
Jantung Gavin pun seakan berhenti berdetak seolah ada yang menghujamnya, hingga membuat tubuhnya menegang. Sejenak dia pun hanya terdiam dan masih berusaha mencerna perkataan Frizz. Tapi, Gavin mencoba untuk tetap tenang karena bagaimanapun juga Frizz adalah anak kecil yang masih polos, dan dia tidak bisa begitu saja menarik kesimpulan dari perkataan Frizz. Gavin kemudian menatap putranya begitu lekat, disertai berbagai tanda tanya yang kini menari di dalam benaknya mengenai jati diri Frizz. Sebenarnya Gavin berusaha menampik pikiran buruk yang hinggap di kepalanya, tapi bukankah tidak mungkin Frizz bicara tanpa sebab? Juga tidak mungkin Alex memanggil Frizz dengan sebutan putranya jika tanpa alasan? Gavin pun menghembuskan nafas panjangnya, dan mencoba menenangkan hatinya.
"Pa...., papa kenapa?" tanya Frizz.
"Pa? Apa maksud dari putraku?"
"Putra itu anak Frizz, kau putraku. Kau anakku, Frizz paham kan?"
"Tapi kenapa Om itu juga panggil Frizz putranya, Pa? Bukannya Frizz cuma anaknya Papa?"
Gavin pun tersenyum. "Frizz, kau anak yang pintar, dan semua orang pasti ingin menganggap anak yang baik dan pintar seperti dirimu sebagai putranya."
"Tapi Frizz ga mau dianggap jadi anaknya Om itu, Frizz maunya jadi anak Papa aja! Frizz maunya jadi anak papa aja!"
Gavin kemudian menganggukkan kepalanya, lalu memeluk tubuh mungil Frizz, sebuah pelukan hangat yang saat ini terasa menyakitkan. Bukannya dia tidak menyayangi Frizz, tapi apa yang baru saja dia dengar dari Frizz, mau tidak mau membuat pikiran buruk kini bersemayam di dalam otaknya, meskipun dia berusaha berulang kali menampiknya. Gavin mengusap lembut punggung Frizz lalu mencium bahunya, cukup lama dia memeluknya, hingga saat Gavin melepas pelukan itu, ternyata Frizz sudah tertidur. Dia kemudian melirik ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Ternyata sudah malam, pantas saja dia sudah tidur," gumam Gavin. Dia mengangkat tubuh Frizz, lalu merebahkannya di atas ranjang, kemudian Gavin tampak mencabut salah satu rambut Frizz lalu memasukkan ke saku bajunya. Bertepatan dengan itu pula, Cheryl tampak bangun dari tidurnya.
"Sayang, kamu udah bangun?"
Cheryl menganggukkan kepalanya. "Aku udah tidur lama banget, sejak tadi sore kita sampe di sini, aku langsung tidur. Kasian Om pasti cape urus Frizz sama bersih-bersih apartemen ini sendiri kan?"
"Gapapa sayang, kamu ga usah bantuin aku. Kamu cukup istirahat aja!"
__ADS_1
"Tapi Om..."
"Ga ada tapi-tapian," jawab Gavin kemudian mencium bibir Cheryl, mellumat, dan menyesap bibir mungil ini cukup lama, hingga mereka melepaskan ciuman mereka saat nafas mereka begitu menderu.
"Aku kangen banget sama kamu, Sayang."
"Aku juga Om. Tapi aku belum mandi, pasti lengket."
"Ya udah kalo gitu kita mandi bareng!"
"Apa?"
"Iya mandi bareng, Sayang. Kaya waktu di hotel, kamu mau kan?"
Hari ini memang terasa begitu buruk, meskipun tak dapat dipungkiri jika dia merasa sangat lega bisa menceritakan hubungannya antara dirinya dengan Cheryl pada semua orang, tanpa ada sesuatu yang ditutupi. Karena sebenarnya Gavin pun sudah lelah, lelah berpura-pura di depan semua orang kalau rumah tangganya baik-baik saja, padahal sebaliknya. Tapi meskipun hari ini terasa begitu kacau, seperti biasanya, kehadiran Cheryl seolah menguatkan dirinya, membuatnya merasakan kebahagiaan, dan sejenak melupakan semua masalah yang kini terasa begitu berat di pundaknya.
