TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Pernikahan Konyol


__ADS_3

Selang berapa lama, keluarga ‘Kakak Cantik’ datang, mereka langsung di sambut warga, dan semua orang berusaha menjelaskan semua yang terjadi, yang bahkan akupun baru memahaminya sekarang.


“Loh?? Kamu berandalan itu kan??” tanya seorang perempuan, sambil menunjuk hidungku.


“Maksudnya gimana Tante??” tanyaku heran.


“Iya, kamu anaknya pak Andi, yang tadi batal bertunangankan??” jelasnya lagi membuatku melongo tak percaya.


“I iya Tante“ jawabku gagap,


“Kenapa kamu bisa berbuat mesum dengan Yasmin, keponakan saya??” Tante itu, terus menunjuk hidungku, lebih tepatnya hampir mencolok mataku.


“A aku ...” belum aku menjawab, tiba - tiba segerombolan Bapak - Bapak itu menggandeng Bapak - Bapak sepuh, yang aku yakin dia pasti seorang penghulu.


“Bagaimana semua sudah siap??” tanyanya,


“Siap pak,“ jawab mereka kompak.


Dan aku hanya bisa pasrah, mengikuti mereka untuk duduk di bawah.


“Bagaimana dengan walinya??” tanya pak penghulu.


“Sekarang Ayah kandung keponakan saya sedang berada di luar negri pak, untuk sebuah urusan,“ jelas Om Bayu.


“Oh, begitu ya, ya sudah kita gunakan wali hakim saja,“ Seru pak penghulu.


Akhirnya dengan lutut dan tangan yang gemetar, suara yang gemelatuk, aku mengucapkan ijab qabul, dengan satu tarikan napas, hingga mereka mengucapkan ‘SAH’. Aku sungguh tidak menyangka jika aku akan menikahi gadis yang beberapa waktu lalu aku kagumi, tapi caranya itu lho ... huuuuuuh ... aku menarik napas panjang.


“Zain, mulai sekarang kamu sudah resmi menjadi suami Yasmin, keponakan saya“ Om Bayu berkata, sambil menatapku lekat, aku tahu ada gurat khawatir disana.


“I iya Om,“ jawabku terbata,


“Mulai sekarang, Yasmin akan menjadi tanggung  jawabmu sepenuhnya“ Om Bayu menghela napas berat.


“I iya Om“ lagi aku terbata, aku hanya bisa manut atas semua yang dikatakan Om Bayu.


“Sekarang Yasmin ada di dalam mobil, kamu bawa aja mobilnya, kalian pulanglah, Om akan mengantar kalian ke rumah Yasmin“ kata Om Bayu sambil menepuk pundakku.


“Iya om“ jawabku sambil mengikuti langkahnya.


Setibanya di depan rumah yang cukup mewah, aku turun dari mobil, aku menoleh pada istriku, yang kini tengah pingsan, mungkin karena pengaruh obat tidur yang dia minum, aku melihatnya, dia masih memegang toples obat yang sempat diminumnya tadi.


“Zain, bawa aja Yasmin ke kamarnya!“ seru Om Bayu membuyarkan lamunanku.


“Baik Om, tapi ini gimana ngangkatnya?” tanyaku, yang kebingungan, meskipun aku sudah resmi menjadi suaminya, tapi aku sama sekali belum berani menyentuhnya.


“Ya kamu angkat aja, kamu 'kan suaminya" perintah Om Bayu.


“Tapi Om“ aku berusaha menyangkal.


“Apa lagi?” tanya Om Bayu memutar tubuhnya.


“Berat, Zain gak akan kuat, hhheee” jawabku sambil tersenyum.

__ADS_1


“Ya ampuuunnnn ... sini biar Om bantu“ Akhirnya Om Bayu mengalah.


Setelah perjuangan hebat membopongnya, bahkan tadi, tubuhku sempat terselip di antara kursi, untung saja ada Om Bayu, hingga akhirnya kami mampu memindahkan tubuh istriku ke dalam kamarnya,


Aku melongo, melihat penampakan kamar istriku, kamarnya cukup indah untuk seukuran kamar perempuan dewasa, ‘apa aku mulai sekarang akan tidur disini juga?’ aku terkikik membayangkannya.


“Zain, bagaimana dengan keluargamu?? Pak Andi sudah di beritahu tentang kejadian ini??” tanya Om Bayu setelah kami berada di ruang tamu, meninggalkan istriku dengan gaun pesta yang masih melekat ditubuhnya.


“Belum Om, mungkin besok, Zain akan memberitahukan Papah dan Mamah,“ jawabku merunduk, Papah dan Mamah pasti sedih mendengar kabar ini, mungkin aku menerima karmaku karena tadi sudah tidak mematuhi perintah Papah, ugh ... Papah, Mamah, maafin Zain. Hiks....


“Ya sudah Zain, kalau begitu Om pulang dulu ya,“ Pamit Om Bayu kemudian.


“Eeeennnggg ... terus Zain gimana Om?” tanyaku bingung,


“Ya gak gimana - gimana, kamu lakukan saja tugasmu sebagai suami“ Om Bayu tersenyum jahat, sambil menaik turunkan alisnya. Ish ... orang dewasa memang selalu mesum.


“ Ta ... tapi Om“ Aku mencoba menyanggahnya.


“Ah ... sudah, Om pulang dulu ya, hoooaaaammmmm“ jawab Om Bayu sambil melangkahkan kakinya kearah pintu, dengan terus menguap, mungkin mereka lelah.


Sementara aku sepeninggalnya Om Bayu, aku merasa kikuk, aku harus apa sekarang. Perlahan aku memasuki kamar istriku, aku melihatnya tertidur pulas, dengan masih menggunakan riasan bak artis, dia terlihat begitu dewasa dimataku.


