
Hana kemudian mengikuti Gavin dengan mengendap-endap, hingga langkahnya terhenti saat Gavin masuk ke dalam salah satu ruang perawatan. Setelah itu, Hana mendekat ke arah pintu ruang perawatan tersebut, dan membuka sedikit pintunya, dan dari celah kecil pintu itulah dia dapat melihat Cheryl sedang duduk di atas brankar sambil disuapi oleh Gavin, sedangkan Frizz tampak sudah tidur di ranjang tunggu pasien yang ada di ruangan itu.
"Cheryl dirawat di rumah sakit ini? Jadi Cheryl dan Gavin mengurungkan niat mereka untuk pergi ke Singapura? Apa ini ada hubungannya dengan kondisi Cheryl yang memburuk? Ya, tampaknya seperti itu. Aku yakin, Cheryl seperti itu pasti akibat pemberitaan yang menyudutkan dirinya. Oh Cheryl, malang sekali nasibmu. Seharusnya kamu bisa hidup bahagia, Nak. Tapi kamu udah salah pilih, karena pilihanmu hanya akan berujung pada penderitaan, kaya sekarang. Gavin bukanlah pilihan terbaik, dan pernikahan kalian bener-bener udah bikin mama semakin malu. Kita lihat aja kedepan, Nak. Mama yakin pernikahan kalian pasti nggak akan berjalan lancar, karena pernikahan kalian berjalan di atas luka."
Hana kemudian menghembuskan nafas panjangnya, lalu berjalan menjauhi kamar perawatan Cheryl, menuju ke kamar perawatan orang tuanya.
Sementara itu, di dalam kamar perawatan itu, tampak Gavin sedang kesulitan menyuapi Cheryl makan malam. "Mas, udah dong..."
"Udah gimana? Baru tiga suap aja masa udahan sih."
"Mual Mas."
"Biar ga mual gimana? Apa perlu aku cium dulu?"
"Kok malah ngledek sih?"
"Ya, lagian kamu kalo ciuman aja garcep, suruh makan pake kebanyakan alesan."
"Ah, ya udah sekarang kalo ciuman juga mual deh."
"Eh, jangan dong. Kalo nggak ciuman ga bikin semangat dong, Sayang."
"Dasar modus, emh Mas tadi ketemu Tante Diandra?"
"Kenapa kalo ketemu Diandra? Cemburu?"
"Nggak, Mas. Cuma kasian, ntar kalo rumah itu dijual, Tante Diandra mau hidup dimana?"
"Itu urusan Alex, Sayang. Diandra udah jadi tanggung jawab Alex, bukan aku. Lagipula, rumah itu kan jadi harta gono-gini, penjualan rumah itu nanti kita bagi dua, mereka masih bisa beli rumah sederhana."
"Terus tadi waktu ketemu Om Alex, mas ga marah-marah lagi kan?"
__ADS_1
Gavin pun tersenyum mendengar perkataan Cheryl. "Kok malah senyum, pasti kalian berantem lagi kan? Astaga...," ucap Cheryl sambil melotot pada Gavin.
"Habis kalo liat mereka bawaannya emosi mulu, inget Cheryl aku udah jadi orang bodoh selama bertahun-tahun karena mereka berdua."
"Huft, ya udah terserah mas aja. Untungnya mas ga luka-luka berantem sama Om Alex."
"Gimana mau luka, Alex kayaknya juga ikhlas dipukulin, tanpa perlawanan."
"Beneran Mas?"
"Iya, mungkin dia udah sadar, tadi juga minta maaf."
"Syukurlah, jadi Tante Diandra juga udah menyadari kesalahnnya juga, Mas?"
"Kalo Diandra nggak tahu, aku nggak ketemu Diandra. Cuma, dia itu orangnya keras kepala, dan sombong. Agak susah kalau bisa langsung berubah buat menyadari kesalahannya, karena orang sombong biasanya hanya bisa menyalahkan orang lain atas musibah yang terjadi pada dirinya."
"Iya Mas bener sih, terus mas jadi jual apartemen?"
