
Kini setelah kejadian itu aku menjalani hariku kembali, berusaha hidup normal meski terasa sangat tidak normal, aku kembali menjadi perempuan mandiri, yang ketika shubuh tiba, setelah selesai shalat shubuh, aku harus membenahi rumah, masak, lalu berangkat ke toko kue, atau ke pabrik teh, untuk sekedar mengecek keadaan usaha yang telah aku bangun, aku tidak bisa terus terpuruk dalam keadaan, masalah suami bocahku?? Ah ... ya sudahlah ... akan ku jalani hariku semampuku.
“Zain, bangun, udah siang,“ Aku membuka pintu kamar Zain, saat kulihat waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, tapi si bocah masih belum bangun untuk shalat subuh, aku mendorong pintu kamar, ish ... kamarnya begitu berantakan, lalu ku lihat dia menggeliat.
“Masih pagi Mamah,“ jawabnya sambil mengucek mata, hish ... mungkin dia masih merasa tinggal di rumahnya, kemudian dia kembali menggulingkan tubuhnya dikasur, dan kembali membungkus tubuhnya dengan selimut.
“Ini aku Zain, kamu gak shalat subuh??” Aku menyibak selimut yang menggulung tubuh jangkungnya.
“Dingin Mamah, Zain masih ngantuk“ rajuknya yang membuatku memicingkan mata.
“Ok. Kalau kamu gak mau bangun aku siram kamu pake air seember“ ancamku yang membuatnya terlonjak kaget, dan langsung terbangun dengan mata terkatuk-katuk.
“Hooooaaaaammmm“ Dia menggeliat sambil menguap, dan ... mengelap ilernya, Ya ampuuuunnnnn ... joroknya dia.
“Hah?? Kakak??” Serunya setelah menyadari keberadaanku.
“Iya, apa??” Aku mengedikkan bahu, sambil menggapai kemoceng yang menggantung di tembok, berniat membersihkan kamarnya.
“A ampun Kakak, iya Zain akan segera shalat kok“ jawabnya gemetaran segera bangkit dari tidurnya, kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi.
“Hih, kenapa dia?? Aku kan cuman mau bersihin kamar tidurnya, dasar bocah“ kemudian aku langsung membereskan tempat tidur yang seperti kapal pecah, setelah selesai, aku kembali ke dapur untuk mulai memasak. Sekarang aku harus menyiapkan sarapan untuk suami rasa adik. Huuuuhhhhh ...
“Kakak, di mana baju seragamku??” tiba - tiba saja suara si bocah terdengar, ketika aku tengah asyik meracik bumbu masakan, aku kembali menarik napas panjang, huuuuuuhhhhhh ... suamiku menanyakan seragam sekolahnya ya, bukan menanyakan dasi, atau kemeja kerja.
Aku menoleh ke arahnya. “Ada di lemari,“ jawabku, lalu kembali berkutat dengan aktifitas memasakku.
Tak lama kemudian ...
“Kakak, tidak ada“ Aku kembali menarik napas,
“Ya udah aku cariin“ Kemudian aku mematikan kompor, lalu beranjak menuju kamarnya, aku mencoba mencari seragam yang dicari Zain.
“Ini apa??” Aku mengacungkan seragam yang berada di tumpukan paling bawah.
“Heee ... maaf Kakak, tadi gak kelihatan,“ jawabnya cengengesan.
“Lain kali cari yang bener“ Aku mendelikkan mataku.
“I iya Kakak, maaf“ jawabnya sambil menunduk.
“Ya sudah, kalau sudah selesai, kamu langsung makan ya,“ Aku kembali berdiri, lalu bergegas menuju dapur.
Tak lama kemudian, Zain datang dengan tampilan yang berbeda, dia menggunakan seragam putih abu - abu, aku menatapnya dengan seksama, dia begitu imut dengan seragamnya.
“Ayo makan,“ Aku menyodorkan piring padanya, yang sudah duduk tepat dihadapanku.
__ADS_1
“Iya Kakak,“ Zain mengambil nasi goreng, lalu menyuapkannya, dan mengunyahnya perlahan, terasa suasana begitu canggung, hening, itu yang aku rasa pagi ini di meja makan.
“Kakak, Zain berangkat sekolahnya di antar Kakak aja ya“.
“Uhhuuukkkk ...” permintaan Zain, sukses membuatku tersedak.
“A apa??” tanyaku kemudian, aku?? Mengantarkan suamiku berangkat sekolah?? Eh ... serius ini?.
“ I iya Kakak, hheeee” jawabnya sambil tersenyum imut.
“Kamu, berangkat sekolahnya bawa motor aja, ada di garasi, cuman udah lama gak di pake,“ usulku kemudian, aku mengurut pangkal hidungku, seketika migrainku sepertinya kambuh, gara - gara permintaan si bocah.