Aku celingukan, mencari selimut, tapi tidak menemukannya, apa aku tidur saja dengan Kak Yasmin ya?? Hhhiihhii ... nama istriku Yasmin, nama yang cantik, seperti orangnya. Aku mengerjapkan mataku, sambil tersenyum memandangnya.


“Kira - kira dimana kak Yas menyimpan selimutnya ya??” Aku mencari - cari selimut, kemudian membuka sebuah lemari, dan benar ada di sini ternyata selimutnya, tapi begitu aku menarik selimutnya, ternyata ada benda - benda rahasia perempuan bergelantungan di dalam sana.


“Huaaaaaaaa ... apa itu?” Aku membolak balik benda itu,


“Apa ini?? Ish ... ternyata ini lingerie milik Kak Yas, hihi ...” Aku terkekeh membayangkan Kak Yas menggunakan lingerie itu.


***


“Astaghfirullah, apa ini?? Siapa kamu?? Hantu!!!” Suara perempuan membangunkanku dari mimpi indahku, tak lama kemudain setelah suara perempuan itu melantunkan beberapa ayat suci Al-quran, dia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku.


“Astagfirullah, kamu siapa?? Kamu mau nyulik saya ya??” tanyanya, sambil melempariku dengan bantal,  membuatku bingung.


“Stop kak, stop, aku bukan penculik“ Aku membela diriku.


“Huaaaaaa ... kamu maling ya??? Pergi kamu!!!” Te


teriaknya lagi sambil terus melempariku dengan bantal.


“Stop Kakak, aku bukan maling,“ Elakku lagi,


“Kamu?? Bukan hantu?? Bukan culik? Bukan maling yang mau memperkosaku?? Lalu kamu siapa??” hardiknya lagi, yang membuatku semakin tidak mengerti.


“Aku suamimu kak“ Aku 'ku, yang membuatnya terperanjat, seolah tak percaya.


“Su ... suami??” tanyanya memastikan,


“Iya kak, kita nikah semalam“ jelasku,


“Whaaaatttt?!” teriaknya kaget, melongo sebentar, kemudian terus menarik napas mencari ketenangan mungkin. Dia menatapku lekat, memastikan wajahku.

__ADS_1


“Jadi, semalam bukan mimpi??” tanyanya masih tidak percaya.


“Bukan Kakak, semalam bukan mimpi, itu nyata“ jawabku sambil garuk - garuk, aku sadar pasti penampilanku membuatnya takut.


“Tapi ... tunggu, semalam siapa yang membawaku kesini??” tanyanya menyeringai,


“Tante Meta dan Om Bayu“ jawabku.


“Ya Allah ... Tante, Om, kenapa kalian tega sekali padaku?? Aku keponakan kalian satu satunya, tapi kenapa aku pingsan bukannya di bawa ke rumah sakit, malah di bawa kerumah, dan disuruh tidur dengan pria brandal ini??” racaunya kemudian.


“Tapi, kamu belum ngapa - ngapain aku 'kan??” lagi - lagi pertanyaan tidak masuk akal yang kudengar.


“Ti ... tidak Kakak, aku belum ngapa - ngapain Kakak“ jawabku akhirnya.


“Keluaaarrr!!!” hardiknya, membuatku takut setengah mati. Kenapa dia lebih mirip dengan guru BK di sekolahku?.


“Ta ... tapi Kak“


“Keluaarrr!!!” hardiknya lagi sambil menjentikkan telunjuknya, menunjuk pintu keluar.


Akhirnya, aku keluar dari kamar, aku memutuskan untuk berkeliling di rumah si 'Kakak cantik'. Lama aku berkeliling di rumah ini, rumah besar yang cukup megah ini, hanya dia penghuninya seorang diri.


'Bagaimana dia menjalani hidupnya selama ini?' sekelebat fikiran itu terlintas di fikiranku.


“Hey kamu!! Kamu itu sebenarnya siapa?” lagi - lagi suara itu terdengar sedang mengintimidasiku.


“A aku kan suami Kakak“ jawabku sekenanya.


“Ish ... bukan itu maksudku, asal usulmu??” terlihat Kak Yas semakin kesal padaku.


“Duduk!!” perintahnya, yang membuatku menuruti semua perintahnya.


“Coba sebutkan, nama, alamat, dan kenapa kamu semalam ada di tempat itu??” Nah, kan?? Dia mulai mewawancaraiku.


“Na namaku Muhammad Zain kak, aku tinggal tidak jauh dari tempat semalam,“ jawabku gemetar, aku sungguh takut padanya, hih ... punya istri yang umurnya jauh lebih tua, ternyata menyeramkan juga, ya meskipun wajahnya sangat cantik sih.


“Oh, lalu kenapa kamu semalam bisa ada di balik semak - semak itu??” tanyanya lagi.


“Eeeeennnggg ... anu kak“ Aku ragu menjawabnya.


“Anu apa?? Jawab!“ Hardiknya lagi,


“Pipis, hehe“ Jawabku polos.


“What???? Pipis?? Di balik pohon??!” Serunya yang membuatku terlonjak kaget.


“Ehheeee iya kak, Zain kebelet, udah gak tahan“ Aku 'ku jujur.


“Tanteeeeeee ...Tante dan Om harus tanggung jawab atas semua yang terjadi padaku!!!!“


Ish ... kenapa sih?? istriku suka sekali teriak-teriak?.


Zain, manyun kayak kuda lagi sakit gigi ... wkwkwk

__ADS_1


Bersambung..................


Readers, ayo dong tinggalkan jejaknya untuk mendukung author, author tunggu yaaaa...


__ADS_2