Terjerat Pesona Suami Tanteku

Terjerat Pesona Suami Tanteku
Derita dan Luka


__ADS_3

Selama dalam perjalanan, Gavin pun mencoba menghubungi Diandra. Namun panggilan telepon itu tak kunjung mendapat jawaban.


"Ada apa ini? Kenapa Diandra tidak menjawab panggilan dariku?" gerutu Gavin. Tak berapa lama, dia pun sudah sampai di rumahnya. Dia kemudian bergegas masuk ke dalam rumah tersebut untuk mencari Diandra.


"Diandra!"


"Diandra!"


"Kau ada dimana, Diandra?"


Gavin pun mencari Diandra di dalam rumah itu, namun setelah mencari di seluruh sudut ruangan, termasuk di setiap sisi bagian kamar mereka, Gavin tidak juga menemukan Diandra. Dia kemudian melihat Bi Asih yang saat ini sedang menyirami tanaman di halaman belakang, Gavin lalu mendekat ke arahnya.


"Bi Asih!" panggil Gavin.


Bi Asih yang terkejut melihat kedatangan Gavin kemudian membalikkan tubuhnya. "Selamat siang, Tuan Gavin."


"Bi, Diandra dimana?"


"Oh Nyonya Diandra? Dia pergi ke rumah sakit, Tuan."


"Rumah sakit? Untuk apa, Bi? Bukankah kemarin dia sudah memeriksakan kandungannya?"


"Bukan untuk itu, Tuan. Tapi kemarin Nyonya Diandra mengalami pendarahan."


"Pendarahan?"


"Iya Tuan."

__ADS_1


"Lalu dimana sekarang Diandra dirawat, Bi?"


"Oh, coba tanyakan saja pada suami saya, Tuan. Kemarin suami saya yang mengantar Nyonya Diandra ke rumah sakit."


"Baik bi, terima kasih banyak."


Gavin lalu mendekat ke arah Pak Amat yang saat ini sedang mencuci mobil milik Diandra. "Pak Amat, istri saya dirawat di rumah sakit mana, Pak?"


"Oh, Nyonya Diandra saat ini dirawat di rumah sakit Kasih Ibu, Tuan."


"Oh, baiklah terima kasih banyak Pak Amat."


Gavin kemudian bergegas masuk ke dalam mobilnya, namun saat dia baru saja memasuki mobil itu tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Cheryl?" ucap Gavin. Dia kemudian mengangkat panggilan telepon dari Cheryl. Meskipun saat ini dia masih merasakan emosi yang begitu bergemuruh di dalam hatinya, tapi dia mencoba meredam emosi itu agar Cheryl tidak merasa panik yang semakin menambah beban pikirannya.


[Halo, ada apa sayang?]


[Cheryl, Cheryl, kau kenapa sayang?]


[Ommmmmm... A-aakuuuu... Huuuuuuuu...]


Gavin pun merasa begitu bingung, saat telepon itu terangkat hanya ada teriakan histeris dari Cheryl disertai tangisan yang terdengar begitu menyayat hati.


[Cheryl, Cheryl sayang. Kau sebenarnya kenapa?]


[Ommmmm..... Huuuuhuuuuu.., huuuuu...]

__ADS_1


[Cheryl sayang, sabar sebentar. Om pulang sekarang ya, tunggu Om di apartemen.]


Gavin lalu mematikan panggilan telepon itu lalu bergegas kembali ke apartemennya. Selama perjalanan, Gavin tampak mengendarai mobilnya disertai dengan perasaan yang begitu tak menentu, saat ini yang ada di pikirannya hanyalah Cheryl, dan mengabaikan tentang urusannya sejenak dengan Diandra. Dia merasa begitu cemas dengan keadaan kekasihnya itu, apalagi saat mendengar tangisnya. Gavin benar-benar takut sesuatu terjadi pada Cheryl, karena dia paham Diandra adalah orang yang nekat, dan Gavin pun menyadari kalau keluarga Cheryl masih belum bisa menerima hubungan mereka berdua.


