
Sudah beberapa hari ini, Zain mondar mandir kerumah Mamahnya, entah apa yang dia lakukan di rumah orangtuanya, aku memilih untuk tidak peduli, berhubung kesibukanku pun sangat menyita waktu, aku hanya melihatnya sekilas ketika dia pulang dengan wajah lelah dia langsung memasuki kamarnya, dan tidak terdengar lagi suaranya, pagi hari dia sudah bangun dan langsung berangkat sekolah mendahuluiku. Aneh juga melihat tingkahnya, aku fikir mungkin dia merasa menyesal dengan kesalahannya tempo hari dan ingin memperbaikinya.
Hari ini setelah Zain berangkat sekolah, aku memutuskan untuk berangkat ke pabrik teh, yang sudah lama tidak aku kunjungi, aku akan menenangkan diri disana dengan menghirup aroma teh asli yang membuat masalahku seketika beterbangan, kayak di iklan - iklan.
“Yas, udah lama kamu gak kesini“ tanya Om Bayu setibanya aku dilokasi.
“Iya Om, aku sibuk ngurusin toko kue soalnya,“ jawabku sambil terus berjalan.
“Iya,“ jawab Om Bayu sambil terus terpaku pada sebuah buku, catatan laporan penghasilan dan pengeluaran dari karyawan.
“Gimana rumah tangga kamu Yas??” tanya Om Bayu yang membuatku kembali mengingat Zain.
“Yah, begitulah Om,“ jawabku sambil menarik napas panjang.
“Kamu yang sabar ya Yas, anggap saja ini ujian buat kamu,“ Om Bayu sekilas menatapku, kemudian kembali fokus pada buku yang di genggamnya.
“Iya Om,“ jawabku sambil berlalu mengitari pabrik.
“Yas,“ seketika suara yang sangat familiar memanggilku, tepatnya dari arah belakangku.
Aku membalikkan badanku,
“Zain nu din?” tanyaku terbata, kala melihat sang mantan yang telah menghianatiku, tengah berdiri kokoh, mengumbar senyumnya padaku.
“Iya Yas, kamu apa kabar??” tanyanya, sambil melangkah mendekatiku.
“Baik,“ jawabku sinis.
“Kamu lama gak ada kabarnya Yas, kata Om Bayu kamu udah nikah juga ya??” Om Bayu, mulut ember dasar.
“Iya,“ jawabku sarkis.
“Yas, kamu tinggalin aja suami bocah kamu itu, kembalilah padaku“ pintanya enteng, membuatku muak, apalagi seketika bayangan pengkhianatannya kembali muncul dikepalaku.
“Maksud kamu apa ya??” tanyaku.
“Iya, aku sudah tahu kamu udah nikah sama anak SMA, Yas, apa kamu segitu patah hatinya ditinggal aku, sampe kamu menikahi anak SMA, yang sudah pasti tidak bertanggung jawab“ jelasnya yang membuat telingaku memanas. Berani sekali dia mengatakan hal buruk tentang suamiku. Apa?? Suami??
Hhhuuuuuhhhhhh ...
__ADS_1
“Bukan urusan kamu,“ jawabku sambil berlalu, meninggalkan Zainudin yang tengah mematung.
“Tunggu Yas“ tidak di sangka sang mantan mencengkram tanganku erat, “Yas, kembalilah kepadaku, aku akan segera bercerai dari Zanet“ akunya yang membuatku semakin tercengang.
“Apa maksud kamu??” tanyaku sambil menghempaskan cengkraman Zainudin.
“Ternyata Zanet bukan perempuan baik - baik Yas,“ dia tertunduk.
“Maksudnya??” tanyaku masih dalam mode penasaran.
“Ternyata anak yang dia kandung, bukanlah anakku, pantes aja waktu aku nidurin dia, dia udah gak perawan lagi“ terangnya yang jelas, membuatku semakin muak mendengarnya.
“Itu sudah bukan urusanku lagi Zain nu din“ jawabku dengan mengeja namanya.
“Yas, aku yakin kamu juga masih sangat mencintaiku bukan?? Ayolah Yas, tinggalkan suamimu dan hiduplah bersamaku“ pintanya lagi.
“Udin, apa kamu fikir kamu adalah pria baik - baik?? Ketika kamu meniduri perempuan lain yang jelas bukan muhrim kamu??” tanyaku, sambil berusaha menahan tangis, tak kuasa menerima kenyataan, pria yang pernah lima tahun aku pacari, ternyata tidak lebih dari pria brengsek dan aku baru mengetahuinya sekarang.
