
Diandra menolehkan wajahnya, kemudian menatap Alex. "Diandra, sudahlah. Kita tidak bisa mengubah apapun, daripada meratapi hidup dan berharap sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi, lebih baik kita ikhlas."
"Apa katamu Alex? Ikhlas? Itu tidak akan pernah kulakukan! Aku yakin, aku pasti bisa memperbaiki keadaan ini!"
"Apa yang bisa diperbaiki, Diandra? Semua orang sudah tahu kebenaran tentang kita semua, tidak ada yang bisa diperbaiki lagi. Lebih baik kita melanjutkan hidup kita dengan kehidupan yang baru. Setelah kita bercerai dengan pasangan masing-masing, lebih baik kita menikah, Diandra. Ingat, kau sedang hamil. Hamil anak kita."
"Apa kau bilang, menikah? Menikah dengan laki-laki sepertimu? Tidak Alex, aku tidak mau! Aku yakin, aku pasti bisa memperbaiki semua keadaan ini! Aku tidak mau bercerai dengan Mas Gavin!"
"Jangan bermimpi, Diandra. Kau lihat sendiri kan bagaimana Gavin tadi pagi? Dengan semua sikap yang ditujukkan oleh Gavin, kau pikir Gavin akan memaafkanmu?"
"Pasti mau, Alex. Sejak dulu Mas Gavin sangat mencintaiku!"
"Dulu dan sekarang itu berbeda, Diandra."
Saat masih terlibat perdebatan, tiba-tiba seorang laki-laki mendekat ke arah mereka. "Selamat sore, permisi. Apa betul ini rumah Ibu Diandra?"
"Iya benar, ada apa?"
"Ini nyonya, saya cuma mau mengantarkan Ini," jawab laki-laki itu sambil memberikan amplop cokelat pada Diandra.
__ADS_1
"Tanda tangan di sini, Nyonya," sambung laki-laki itu lagi. Diandra lalu menandatangani kertas tanda terima oleh kurir tersebut. Firasat buruk sebenarnya dirasakan oleh Diandra saat menerima amplop cokelat itu, dan benar saja, setelah amplop tersebut dibuka, isinya adalah surat undangan sidang cerai dari pengadilan agama. Melihat surat itu, seketika Diandra pun berteriak.
"Mas Gavin, kenapa kau tega sekali padaku! Mas Gavinnnnnnn!" teriak Diandra sambil meraung-raung. Alex pun hanya menatap Diandra dengan tatapan sendu.
Dia tidak menyangka hubungannya dan Diandra akan berakhir seperti ini, semua yang mereka rencanakan hancur. Mereka berdua diceraikan oleh pasangan masing-masing, dan hidup dalam kehinaan.
Alex sadar, saat ini, di luar sana pasti orang-orang sedang ramai menghujat mereka, tidak hanya tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh keduanya selama bertahun-tahun, tapi hujatan itu pasti kian bertambah setelah mereka tahu, yang dikatakan oleh Diandra semuanya palsu dan penuh dengan kebohongan.
Tapi, apapun yang terjadi pada mereka saat ini, dia tidak bisa memungkiri jika sejak dulu, sampai saat ini wanita yang dia cintai hanyalah Diandra. Setelah melihat Diandra yang mulai tenang, Alex lalu mendekat ke arahnya. Kemudian berjongkok di depannya.
"Diandra," panggil Alex, lalu mengangkat dagu Diandra.
"Sudahlah Diandra, saat ini apapun yang akan kita lakukan, tidak ada yang bisa mengubah keadaan. Untuk saat ini kita hanya bisa menerima keadaan."
"Lalu, kau mau apa? Kau mau meminta mereka kembali percaya padamu? Memangnya kau bisa mengubah keadaan semaumu, Diandra? Kau pikir setelah mereka melihat kenyataan yang sebenarnya, mereka bisa percaya kebohonganmu lagi, Diandra? Kau salah besar! Mereka hanya akan semakin membencimu!"
"Lalu kita harus bagaimana, Alex? Aku tidak mau hidup dengan penuh kehinaan, dan kebencian dari orang lain! Aku juga tidak mau hidup miskin jika aku kehilangan Mas Gavin dan karirku! Aku sekarang tidak punya apa-apa, Alex!" teriak Diandra.
"Setidaknya kau punya aku, Diandra! Mungkin sudah waktunya kita untuk menyadari semua kesalahan kita. Mungkin ini juga sudah waktunya bagi kita untuk memperbaiki hidup kita! Diandra, ayo kita mulai kehidupan yang baru."
__ADS_1
"Apa kau sudah gila, Alex! Saat ini kita hidup dalam kehinaan dan kemiskinan dan kau masih bisa berkata seperti itu? Lihat dirimu, setelah kau miskin seperti ini, kau bisa apa? Bahkan aku yakin, kau juga pasti tidak punya uang untuk makan esok hari kan? Jadi tolong kau sadar diri! Kau tidak pantas berkata seperti itu padaku!"
"Lalu, jika kau tidak mau hidup denganku, kau mau hidup dengan siapa? Dengan keluargamu yang sedang menjauhimu? Atau hidup sendiri dan menghadapi cacian dan hinaan sendirian? Bukankah saat ini kau sama menyedihkan denganku? Kalau Gavin sudah mengusir kita dari rumah ini, kau mau tinggal dimana? Dan dengan siapa, Diandra? Apa kau tidak berfikir sejauh itu? Jadi tolong berfikirlah dengan jernih dan jangan hanya menuruti egomu saja!"
Mendengar perkataan Alex, Diandra pun menangis. Saat ini dia benar-benar merasa rapuh, dan hancur. Dia sebenarnya menyadari, apa yang dikatakan oleh Alex memang benar, saat ini dia tidak memiliki siapapun kecuali Alex.
Alex kemudian memeluk Diandra. "Diandra, aku tahu, saat ini semua orang pasti sedang menghina kita, kau malu? Kau marah? Dan kau tertekan dalam keadaan ini? Aku pun sama, bahkan untuk sekedar melangkahkan kakiku keluar dari rumah ini, sepertinya aku pun tidak sanggup. Tapi, mau bagaimana lagi? Kita tidak bisa berbuat banyak, kita harus menerima konsekuensi atas semua perbuatan kita. Meskipun aku yakin, ini tidak mudah, tapi setidaknya kita bisa saling menguatkan."
Alex pun mengelus punggung Diandra yang terlihat mulai tenang. "Kau takut kan aku tidak bisa memberimu kehidupan yang layak, bahkan untuk sekedar makan? Kau tenang saja Diandra, apapun yang terjadi, aku akan bertanggung jawab, aku akan mencari pekerjaan meskipun aku bekerja di tengah hinaan dan cibiran orang-orang di sekitarku. Apapun akan kujalani, demi kau, dan anak kita. Sudah cukup selama ini aku menjadi laki-laki pecundang, sudah cukup Diandra. Dan ini saatnya kita berubah, sebelum badai kehidupan kembali menghantam kita, kita harus berubah Diandra..."
Setelah selesai mengucapkan kata-katanya, Alex lalu menatap Diandra yang sudah tidur di dalam pelukannya. Dia kemudian mengangkat tubuh Diandra masuk ke dalam rumah itu, lalu meletakkan di atas ranjangnya.
"Aku pergi sebentar, Diandra."
Alex lalu keluar dari rumah itu.
***
Saat Bianca baru saja selesai makan malam, tiba-tiba seorang pembantu rumah tangga mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Nyonya Bianca, ada tamu di depan."
"Siapa, Bi?"