Cheryl, tadi malam Frizz memberitahu aku kalau ternyata Alex pernah memanggilnya dengan sebutan putraku."
"Apa?"
"Iya Cheryl, tadi malam dia yang mengatakan seperti itu padaku."
__ADS_1
"Dan Om meragukan dia anak kandung Om?"
Gavin terdiam, sebenarnya dia ingin mengatakan tidak dan menampik semua kecurigaan itu, karena yang dia tahu saat malam pertamanya dengan Diandra, dia yang merenggut mahkota dari istrinya itu. Tapi, semua terasa begitu teka-teki baginya, karena Alex pasti memiliki alasan memanggil Frizz dengan sebutan putranya.
"Apa aku salah kalau aku melakukan tes DNA padanya? Apa aku telah menjadi orang tua yang jahat kalau aku melakukan tes DNA padanya?"
Cheryl pun terdiam, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak Om, setelah apa yang Om alami, Om berhak melakukan itu. Apalagi ada pengakuan dari Frizz kalau Alex memanggilnya dengan sebutan putranya." Gavin kemudian menganggukan kepalanya. "Cheryl bukankah kemarin kau mengatakan kalau dulu Diandra sering pergi berlibur bersama Alex saat mereka masih pacaran?"
"Iya Om, memangnya kenapa?"
Gavin tak menjawab, hanya menarik sudut bibirnya sambil menggengam tangan Cheryl. "Nggak apa-apa, Sayang. Aku berangkat ke kantor dulu ya."
"Iya Om."
Gavin kemudian mengecup kening Cheryl, lalu turun ke hidung, dan terakhir ke bibirnya, mengecup sebentar lalu memaggutnya perlahan dengan begitu lembut.
"Om, ada Frizz!" protes Cheryl sambil melepaskan ciuman mereka. Gavin pun terkekeh. "Aku berangkat dulu, Sayang."
Cheryl menganggukkan kepalanya, sambil menatap Gavin pergi dari ruangan itu. Sementara itu Gavin yang sedang berjalan di koridor apartemen, kini mulai dihinggapi perasaan yang semakin berkecamuk. Bukan hanya tentang jati diri Frizz, tapi juga dia mulai meragukan Diandra.
'Bukankah Cheryl mengatakan kalau dulu Diandra sering berlibur bersama Alex? Bukan hal yang mustahil saat mereka berlibur, mereka sering melakukan hubungan layaknya suami istri, tapi kenapa saat dia menikah denganku, dia masih perawann? Ah shittttt! Kenapa jadi penuh teka-teki seperti ini?' batin Gavin sambil merasakan amarah di dalam dadanya.
***
Sementara itu, Amara yang tampak berjalan di dalam koridor sebuah mansion tampak berdecak kagum pada isi dalam mansion bergaya Victoria yang dipenuhi barang-barang mewah, di belakang Amara tampak dua orang lelaki berjalan sambil menunjukkan arah kemana Amara harus berjalan. Hingga akhirnya dia tiba di depan sebuah ruangan. Dua orang laki-laki di belakang Amara lalu membuka pintu ruangan itu. Setelah pintu itu terbuka, tampak sebuah ruang kerja berdesain minimalis yang juga dipenuhi oleh barang-barang mewah di dalamnya.
"Cepat masuk!" perintah dua orang laki-laki yang ada di belakang Amara sambil memelototkan matanya. Amara pun menelan salivanya dengan kasar lalu menuruti perintah dua orang laki-laki itu, meskipun dengan langkah ragu.
__ADS_1
"Bos, orangnya sudah datang!" sahut salah seorang laki-laki itu saat Amara berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut. Jantung Amara pun berdegup begitu kencang, apalagi seseorang yang duduk di kursi kerja yang ada di dalam ruangan itu, tampak membalikkan kursi kerjanya.