Terjerat Pesona Suami Tanteku

Terjerat Pesona Suami Tanteku
Kepalsuan


__ADS_3

Sebenarnya Bianca merasa begitu sakit melihat kenyataan jika perselingkuhan suaminya bukanlah hanya sebatas asumsinya semata, tapi juga sudah ada bukti nyata di tangannya. Dia tidak menyangka laki-laki yang sudah dia kenal selama sepuluh tahun, menjadi pendamping hidupnya selama delapan tahun dan mendampinginya dalam suka dan duka telah berkhianat padanya. Alex, seorang laki-laki humoris yang dulu bekerja di perusahaannya, telah berhasil menaklukkan hatinya, hati seorang Bianca yang saat itu begitu dingin dan rapuh, ya Bianca memang sebenarnya begitu rapuh karena masa lalunya yang tak mudah. Sikap Bianca yang dingin, akhirnya mampu ditaklukkan oleh seorang laki-laki sederhana yang terlihat begitu tulus. Sayangnya ketulusan itu ternyata hanyalah sebuah topeng untuk menutupi semua kebusukannya.


Bianca menghembuskan nafas panjangnya, sambil memijit pelipisnya. Sebenarnya dia ingin menangis, tapi dia sadar di depannya masih ada Amara, dan dia tidak ingin terlihat rapuh di depan wanita comel seperti Amara yang bisa saja membocorkan kerapuhan hatinya pada siapapun.


"Ini, aku sudah memberikan nomer teleponku di ponselmu. Sekarang, cepat kirimkan foto-foto itu padaku!" perintah Bianca. Diandra kemudian mengutak-atik ponselnya, untuk mengirimkan foto-foto bukti perselingkuhan Alex pada Bianca.


"Sudah semuanya, Nyonya."


"Terima kasih, sekarang kau boleh pulang! Kau tenang saja, aku akan memberikan jaminan keamanan padamu, tapi kau harus menuruti perintahku jika aku membutuhkan bantuanmu. Ingat Amara, uang sebanyak tiga miliar itu bukan jumlah yang sedikit dan kau harus memberikan imbalan yang pantas padaku."


"Baik Nyonya."


"Sekarang pulanglah!"


Amara kemudian menganggukkan kepalanya, lalu bergegas keluar dari ruang kerja Bianca. Setelah Amara menutup pintu ruang kerja itu, Bianca tampak menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai, disertai air mata yang kini membasahi wajahnya. Ingin sebenarnya dia berteriak. Tapi, dia tidak ingin terlihat lemah karena harus menangisi laki-laki biadab seperti Alex.


"Saat ini aku hanya ingin melepaskan semua, jika aku bisa aku pun ingin melepaskan rasa sakit ini. Bertahun-tahun lamanya, ternyata aku bergelut dalam sebuah kepalsuan dan saat piringan takdir mengharuskan aku untuk menerima kenyataan, aku harus kuat menghadapi kenyataan ini, mungkin ini salahku yang telah dibutakan oleh cinta, atau karena Tuhan ingin menguatkan dengan segala ujian hidup. Namun, apapun akhir dari kisah ini, itulah yang disebut takdir. Tugas kita hanya perlu menerima, ya menerimanya saja dan percaya bahwa selama ini tidak ada takdir yang sia-sia termasuk bertemu dan mengenalmu. Setidaknya, darimu aku belajar apa yang dimaksud dengan sebuah kepalsuan."

__ADS_1


***


Gavin yang saat ini telah sampai di rumah sakit, tampak sedang duduk di ruang tunggu, untuk menunggu giliran mendaftar tes DNA. Saat tengah asyik memainkan ponselnya, tiba-tiba atensinya tertuju pada sebuah brosur yang ada di sampingnya. Sebuah brosur yang berisi iklan tentang produk operasi dari perawatan kecantikan. Gavin pun terkekeh saat membaca salah satu jasa yang ditawarkan berupa operasi keperawannan.


"Operasi keperawanan? Ada-ada saja," gerutu Gavin. Namun, tiba-tiba terlintas begitu saja wajah Diandra dan Cheryl saat membaca keperawwanan.


"Diandra dan Cheryl, ya bukankah aku sama-sama merenggut mahkota mereka berdua? Tapi kenapa ada yang berbeda? Ah, apa itu hanya perasaanku saja?"


Gavin pun berulang kali mengusap wajahnya dengan kasar, sambil menghembuskan nafasnya, mencoba untuk menetralkan perasaanya yang saat ini begitu berkecamuk. Sebenarnya ingin rasanya dia menampik pikiran buruk yang saat ini menguasainya, namun semakin Gavin menampiknya, entah kenapa dia merasa semakin penasaran. Hingga lamunannya pun buyar saat sebuah suara memanggil namanya. Dia kemudian mendekat ke arah sumber suara tersebut, untuk mendaftar tes DNA.


"Ck, aku harus bagaimana? Apakah sebaiknya aku membuktikan semua ini, agar pemikiran buruk ini tidak selalu menghantuiku? Ya, aku harus membuktikan semua ini karena jika ditarik benang merahnya aku bisa mendapatkan jawaban dari semua teka-teki tentang bagaimana sebenarnya Diandra, dan rahasia apa saja yang dia tutupi."


Gavin pun membalikkan tubuhnya, dan mengurungkan niatnya untuk keluar dari rumah sakit tersebut, dia kembali berjalan melalui koridor rumah sakit ke sebuah ruangan, hingga akhirnya langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu bercat warna putih, dengan papan nama di pintu itu bertuliskan dokter spesialis bedah plastik. Gavin pun menghembuskan nafas panjangnya, lalu perlahan mengetuk pintu itu, meski awalnya cukup ragu.


Tok tok tok


Pintu itu pun terbuka, tampak seorang perawat berdiri sambil tersenyum pada Gavin, sebenarnya perawat itu sempat merasa heran, karena yang mengetuk pintu itu adalah seorang laki-laki. Sedangkan biasanya yang berkonsultasi adalah wanita.

__ADS_1


"Maaf Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat tersebut.


"Ya, bolehkah saya bertemu dengan Dokter Anita?"


"Apakah anda sudah membuat janji?"


"Oh belum, saya hanya ingin berkonsultasi sebentar..."


Gavin pun menghentikan kata-katanya, sejenak dia ragu untuk melanjutkan perkataannya tersebut, karena merasa malu. "Anda mau berkonsultasi tentang apa, Tuan?" tanya perawat tersebut yang melihat Gavin kini tampak begitu bingung.


"Tentang operasi keperawannan," jawab Gavin ragu sambil meringis.


Bersambung...


NOTE: Jangan lupa mampir ke My Husband My Enemy ya, kalo udah rame besok aku crazy up novel ini wkwkwkwk. Thanks 💙


__ADS_1


__ADS_2