
“Budi? Apa kamu sudah siap?” tanyaku pada Budi yang sudah berdiri tegap di samping kiriku.
“Siap komandan!!” Budi menempelkan tangannya di dahi, khas orang menghormat.
“Imam? Kamu sudah siap??” tanyaku pada Imam yang sudah sama-sama berdiri di samping kananku.
“Siap komandan!!” Imam melakukan hal yang sama dengan Budi, menempelkan tangannya di dahi.
“Baik, ayo jalan!!” Perintahku pada mereka, dengan memberi kode, menjentikkan jari-jari lentikku.
“Siap komandan!!” teriak mereka kompak.
Yaps, kami sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah Mamah dan Papah mertua, untuk memperjuangkan cintaku pada Kak Yas.
Semangatku kian membara, rinduku menggebu, mendorongku untuk bisa melakukan segalanya demi istriku tercinta. Kak Yas.
“Huuuuhhh ... Kakak, suamimu sedang berjuang!! Do’akan aku!!” Ku bulatkan tanganku, dengan pandangan kearah luar mobil.
“Aishhhh ... kenapa dia begitu menggelikan?? Semenjak menikah dia jadi lebih gila lagi bukan??” Imam menoleh pada Budi yang duduk di kursi belakang.
“Ck, orang yang sedang kasmaran fikirannya selalu di luar nalar, biarkan saja dia begitu” sahut Budi, tak mau pusing dengan semua yang kulakukan.
Ah, kadang aku teramat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka, mereka selalu ada di saat apapun yang terjadi padaku. Termasuk sekarang, ketika aku sedang dalam misi menjemput Kak Yas.
Satu jam perjalanan menuju rumah Kak Yas, kami tiba di depan rumah Kak Yas. Aku turun dari mobil, berjalan mengendap-endap.
“Ish ... kamu kenapa berjalan mengendap endap Zain??” Budi menepuk bokongku.
__ADS_1
“Kita kan mau menjalankan misi penting” jawabku sambil menggaruk kepalaku.
“Zain!! berjalanlah seperti seorang pria sejati, yang akan menjemput wanitanya, seperti ini!!” Budi memperagakan cara jalan yang gagah, aku sempat terkekeh.
“Ah, iya untuk menambah ketampananmu pakai ini” Imam memakaikan kaca mata hitam pada mataku.
“Hah?? Kenapa jadi gelap??” tanyaku sambil meraba jalan.
“Dasar norak! Itukan kacamata hitam!” teriak Imam.
“Hush, udah jangan malah pada debat, kita harus tenang, hhhuuuhhh ...hhhhaaaahhh...” Budi menarik napas lalu mengeluarkannya.
“Baiklah, kalin berjalan di belakangku” perintahku pada kedua sahabatku.
“Siap!” teriak mereka kompak.
Aku mulai berjalan menuju pintu.
Tok ... tok ... tok ....
Aku mengetuk pintu dengan semangat. Tapi, hening tak ada jawaban.
Tok ... tok ... tok ...
Aku kembali mengetuk pintu dengan lebih keras lagi,
“Kenapa gak di buka ya??” Aku menoleh pada dua punggawaku.
__ADS_1
“Iiissshhh ... dasar manusia nora, apa cinta bisa membuatmu senorak ini Zain?? kamu sudah berapa lama kamu tinggal disini??” Imam balik bertanya padaku.
“Lumayan lama, memangnya kenapa??” tanyaku bingung.
“Noh!! Kamu tekan bel, bukannya ketok ketok“ Imam menunjuk bel dengan wajahnya, terlihat kesal.
“Ooouuuhhh ... aku bahkan melupakannya” Aku segera meraih bel yang terpasang di samping pintu.
Ting tong ... ting tong ... ting tong ...
“Haduh, kenapa tanganku jadi bergetar ya??” Aku menunjukkan tanganku pada kedua punggawaku.
“Mungkin kehadirannya sudah mendekat Zain” Budi ikut bergidik.
“Hah?? Kehadiran siapa??” tanyaku bingung.
“Onoh“ Budi menunjuk dengan wajahnya, memberiku kode jika ada seseorang di hadapanku.
“Hhhh ... Astagfirullah!!” teriakku kaget, ketika kulihat Papah mertua sudah berdiri tegak di hadapanku. Dengan perut buncitnya.
“A assalamu’alaikum Papah” aku segera menjabat tangannya.
“Hmhh“ jawabnya, membuatku semakin bergidik, seketika Imam dan Budipun ikut menunduk, entah kemana nyali mereka yang dari tadi begitu membara.
“Hhhuuuhhh ... kamu harus bisa Zain!!! Kamu adalah pria sejati, dewasa dan kekinian!!” Teriakku dalam hati, menguatkan diriku sendiri.
Bersambung ..................
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, dukung perjuangan Dede Zain dengan segala bentuk yang readers bisa. Author tunggu yaaaa...makasiiihhh .....