Dia kemudian mengangkat tubuh Cheryl, lalu mereka masuk ke dalam kamar mandi. Dia kemudian menyalakan shower agar dessahan dan teriakkan mereka tidak didengar oleh Frizz, karena Gavin belum menyiapkan kamar untuk Frizz di apartemen itu, jadi untuk malam ini terpaksa mereka tidur dalam satu kamar yang sama.
Dessahan nafas itu kembali terdengar secara bersamaan saling berlomba dengan suara gemercik air shower kamar mandi yang mendominasi ruangan berdinding marmer itu. Hentakan demi hentakan dari Gavin membuat Cheryl berulang kali berteriak, errangan dan leguhhanan terus keluar dari mulut Cheryl setiap kali Gavin menghentak dengan keras. Untung saja mereka sudah menyalakan shower, kalau tidak mungkin Frizz akan bangun dan melihat apa yang mereka lakukan. Entah mengapa malam ini Gavin pun terasa begitu bersemangat, mungkin setelah apa yang dia lalui hari ini mempengaruhi emosinya hingga membuat hasrat itu begitu meledak-ledak.
"Om, pelan-pelan. Aku lagi hamil."
"Astaga, maaf sayang. Aku lupa."
__ADS_1
Kedua tangan Cheryl kini berpegangan erat pada dinding kamar mandi saat Gavin kembali menciumi seluruh permukaan tubuhnya masih dengan gerakan disertai gerakan yang menghujam di bawah, sesekali kedua tangannya memainkan dua bukit kenyal milik Cheryl. Cukup lama mereka saling bergumul dan menyalurkan hasrat masing-masing hingga pada akhirnya mereka berhasil mencapai klimmaks secara bersamaan diiringi legguhan panjang diantara keduanya.
Mereka kemudian terduduk lemas di atas lantai karena merasa begitu lelah, namun detik selanjutnya Gavin tampak menggendong dan membawa Cheryl berendam bersama di bathtub yang dipenuhi air dingin.
"Om kok nggak berendam pake air anget aja sih?"
"Sayang kalau habis bercinta sebaiknya memang jangan pakai air anget, nanti bisa kena infeksi soalnya kondisi punya kamu masih kebuka dan bakteri masih bisa gampang masuk kalau berendam pakai air anget."
"Beneran? Kok aku baru tahu sih."
Gavin kemudian mengangguk kecil, mereka lalu berendam di dalam bath tub sambil membersihkan badan mereka masing-masing. Tanpa mereka sadari ponsel Gavin berulang kali berdering. Seorang wanita di ujung sambungan telepon, kini tampak begitu marah saat panggilan teleponnya diabaikan begitu saja oleh Gavin. Dia kemudian menatap seorang wanita yang usianya jauh lebih tua darinya yang saat ini sedang duduk di samping brankarnya.
"Mba Hana! Mba liat sendiri kan? Mas Gavin udah ga mau jawab telepon dari aku! Dia pasti lagi mesra-mesraan sama Cheryl!"
"Terus kamu mau coba bunuh diri lagi kaya tadi? Kamu nggak usah coba-coba bunuh diri lagi deh, kalo nggak aku panggil satpam biar mereka aja yang jagain kamu. Tuh kasihan Mama sama Papa yang kelelahan jagain kamu yang kaya anak kecil!" balas Hana sambil melirik ke arah Adam dan Ranti yang kini sudah tertidur di atas ranjang jaga pasien.
"Mba, kalo Mba Hana ga pengen sesuatu yang lebih buruk terjadi, Mba harus bantuin aku Mba!"
"Bantuin kamu apa? Bikin Gavin suka lagi sama kamu? Jangan ngimpi Diandra! Apa kamu ga liat gimana sikap Gavin sama kamu sekarang? Lagian awal masalah ini dari kamu Diandra! Kalau kamu ga selingkuh, ga bakalan kaya gini jadinya! Anakku Cheryl juga ga mungkin pacaran sama suami kamu kalo hubungan kalian baik-baik aja!"
"Karena itulah, Mba! Mba Hana harus bantuin aku! Mba ga mau kan Cheryl nikah sama Gavin?"
Seketika Hana pun terdiam. "Mba! Mba Hana harus bantuin aku biar Gavin bisa putus sama Cheryl! Sebelum mereka nikah, mba mau kan bantuin aku?" rancau Diandra.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?"