
"Terima kasih, Bianca."
"Alex, aku sedang tidak ingin banyak berbasa-basi. Aku menemuimu hanya ingin menawarkan pekerjaan untukmu, meskipun kau telah banyak menyakitiku. Tapi, bagaimanapun juga kau banyak berjasa pada perusahaanku. Dan aku cukup tahu bagaimana hidupmu saat ini dengan Diandra, kau pasti membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi mereka, iya kan?"
"Jadi kau mau memberiku pekerjaan, Bianca? Maaf Bianca, setelah semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu, sepertinya aku tidak pantas mendapatkan sedikitpun kebaikan darimu."
"Kebaikan? Aku sama sekali tidak bermaksud baik padamu, aku hanya memikirkan nasib bayi yang ada di dalam kandungan Diandra, kalau kau tidak bisa bekerja, bagaimana nasibnya? Kau pikir setelah semua kejadian yang kalian alami, apa masih ada yang menerimamu bekerja? Tidak Alex, mereka tidak akan pernah mau!"
Alex pun hanya tertunduk mendengar perkataan Bianca. "Jadi bagaimana? Kau mau menerima pekerjaan dariku atau tidak? Maaf, waktuku tidak banyak Alex."
"Ba-baik, Bianca. Aku mau menerima pekerjaan itu, apa yang harus kukerjakan?"
"Aku memberimu dua pilihan, Alex. Sebagai cleaning service di kantor atau tukang kebun di rumahku?" tanya Bianca sambil mengangkat satu alisnya.
Deg...
Alex pun terkejut mendengar pilihan yang diberikan oleh Bianca, tapi dia sudah mengiyakan tentang pekerjaan itu. Jika dia mengurungkan niatnya, pasti Bianca akan tersinggung, lagipula memang apa yang dikatakan oleh Bianca itu benar jika saat ini pasti sangat sulit untuk mencari pekerjaan di tengah situasi yang sedang dialami olehnya.
"Bagaimana Alex? Kau mau pilih yang mana? Menjadi OB di kantor, atau tukang kebun di rumahku?"
"Menjadi tukang kebun di rumahmu saja, Bianca."
"Pilihan yang bagus, Alex. Besok kau bisa mulai bekerja. Ini sudah kubelikan makanan untukmu," sahut Bianca sambil memberikan satu kantong makanan yang dibelinya di cafe itu. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu meninggalkan Alex yang masih termenung menatap kepergiannya.
"Maafkan aku, Bianca. Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah berpaling dari cintamu. Dan tahukah kau, alasan aku memilih pekerjaan itu? Karena setidaknya di rumah itu aku masih bisa mengenang kebahagian yang pernah kurasakan saat bersamamu dulu. Ya, dulu karena waktu sudah tak bisa lagi diputar, bahkan hanya untuk sekedar menyesali kesalahan."
Sementara itu, sebenarnya Bianca buru-buru pergi meninggalkan Alex hanya untuk menutupi air mata yang kini mengalir membasahi wajahnya.
"Saat kau sudah hidup dengan wanita lain, aku masih saja di sini. Terkurung dalam kenangan dan sebuah rasa hingga mengabaikan logika. Hatiku kini seakan mati rasa, bahkan aku tidak tahu harus merasa bahagia atau sedih."
***
"Sayang, aku pergi sebentar ya," ucap Gavin sambil mengecup kening Cheryl.
"Iya Mas. Hati-hati di jalan."
"Kamu mau aku beliin apa, Sayang?"
"Ga mau beli apa-apa, cuma pengin ditungguin aja. Jangan lama-lama ya, Mas. Kalo urusan jual beli udah selesai, cepet balik lagi ke sini."
"Iya sayangku, istriku yang paling cantik tiada tara, pasti udah kangen squishy-nya buat aku mainin lagi ya?"
"Ihhhhh Mas Gavin, udah buruan sana pergi!" gerutu Cheryl. Gavin pun terkekeh, lalu keluar dari ruang perawatan itu.
Saat berjalan menyusuri koridor rumah sakit, tiba-tiba langkah Gavin terhenti saat melihat sosok yang cukup dikenalnya. "Mba Hana? Mba Hana ada di rumah sakit ini?" gumam Gavin.