“Ta tapi Kakak,“ Dia berusaha menyanggah.
“Berangkat sendiri?? Atau jalan kaki??” ancamku sambil mendelikkan mata.
“I iya Kakak,“ lagi, jawabnya dengan suara gemetaran.
“Ini uang jajan buat kamu, Aku akan pergi ke toko kue, jadi nanti pulangnya agak sore,” Aku memberikan uang lima puluh ribu kehadapannya. Uang yang kuambil dari ATM pemberian mertua, hhheeee.
“I iya Kakak, kalau Kakak, pulangnya sore, Zain boleh mampir dulu kerumah Mamah gak??” Pintanya sambil menatapku, ya ampuuunnnn Zain, bisakah kamu tidak menatapku dengan tatapan seimut itu???.
“Iya, boleh“ jawabku kemudian
“Kalau gitu, Zain berangkat sekolah dulu ya Kak“ pamitnya sambil mengulurkan tangan.
“Ish ... Kakak, aku mau salim“ jawabnya polos.
“Astagfirullah ....” Aku memegang kepalaku, kegiatan macam apa ini? Harusnya aku yang menyalimi tangan suamiku ketika dia akan beraktifitas diluar rumah, seperti mau berangkat kerja misalnya.
“Kakak, salim dulu“ Zain masih melambaikan tangannya di hadapanku.
“Iya“ jawabku sambil memberikan tangan kananku.
“Muach ... hhhiii ... dadah Kakak, sampai ketemu nanti sore“ Zain berlari meninggalkan aku yang tengah melongo, karena mendapat kecupan di tangan dari Zain.
“Zain!!!” hish ... dasar.
Aku membereskan piring dan makanan di meja makan, setelah selesai dengan aktifitas dirumah, aku berangkat ke toko kue.
“Selamat pagi Kak“ sapa Sarah pegawaiku,
“Pagiii ...” jawabku malas.
“Pak Riyan sudah kesini??” tanyaku pada Sarah yang sedang asyik mengelap meja.
__ADS_1
“Sudah Kak, lagi di dapur“ jawabnya sopan.
“Oh ya udah“ Aku melangkahkan kaki menuju dapur di toko kue ku.
“Hay Riyan,“ sapaku pada pria tampan yang sedang asyik menikmati koffee.
“Hay Yas, tumben pagi - pagi udah murung aja??” tanyanya menatapku lekat.
“Gak apa - apa, lagi suntuk aja“ jawabku asal.
“Kenapa?? Lagi ada masalah sama suami kecilmu??” tanya Riyan sambil terkekeh, yang membuatku kaget, darimana Riyan tahu tentang pernikahanku?.
“Riyan, darimana kamu tahu tentang pernikahanku?? Jangan bilang tahu dari Om Bayu“ tanyaku menerka.
“Yah, dari siapa lagi?? Om Bayu bercerita tentang pernikahanmu pada istriku, dan istriku bercerita padaku“ jelas Riyan yang membuatku tepuk jidat.
“Ah ... semakin banyak saja orang yang tahu tentang pernikahanku“ Aku mendesah, sambil menenggelamkan wajahku dimeja.
“Udah Yas, di jalani saja, mungkin ini adalah takdir kamu“ Riyan mencoba menenangkanku.
“Takdir?? Iya takdir .... “ jawabku sambil terus mengaduk koffee di hadapanku yang baru saja di sajikan pegawaiku.
Krriiiiinnnggg ... kriiinnngggg ...
Aku menyambar ponselku dari dalam tas yang belum sempat aku buka, ah, kenapa banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal ya??.
“Hallo Assalamu’alaikum???” sapaku setelah menekan tombol berwarna hijau di layar ponselku.
“Wa’alaikumsalam, apa benar ini dengan walinya Muhammad Zain, murid di sekolah SMA Harapan Bangsa??” terdengar suara seorang pria begitu tegas.
Wali??? Aku ini istrinya, bukan orangtuanya, kenapa Zain mengatakan jika aku walinya ya??.
“I iya betul, ada apa ya pak??” tanyaku kemudian, aku sungguh penasaran apa yang terjadi pada Zain.
“Maaf bu, kalau boleh tahu, saya bicara dengan Ibunya Muhammad Zain bukan ya??” tanya si penelpon, membuatku emosi.
“Bu bukan, sa saya Kakaknya“ jawabku terbata, karena telah berbohong, tapi aku juga tidak mungkin jika harus mengatakan aku istrinya.
“Oh, baiklah, kalau begitu Mbak harus segera datang ke sekolah sekarang,“ Suara si penelpon semakin tegas.
“Loh?? Memangnya ada apa ya??” tanyaku semakin dilanda kebingungan.
“...........................................”
Bersambung.....................
__ADS_1
Readers, jangan lupa dukungannya yaaaa,.....