Setengah jam kemudian, Gavin pun sudah sampai di gedung apartemennya. Dia lalu bergegas menuju ke unit apartemennya, dan saat dia membuka pintu apartemen itu, tampak Cheryl saat ini sedang menangis, raut wajahnya terlihat begitu sendu dengan air mata yang membasahi seluruh wajahnya, penampilannya pun terlihat begitu berantakan. Tak hanya itu, kedua tangannya kini juga tampak menutup telinganya. Sedangkan Frizz, ada di dekatnya dan menatap Cheryl dengan tatapan bingung. Gavin pun bergegas mendekat ke arah Cheryl lalu memeluknya.


"Cheryl, kau kenapa sayang?"


"Ommmm, aku takut, Om. Aku malu, aku harus bagaimana, Om? Hu..., hu.., hu..." isak Cheryl dalam pelukan Gavin.


"Malu? Takut? Memangnya apa yang terjadi Cheryl? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Namun, Cheryl hanya terisak. Gavin kemudian menatap Frizz. "Frizz, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba Kak Cheryl seperti ini?"


"Kak Cheryl habis nonton televisi, Pa. Pas liat tivi, tiba-tiba Kak Cheryl nangis."


"Menonton televisi?"


Frizz pun menganggukkan kepalanya, Gavin kemudian menyalakan televisi, lalu melihat wajah Diandra yang masih menghiasi layar televisi tersebut. Pada layar televisi itu, tampak Diandra yang sedang melakukan konferensi pers tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh Gavin dan Cheryl.


"Suami saya, berselingkuh dengan keponakan saya sendiri saat saya sedang hamil. Dan dia dengan teganya meninggalkan saya, dan memilih hidup dengan keponakan saya di apartemen miliknya. Mereka benar-benar pasangan yang tidak memiliki hati nurani. Padahal, awalnya saya mengijinkan keponakan saya untuk tinggal bersama kami karena saya merasa kasihan, dan ingin membantunya. Tapi ternyata, dia menyalah artikan kebaikan saya, dan menikam saya dari belakang. Mereka bahkan sudah sering pergi berdua seakan-akan sedang melakukan bulan madu, sedangkan saya bekerja keras dan merawat putra tunggal kami, hiks.., hiks..," ucap Diandra dalam konferensi pers yang dilakukan olehnya. Dia juga menunjukkan beberapa foto-foto Gavin dan Cheryl yang sedang bermesraan saat berada di Lombok.


"DASAR DIANDRA BRENGSEK! KAU MEMANG KURANG AJAR, DIANDRA!" teriak Gavin. Di saat itulah, dia melihat ponselnya dan ponsel Cheryl yang berulang kali berbunyi. Gavin kemudian mengambil ponsel Cheryl, lalu mematikan ponsel itu.


"Jangan dilihat, Sayang. Jangan dilihat, ini tidak baik untukmu, untuk sementara waktu kau tidak boleh memegang ponsel sampai semua bisa kuatasi."


"Tapi Om, bagaimana...." Cheryl tak bisa melanjutkan kata-katanya, kemudian kembali terisak.

__ADS_1


"Aku tahu, mereka pasti sedang menghakimi kita, mereka pasti sedang menghujat kita, dan mereka pasti sedang menghina kita. Dan aku tidak akan membiarkan mereka menghinamu. Cukup aku yang akan menyelesaikan semua ini, dan tugasmu cukup menjaga anak kita, aku tak ingin kau terluka. Ingat Cheryl, sulit adalah kita. Tapi kisah cinta ini hanya ada aku dan kamu, tanpa ada mereka. Dan kau mau kan melalui alur yang rumit ini?"


Cheryl pun mengangguk, lalu kembali terisak dalam pelukan Gavin. Gavin kemudian mengelus punggung Cheryl, mengecup puncak kepalanya, seraya berkata. "Aku memilihmu, dan akan bertanggung jawab atas hidupmu. Aku memilihmu karena aku mencintaimu, cinta itu begitu indah, meskipun terkadang juga membawa derita. Tapi kau juga perlu tahu, terkadang penderitaan itu juga membuat kita menjadi lebih kuat, anggap saja derita dan luka ini juga sumber kekuatan cinta kita, i love you Cheryl."


__ADS_2