Gavin pun berniat berbicara dengan Hana tentang hubungannya dengan Cheryl, akhirnya dia pun mengikuti langkah Hana yang saat ini berjalan menuju ke halaman rumah sakit.
"Mba Hana!" panggil Gavin, namun Hana sepertinya tidak mendengar panggilan Gavin, dia tetap berjalan keluar dari rumah sakit dengan tatapan sedikit kosong, bahkan tanpa memperhatikan kondisi sekitar.
__ADS_1
"Mba Hana, minggir Mba!" teriak Gavin, sambil berlari ke arah Hana, dan menarik tubuhnya takkala Hana hampir saja diserempet oleh sebuah mobil yang baru saja keluar dari arah basemen.
Hana yang terkejut tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh Gavin pun kaget saat melihat Gavin yang saat ini sudah berdiri di sampingnya. "Gavin!" pekik Hana.
"Mba Hana kenapa sih? Jalannya kok nglantur gitu?"
"Kamu mau jadi pahlawan kesiangan, hah? Kamu pikir karena kamu udah selametin aku, aku bakalan restui hubungan kamu sama Cheryl? Nggak bakalan, Gavin!"
"Nggak Mba, bukan itu maksudku. Memang awalnya saat aku liat Mba Hana di rumah sakit ini, aku pengen ngomong sama Mba, tapi berulang kali aku panggil Mba Hana kayaknya nggak denger, sampe liat Mba Hana mau ketabrak mobil kaya tadi. Mba Hana lagi mikirin sesuatu? Atau mikirin hubungan aku sama Cheryl, Mba?"
"Itu salah satunya," jawab Hana dengan tatapan kosong.
"Salah satunya? Mba lagi punya banyak masalah? Kita duduk dulu yuk, Mba!"
"Aku lagi nungguin Papa sama Mama di rumah sakit ini, aku nggak punya banyak waktu, Gavin. Aku juga harus cari biaya tambahan buat operasi Papa."
"Jadi Papa sama Mama dirawat di rumah sakit Ini, Mba?"
Hana pun menganggukkan kepalanya. "Astaga, Papa sama Mama sakit apa?"
"Papa tiba-tiba kena serangan jantung, sedangkan Mama, penyakit darah tingginya kumat."
"Mba kita duduk dulu yuk, kita harus bicara."
Hana pun akhirnya menganggukkan kepalanya, mereka kemudian duduk di bangku taman yang ada di rumah sakit tersebut. "Mba maafin aku, maaf kalo hubunganku sama Cheryl udah bikin mba sama keluarga malu, tapi ini masalah hati, Mba. Rasa cinta yang kami rasakan udah terlalu dalam, maaf jika ini terdengar egois. Tapi meskipun dunia memusuhi kami, kami nggak peduli. Yang kami tahu, kami saling mencintai, dan selalu ingin bersama. Itu saja."
Hana pun terdiam, setetes air mata kini lolos begitu saja membasahi wajahnya. "Mba, maafkan aku."
"Maaf mba, meskipun Mba Hana belum bisa restui hubungan kami, tapi aku janji akan selalu bahagiain Cheryl. Meskipun bagi Mba Hana janjiku ini seperti janji seorang pecundang, aku nggak peduli Mba. Karena bagiku yang terpenting adalah kebahagian Cheryl, senyuman di wajah Cheryl."
Hana pun terdiam, perasaannya begitu berkecamuk mendengar perkataan Gavin. 'Benar kata Gavin, kebahagiaan dan senyuman di wajah Cheryl,' batin Hana.
"Mba..."
Hana kemudian menoleh pada Gavin. "Mba tadi ngomong butuh biaya untuk pengobatan Papa sama Mama?"
"Untuk Papa Gavin, karena Papa harus dioperasi."
"Jadi Papa harus dioperasi?"
Hana kemudian menganggukan kepalanya. "Mba, aku mau jual apartemen, memang aku mau buka usaha dari penjualan apartemen itu. Dan kebetulan masih ada sisa dari yang mau aku pakai buat buka usaha, Mba. Jadi, biar aku aja yang bayar biaya operasi Papa."
