Terjerat Pesona Suami Tanteku

Terjerat Pesona Suami Tanteku
Earphone


__ADS_3

Amara merasakan tubuhnya saat ini begitu lemas dan juga bergetar, dia benar-benar tidak menduga hal seburuk ini akan terjadi padanya. Tapi, inilah kenyataannya, kenyataan yang harus dihadapi jika saat ini dia telah ditipu oleh temannya.


Beberapa hari yang lalu, Amara memang menitipkan semua uangnya pada salah seorang temannya yang bernama Kinan untuk investasi pada bisnis temannya itu. Amara tidak tahu jika Kinan ternyata telah bangkrut, dan orang itu ternyata tidak hanya menipu Amara tapi ada beberapa orang lainnya. Dan, Amara baru saja dihubungi oleh salah seorang temannya yang juga ikut tertipu oleh Kinan, yang sudah membawa uangnya itu.


Perasaan Amara pun begitu kacau, dia benar-benar bingung akan nasib dan masa depannya. Saat dia mengundurkan diri dari pekerjaannya dulu, Gavin sudah memblack list dirinya, dan dia yakin untuk saat ini pasti tidak ada yang mau menerima dia bekerja. Dan saat dia akan memulai usaha dengan uang yang didapat dari Diandra dan Alex, uang itu hilang begitu saja. Saat ini kepalanya terasa begitu berdenyut seakan mau pecah, tapi nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi, penyesalan memang selalu datang terlambat dan dia hanya bisa meratapi nasibnya saat ini.


"TIDAKKKK..."


***


Gavin yang baru saja keluar dari kamar mandi, mendekat ke arah Cheryl yang sedang mengeringkan rambutnya, kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Cheryl lalu menciumi ceruk lehernya.


"Masssss...."


"Lagi?"


"Mas, ngomong apa sih? Nanti bisa ketinggalan pesawat."


Tapi Gavin mengabaikan perkataan Cheryl dan tetap menciumi leher Cheryl. "Mas, apa-apaan sih? Nanti kalo ada Frizz gimana? Aku belum bangunin Frizz, Mas. Sambung nanti kalo udah sampe di Singapura aja deh!"


Akhirnya Gavin pun berhenti, dia kemudian membalik tubuh Cheryl lalu manatapnya dengan tatapan hangatnya yang membuat wajah Cheryl merona. "Mas, apaan sih?"


"Aku udah ga sabar sampe di Singapura, mau cobain sensasi yang beda di sana. Siapa tau teriakkan kamu lebih kenceng. Hahahahahaha..."


"Mas, apaan sih!" teriak Cheryl.


"Udah ah, mau bangunin Frizz dulu, takut kesiangen," sambung Cheryl sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar mereka.

__ADS_1


"Sebentar sayang."


"Apalagi, Mas...." protes Cheryl.


Gavin kemudian mendekat ke arah Cheryl sambil membawa sesuatu. "Sayang, kalau kamu keluar rumah, tolong pake ini."


Cheryl menatap benda yang diberikan oleh Gavin, berupa masker dan earphone. "Buat apa ini, Mas?"


"Pake aja, Sayang," jawab Gavin sambil tersenyum, melihat senyum di wajah Gavin, raut wajah Cheryl yang awalnya ceria pun berubah sendu. "Mas, sebenarnya ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi lagi? Apa Tante Diandra berbuat sesuatu lagi, Mas? Apa Tante Diandra ngadain konferensi pers lagi? Pasti sesuatu yang lebih buruk terjadi kan, Mas?"


Gavin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, namun Cheryl tahu, di balik senyum itu Gavin sedang menutupi sesuatu hal yang buruk hingga menyuruhnya memakai earphone saat keluar rumah. Memang, tadi malam setelah melihat berita Diandra yang mencoba melakukan usaha bunuh diri, Gavin berinisiatif membelikan earphone besar untuk Cheryl agar bisa dipakai olehnya saat keluar rumah, jadi saat di luar sana ada yang membicarakannya, Cheryl tidak mendengarnya.


"Gapapa sayang, ga ada suatu hal buruk yang terjadi kok, kamu tahu sendiri kan aku lagi membatasi kamu interaksi sama dunia luar, demi anak yang ada di dalam kandungan kamu. Kamu ngerti kan sayang? Ini semua demi buah cinta kita."


"Iya Mas," jawab Cheryl yang kini mulai meneteskan air matanya. Gavin kemudian menghapus air mata itu, lalu mengecup bekas air mata di wajah Cheryl, menempelkan kening mereka sambil mengucap kata, "I love you."


"Ingat sayang, ini kisah cinta kita, hanya ada aku dan kamu... "


"Tanpa ada mereka..." sambung Cheryl sambil terisak.


Gavin kemudian memeluk Cheryl, dan membiarkan istrinya itu menangis dalam pelukannya, sambil mengusap punggungnya seraya membisikkan kalimat yang menenangkan di telinganya. Beberapa saat kemudian, Cheryl yang sudah jauh lebih tenang, kemudian melepaskan pelukannya dari Gavin.


"Udah mas, aku baik-baik aja kok. Ini memang takdir yang harus kita lewatin, semua ada resiko atas pilihan yang kita ambil, aku gapapa mas. Emang faktanya aku udah rebut suami tanteku. Kalo orang-orang mau hujat aku ya gapapa, emang kenyataannya gitu. Terlepas dari apa yang dilakukan oleh Tante Diandra, kita juga tetep salah Mas. Udah selingkuh di belakang Tante Diandra, jadi emang ini konsekuensi yang harus kita tanggung. Iya kan?" ucap Cheryl sambil tersenyum. Gavin pun ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, aku ke kamar Frizz dulu," sambung Cheryl. Dia kemudian keluar dari kamar mereka, lalu masuk ke dalam kamar Frizz. Namun, betapa terkejutnya Cheryl saat dia memasuki kamar itu, kamar Frizz tampak sudah kosong. Cheryl yang begitu panik, spontan memanggil nama Frizz sambil mencarinya di tiap sudut kamar.


"Frizz.., Frizz kamu dimana, Sayang!"

__ADS_1


Gavin yang mendengar teriakkan Cheryl kemudian mendekat ikut masuk ke kamar Frizz. "Ada apa, Sayang?"


"Frizz mas, Frizz ga ada di kamar."


"Apa?"


"Iya mas."


"Coba kucari di balkon, siapa tahu lagi ngegame di balkon."


Gavin kemudian mencari ke balkon dan seluruh sudut apartemen, namun dia juga tidak menemukan Frizz.


"Gimana, Mas?"


"Ga ada, Sayang."


"Astaga, terus gimana? Coba cek CCTV, Mas."


"CCTV-nya aku matiin, Sayang."


"CCTV apartemen, Mas!"


"Iya, kita ke sana sekarang!"


Mereka kemudian keluar dari apartemen, saat sedang berjalan di lorong apartemen, tiba-tiba ponsel Gavin pun berbunyi.


NOTE: Mampir ke novelnya Kak Nirwana Asri juga ya dear, dijamin keren abis deh ceritanya, nyesel kalo nggak mampir 😘😍

__ADS_1



__ADS_2