“Udin?? Udin siapa Yas??” tanyanya heran, dengan panggilan baruku padanya.
“Iya, mulai sekarang aku akan memanggilmu Udin“ jelasku, aku tidak ingin panggilan suami dan mantanku sama.
“Kenapa?? Karena aku sudah jadi mantan kamu Yas?? Apa kamu sebenci itu padaku Yas??” tanyanya lagi, sungguh pertanyaan yang tidak masuk akal, mengkhianati calon istri yang tanggal pernikahannya sudah di tentukan, memangnya perasaanku harus bahagia begitu??.
Aku mengemudikan mobilku dengan perasaan yang berkecamuk, aku ingin mencari tempat yang paling nyaman dan aman, aku ingin menceritakan keluh kesahku pada seseorang yang mampu menenangkanku, tapi siapa? Mungkinkah Zain? Si bocah itu? Ah ... entahlah ...
Kriiinnggg ... Krriiiinngg ...
Ku dengar ponselku berbunyi, ada panggilan dari nomor yang tidak ku kenal, aku menepikan mobilku di pinggir jalan, berniat mengangkat telpon yang entah dari siapa?.
“Hallo Assalamu’alaikum“ sapaku.
“Wa’alaikumsalam, maaf apa betul ini dengan nomornya ibu Yasmin?” tanya sang penelpon.
“Iya, betul, ada yang bisa dibantu pak?” tanyaku ragu.
“Ibu, bisa datang ke caffe Kasih sekarang??” tanya sang penelpon, yang terdengar agak tegas.
“Iya, ada apa ya pak??” tanyaku heran, seingatku aku belum pernah berkunjung ke caffe tersebut, lalu ada apa pihak caffe menghubungiku?.
__ADS_1
“Ibu wali dari Muhammad Zain kan???” tanyanya, yang seketika membuat hatiku berdebar kuat, apalagi yang dilakukan si bocah?.
“I iya pak, ada apa ya??” tanyaku terbata.
“Saya harap Ibu bisa secepatnya datang kesini“ tegasnya.
“Ba baik pak, saya akan segera kesana“ jawabku, sambil menutup telpon dan langsung tancap gas.
Setibanya di caffe, aku langsung di sambut oleh beberapa pegawai caffe, dan di antarkan keruang Manager, hatiku sudah tak karuan. Entah apalagi yang harus kukatakan, takut jika Zain melakukan tindakan yang ceroboh lagi.
Dan benar dugaanku, ketika memasuki ruangan Manager, aku melihat Zain dengan pelipis yang berdarah, dan rambut yang acak - acakan, dengan masih menggunakan celemek yang basah dan bau amis.
“Kakak,“ sahut Zain sambil merunduk.
Aku tidak menggubris keadaan Zain, aku langsung duduk di kursi yang berada tepat di hadapan sang Manager yang tengah menatapku.
“Maaf Mbak saya fikir, Mbak Ibunya Zain, ternyata bukan ya? Melihat wajah Mbak yang masih sangat muda“ Manager caffe tersenyum lembut padaku.
“Tidak apa - apa, perkenalkan saya Kakaknya Zain,“ jawabku sambil mengulurkan tangan,
Manager caffe tersenyum padaku, sambil menerima uluran tanganku.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi pak?” Tanyaku tak ingin berbasa - basi.
“Sebelumnya maaf untuk kabar yang tidak menyenangkan ini Mbak“ Manager caffe tertunduk kemudian menarik napas panjang.
“Sebelumnya adik Mbak sudah terlibat perkelahian dengan salah satu karyawan kami,“ jelas Manager caffe,
“Kok bisa pak?? Bagaimana kronologisnya??” tanyaku heran.
“Sebelumnya, saya melihat Adik Mbak terlibat percekcokan dengan karyawan kami, tak lama kemudian, mereka saling pukul, yang menyebabkan kerusuhan, dan adik Mbak juga sempat menyenggol beberapa piring dan gelas hingga pecah,“ jelas Manager dengan wajah murung.
Aku memutar wajahku pada Zain, dengan jengkel aku bertanya “Zain, kenapa kamu bisa ada disini?? Bukankah kamu tadi bilang mau ke rumah Mamah??”
“Ma maaf Kakak,“ jawabnya sambil menunduk, menyembunyikan luka di pelipisnya, yang darahnya sudah mengering.
“Kenapa kamu bisa ada disini, dan terlibat perkelahian??” tanyaku berusaha sabar.
“A aku ...”
__ADS_1
Bersambung.................
Readers jangan lupa dukungannya buat Zain dan kak Yas yaaaa.....