TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Telur Dadar Gosong


__ADS_3

“Kakak, ayo makan dulu!!!“ Teriak Zain, kondisiku setelah tiga hari ini mulai membaik, dokter bilang aku terkena gejala typus, yah itu memang penyakit tahunanku, setiap setahun sekali aku sering jadi langganan penyakit itu.


Hanya saja aku masih sangat lemas ketika harus beraktifitas, jadi kuputuskan untuk istirahat total, dan selama itu pula, posisi kami jadi terbalik, sekarang, Zain terlihat jauh lebih mandiri, memang benarkan?? selalu ada hikmah dibalik musibah, nah, hikmah dari aku sakit ini, bisa membuat Zain jadi lebih dewasa dan mandiri.


“Kak, ayo makan dulu“ Zain menongolkan kepalanya dari balik pintu.


“Iya," jawabku sambil menyibakkan selimut, mencoba berdiri, meski kaki masih terasa lemas, aku berjalan dengan tertatih tatih menuju ruang makan, setibanya di ruang makan aku duduk dikursi, Zain menyiapkan sarapan pagi ini, aku mengerutkan kening kala mencium bau aneh yang menusuk hidung.


“Zain, bau apa ini??” tanyaku sambil mengedarkan pandangan.


“Ah gak bau apa apa Kak,“ jawabnya sambil garuk-garuk.


“Ah, iya kayaknya ada yang kebakar atau gosong deh“ Aku masih kekeh,


“Gak ada kak, ini Kakak makan dulu,“ Zain menyodorkan sepiring telur dadar dihadapanku, ah ... memang telur adalah opsi termudah ketika kita tidak bisa masak, dan selama itu pula Zain terus mengkonsumsi telur yang dibuatnya sendiri, entah telur dadar atau telur mata sapi. Aku sampai bosan melihatnya, tapi aku tidak bisa protes karena keterbatasan energiku.


“Zain, kok baunya makin menyengat sih??” Aku masih celingukan, aku takut, kalau-kalau ada yang terbakar, lalu terjadilah hal yang tidak diinginkan.


“Masa sih kak??” Zain ikut mengendus-endus.


“Enggak ah,“ jawabnya santai.

__ADS_1


“Apa mungkin hidung aku juga ikutan sakit ya??” Aku bergumam.


Kemudian memotong telur dadar dan membalikkannya.


“Emh, ini yang jadi sumber bau gosong Zain“ Aku menunjukkan telur dadar buatan Zain, yang ternyata bawahnya berwarna hitam legam, khas masakan gosong.


“Eeeehhheeee“ Dia tertawa.


“Ya udah Kak, makan atasnya aja, yang gak gosongnya“ jawabnya sambil garuk-garuk, ish ... bisakah kamu tidak garuk-garuk kalau lagi makan Zain??.


Aku terdiam, antara lemas, dan ingin tertawa menyeruak di dalam hatiku, kelakuan anak itu, tapi aku harus menghargai tiap usahanya.


“Hmh, gak apa-apa“ jawabku.


“Aku udah beresin kamar aku lho kak,“ serunya dengan bangga.


“O ya??” tanyaku ragu, pasti ada yang tidak beres dengan segala pekerjaan yang Zain lakukan.


“Iya lah, hhee“ Dia tertawa.


“Ya udah aku berangkat sekolah dulu ya Kak" Zain meraih tanganku, menciumnya, kemudian berlalu pergi, meninggalkanku sendirian dirumah.

__ADS_1


Aku beranjak dari tempat dudukku, rasanya begitu bosan, tiga hari hanya rebahan didalam kamar, aku yang biasanya memiliki segudang kegiatan, tiba-tiba sakit dan harus istirahat, rasanya begitu tersiksa.


Aku berkeliling didalam rumah, rasa penasaran tiba-tiba bergelayut di fikiranku, penasaran tadi 'kan Zain bilang dia sudah membersihkan kamarnya, ah ... tapi aku tidak percaya padanya. Perlahan aku berjalan menuju kamar Zain, perlahan kubuka pintunya, dan ternyata benar kamarnya begitu bersih dan rapi, ya meskipun tidak wangi sih, aku masuk kedalam kamarnya.


“Di mana dia menyimpan semua baju-baju kotornya ya??” aku celingukan, jangan-jangan di bawah kolong ranjang, aku mengintipnya dan tidak ada.


“Ah, berarti Zain benar, hhee ... maaf Zain aku sudah suudzan“ Aku bergumam.


Aku berjalan kemudian menyandarkan tubuhku pada lemari pakaian Zain, rasanya punggungku terasa perih sekali, aku putuskan untuk kembali ke kamarku saja, aku mulai berjalan lagi dan ...


Gubbrrraaakkkkk ...


”Aaaaawwwww“ rasa sakit, kesal, jengkel, marah kian membuncah di kepalaku, kala sebuah gitar, bola basket dan setumpuk pakaian kotor menimpaku dari dalam lemari.


“Zaiiiiinnnnnn!!!!!!!!”


Bersambung.....................


Hay readers, jangan lupa dukung author terus yaaaa..... like, komentar, bintang lima, dan vote juga. terimakasih.


Tetap stay ya readers, ................

__ADS_1


__ADS_2