
Sepuluh menit berlalu, Zain sudah memulai pertarungannya, dengan tanpa menyadari kehadiran kami, sejujurnya aku tidak terlalu memperhatikan jalannya pertarungan, karena jelas aku sama sekali tidak mengerti aturan mainnya, yang aku lihat hanya Zain yang menendang, mengoper, atau menggiring bola.
Pertama kali kulihat, Zain kecolongan, dan group lawan bisa memasukkan bola kedalam gawangnya, hingga skors menjadi satu kosong, semua orang berteriak, meneriakkan nama Zain, memberinya semangat. Termasuk aku, terbawa suasana akupun jadi ikut berdiri, bertepuk tangan dan meneriakkan nama Zain, kulihat Pamer yang begitu menentang keinginan Zain juga turut meneriakkan nama anaknya.
“Zain, Zain, Zain!!!!!“ namanya terus di sebut.
Tapi Zain seperti kehilangan semangatnya, untuk kedua kalinya dia kecolongan lagi, hingga bertambah satu poin untuk lawan, kedudukan menjadi dua kosong.
Aku menghela napas, “Ayo Zain, kamu pasti bisa“ gumamku.
Zain, terus menggiring bola, tapi lawan terus menghalangi jalannya, hingga berkali-kali Zain hampir terjatuh, sementara itu, nama Zain terus di teriakkan.
Sekelebat, aku melihat Zain melirik ke arah kami, lalu dia tersenyum, melambaikan tangannya ke arah kami, kemudian dia kembali berlari, hingga kedudukan akhirnya menjadi dua sama, pertarungan sengit ini terus berlanjut. Tak ada yang mau mengalah.
Setengah jam berlalu, tapi kedudukan masih tetap seri, penonton makin panas, semangat mereka semakin menggebu untuk meneriakan nama jagoannya masing-masing.
Kulihat Zain sudah sangat kelelahan, keringat bercucuran, tapi semangatnya masih tetap membara.
“Zain!!! Zain !!! Zain!!!” kembali kudengar teriakan itu.
__ADS_1
Seketika suasana menegang, kala Zain terus menggiring bola, tapi terus dihadang oleh lawan, tidak ada yang mau mengalah di antara mereka, masing-masing dari para pendukung terus meneriakan nama mereka.
“Zain!!! Ricko!!!! Zain!!!! Ricko!!!!” suara gemuruh memenuhi lapangan.
Zain, masih terus berusaha menggiring bolanya, berusaha menendangnya ke dalam gawang.
Dan ...
“Zaiiiinnnnn!!!!!!!!“ semua penonton berdiri sambil menutup mulutnya, kala melihat Zain terpeleset karena kaki lawan menghalangi jalannya.
Dari jauh kami melihat Zain terluka, seketika suasana menjadi kacau, team medis mendatangi Zain, dan membawa tubuh Zain ke atas brangkar, lalu menggotongnya.
Aku masih tidak percaya dengan pemandangan yang kulihat, Zain terluka, dan pingsan.
Aku berlari terengah-engah, menuju ruangan di mana Zain diberika pertolongan pertama.
“Maaf apa Bapak dan Ibu keluarga dari Zain?” tanya salah satu team medis.
“Iya, benar pak, kami keluarganya“ dengan suara gemetar Pamer menjawab, sementara aku dan Mamer hanya berpelukan sambil menangis, melihat kondisi Zain, yang pingsan dengan Kaki membengkak.
__ADS_1
“Terjadi cedera cukup parah, sebaiknya Zain segera di bawa kerumah sakit“ usulnya.
“Baik, lakukan yang terbaik untuk putra saya“ sahut Pamer.
Dengan sigap, tubuh Zain di bawa pergi menuju ambulance, untuk menuju rumah sakit, dan kami mengikutinya, dari belakang dengan menggunakan mobil yang tadi kami gunakan.
Tiba di rumah sakit terdekat, kami segera menuju ruangan di mana Zain di rawat.
“Dokter, gimana anak saya Dokter?? gimana keadaannya???” Pamer dengan tergesa-gesa bertanya pada Dokter yang menangani Zain,
“Maaf pak, Bapak tenang dulu ya, anak Bapak sedang kami periksa, nanti setelah diperiksa baru akan kami beritahu kondisinya, bapak dan keluarga bantu do’a yaaa“ Dokter menepuk bahu Pamer.
“Ya Allah, Papah gimana ini?? giman Zain Papah???” Mamer menangis terisak, sambil memeluk Pamer.
Sementara aku hanya terdiam, mencerna apa yang terjadi, sungguh ini diluar prediksiku.
“Zain, aku harap kamu baik-baik saja, Zain, bocahku, jangan membuatku cemas “
Tanpa sadar air mata luruh dipipiku.
__ADS_1
Bersambung..............
Gengs, dukungannya jangan lupa yaaaa....