Hana menatap tajam pada Gavin. "Jadi maksudmu kamu mau suap kami dengan uangmu itu?"
"Nggak Mba, bagaimanapun juga Papa masih mertuaku, masih jadi bagian tanggung jawabku, juga sebagai wujud baktiku. Bukankah kita keluarga? Lagipula, aku juga udah janji mau bahagiain Cheryl, aku ingin Cheryl bisa selalu tersenyum. Cheryl sangat menyayangi kalian, aku nggak mau Cheryl sedih kalau tahu Opa-nya sakit."
Hana masih terdiam, hanya ada isak tangis yang keluar dari bibirnya. "Ya udah Mba, aku pergi dulu ya. Aku mau ke apartemen dulu, nanti biar aku aja yang urus admnistrasinya. Mba bisa temuin Cheryl di dalem, dia kangen sama Mba Hana."
Gavin kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Permisi mba, aku pergi dulu," ucap Gavin seraya meninggalkan Hana yang masih menangis.
__ADS_1
"Cheryl, Gavin. Maafkan aku."
***
Sementara itu, Alex yang sudah sampai di rumah tampak berulang kali memanggil Diandra, tapi rumah itu tampak begitu sepi.
"Diandra... Diandra..."
"Diandra!" panggil Alex saat memasuki kamar mereka, namun kamar itu kosong, bahkan saat Alex mencarinya di dalam kamar mandi pun tak ada sosok Diandra di dalamnya. Alex kemudian mencari ke seluruh ruangan yang ada di rumah tersebut, dan tidak juga menemukan keberadaan Diandra.
Alex yang merasa putus asa, kemudian keluar dari rumah itu, mencoba menyusuri jalanan di sekitar komplek. Hingga tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat sosok Diandra yang sedang berjalan dan tidak mempedulikan keadaan sekitar.
"Diandra!" panggil Alex, dia kemudian menarik tubuh Diandra yang hampir saja tertabrak oleh sebuah mobil.
"Diandra! Kamu nggak boleh keluar rumah sendirian, ayo kita pulang, Sayang."
Namun Diandra hanya tertawa terbahak-bahak , sambil menyayikan sebuah lagu.
****
Hana berjalan ke arah ruang perawatan Cheryl, langkahnya terhenti sejenak saat berada di depan pintu ruang perawatan itu. Rasa ragu sekaligus malu, menyatu jadi satu saat berdiri di ambang pintu. Namun, Hana menghalau semua perasaan itu, bagaimanapun Cheryl adalah putrinya, dan dia harus menyelesaikan semua yang terjadi antara dia dan Cheryl.
CEKLEK
Pintu perawatan itu pun terbuka, Cheryl yang sedang memainkan poselnya tampak terkejut saat melihat kedatangan Hana yang tampak berderai air mata.
"Mama..."
Hana semakin mendekat ke arahnya, lalu tiba-tiba memeluk tubuhnya. "Cheryl maafkan Mama..."
Cheryl pun tertegun sejenak, rasanya dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Hana. "Mamaaaa..."
"Cheryl maafkan mama.."
"Jadi mama?"
Hana menganggukan kepalanya. "Iya sayang, Mama merestui hubunganmu dengan Gavin."
"Be-benarkah? Makasih ma..."
"Maaf kalo mama pernah berbuat hal yang tidak baik pada kalian, Sayang."
"Gapapa ma, itu semua sudah berlalu. Maafin Cheryl juga ya ma, udah kecewain papa sama mama."
"Kalau ini ada hubungannya dengan masalah hati, mama bisa apa, Cheryl? Bukankah memang masalah hati itu memang rumit?" balas Hana, dia kemudian melepaskan pelukannya dari Cheryl, lalu menatapnya, menyeka air mata di wajah putrinya, lalu menarik kedua sudut bibir Cheryl dengan tangannya, agar membentuk senyuman di wajah Cheryl.
"Ini yang paling penting, senyuman di wajah kamu, dan kebahagiaan di hati kamu, Sayang."
"Hahahahaha..., Mama..."
__ADS_1
Bersambung...