"Mas yakin mau buka usaha aja? Nama mas udah bersih kan? Bisa kerja kaya dulu lagi."
"Nggak sayang, aku udah mutusin buat buka usaha aja. Besok aku tinggal sebentar ya, aku mau ketemu sama pembeli apartemen kita."
"Iya mas, ya udah deh kalo itu keputusan kamu. Mas, aku ngantuk, bobo aja yuk."
"Yuk, aku naik ke atas ya."
"Ga, mas bobo sama Frizz aja sana."
"Ga mau, kalo sama Frizz ga bisa mainan squishy-nya kamu," tolak Gavin sambil membuka kancing baju Cheryl dan meremas gundukan kenyal miliknya.
"Mas Gavin, gimana kalo ada perawat masuk..."
__ADS_1
"Emphhh..."
Tanpa mereka sadari, beberapa panggilan masuk ke ponsel Gavin.
***
Paginya...
Saat Alex membuka mata, dia sudah sendirian di atas tempat tidur, padahal semalaman Diandra tidur dalam pelukannya. Sontak, Alex pun bangkit dari atas tempat tidur, lalu mencari Diandra yang saat ini ternyata sedang duduk di balkon kamar. Alex lalu mendekat ke arah Diandra. "Kamu udah bangun, Sayang?" tanya Alex, namun Diandra hanya diam. Matanya memang menatap pemandangan di depan rumah itu, namun tatapan itu terlihat kosong. Alex memahami apa yang dirasakan Diandra saat ini.
Diandra pasti mengalami guncangan psikologis, setelah apa yang mereka lalui. Meskipun sebenarnya, apa yang mereka alami itu kesalahan dirinya dan juga Alex, tapi nyatanya menerima keadaan yang jauh berbeda dengan harapan itu tidaklah mudah, dan diperlukan jiwa yang lapang dan keikhlasan hati. Dan, Diandra belum bisa menerima semua itu.
"Diandra, kamu mau mandi?"
Diandra hanya diam. "Apa kamu mau sarapan? Masih ada makanan sisa semalam, Diandra."
Diandra tetap diam. "Baiklah kalau begitu, kita bersihkan badanmu dulu ya sayang? Ayo kita masuk!"
Alex lalu menuntun tubuh Diandra untuk masuk ke dalam kamar itu. "Duduk dulu, Diandra. Aku ambil air dulu ya."
Alex kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air dan handuk. Setelah itu, dia melepaskan baju Diandra, membersihkan seluruh tubuhnya lalu memakaikan baju bersih untuk Diandra.
"Sudah selesai, Diandra. Kau mau sarapan? Aku suapi ya!"
Alex kemudian mengambil makanan sisa semalam lalu menyuapkan pada Diandra. "Sayang, apapun yang terjadi, kamu harus makan. Ingat, kamu sedang hamil anak kita, kamu harus tetap sehat. Aku akan selalu jagain kamu sama anak kita, Diandra."
Setelah selesai menyuapi Diandra, Alex lalu ikut memakan sarapan sisa Diandra, meskipun sisa makanan itu tinggal sedikit, dan tentu saja tidak sepenuhnya mampu mengganjal perutnya. "Sayang, kamu istirahat aja ya. Aku mau mandi dulu," ujar Alex sambil mendorong tubuh Diandra agar tidur di atas ranjang. Diandra hanya diam, menuruti apa yang dikatakan oleh Alex.
Alex pun masuk ke dalam kamar mandi, dan saat Alex keluar dari kamar mandi, tampak Diandra sudah tertidur. "Diandra tidur? Ah mungkin saja tidurnya tadi malam kurang nyenyak. Kebetulan kalo gitu, aku jadi tenang ninggalin dia," ujar Alex sambil melirik pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dia kemudian keluar dari rumah itu, lalu berjalan kaki ke sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah tersebut.
Saat Alex sudah memasuki cafe, tampak seseorang sudah menunggunya. "Maaf, sudah membuatmu menunggu."
__ADS_1
"Silahkan duduk Alex."