TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Di Skors


__ADS_3

"Oh baiklah, kalau begitu Mbak harus segera datang ke sekolah sekarang,“ suara si penelpon semakin tegas.


“Loh?? Memangnya ada apa ya??” tanyaku semakin dilanda kebingungan.


“Akan lebih baik jika Mbak datang langsung ke Sekolah, agar penjelasan saya lebih jelas“ suara si penelpon semakin mendebarkan hati.


“I iya baiklah pak, saya akan segera datang ke Sekolah“ jawabku akhirnya.


‘Zaiiiinnn apa yang kamu lakukan?? Hingga membuat pihak sekolah menelponku??’


Dengan tergesa aku menyambar tasku dan langsung bergegas berangkat ke sekolahan Zain, setelah sebelumnya aku telah menitipkan tokoku pada pegawaiku.


Setibanya disekolah yang aku tuju, aku langsung memasuki ruang guru, rasanya begitu berdebar, kenapa aku ini? Sudah seperti orangtua siswa yang ketahuan anaknya nakal disekolah? Sebentar, apa Zain juga melakukan kenakalan di sekolah?? Ya Allah ...


“Permisi pak, saya wali dari siswa atas nama Muhammad Zain, sebelumnya saya mendapat telpon dari pihak sekolah untuk datang kesini,“ sapaku pada salah satu guru yang kebetulan ada dikantor sekolah.


“Oh, iya, Muhammad Zain, sedang ada di ruang BK bu, mari ikuti saya“ jawab pak Guru, yang ku ketahui namanya pak Ilyas, melihat dari name tagnya.


“Di ruang BK pak?? Zain kenapa?“ tanyaku kaget.


“Nanti guru BK yang akan menjelaskannya bu, mari“ jawab pak Ilyas, sambil berlalu mendahuluiku.


Aku menarik napas mengikuti langkah pak Ilyas, hatiku berkecamuk, apa yang telah dilakukan Zain, hingga aku di panggil ke sekolah.


Krrriiieeetttttt ...


Ruang BK dibuka,


“Astagfirullah, Zaiiiinnnn!!!!” teriakku kaget, dengan penampakkan dihadapanku.


“Kakak, hhheeee“ jawab Zain sambil tersenyum menyebalkan.

__ADS_1


Aku menutup mulutku, kala kulihat Zain sedang memegang kedua telinganya dengan kedua tangannya yang menyilang, kaki kiri diangkat ke atas, dan kaki kanan di jadikan penopang, baju acak - acakan, yang kuyakini kancingnya sudah tidak lengkap lagi, hidung berdarah, dan rambut yang acak - acakan, seacak - acakan hatiku. Eh?.


Ku edarkan pandanganku, ada tiga orang siswa yang bernasib sama dengan Zain, kuyakin mereka pasti rivalnya Zain, mengingat wajah mereka sudah babak belur, ku lihat juga para orangtua, wali dari murid - murid bandel ini tengah berbisik - bisik menatapku yang baru datang, entah apa yang mereka bisikkan. Bahkan aku melihat ada seorang polisi berperut gendut, menatapku dengan tatapan membunuh, seketika kakiku terasa lemas tak berdaya.


Ada apa ini?? Kenapa sampai bawa polisi segala?? Apa Zain telah melakukan kesalahan besar, hingga harus digiring ke kantor polisi?? Tapi mulutku seolah tak mampu mengatakan apapun. Aku hanya berjalan perlahan menghampiri guru BK yang tengah menunduk.


“Pak, maaf ...“ sapaku, yang sementara hanya bisa mengatakan itu, aku butuh waktu untuk mengumpulkan nyawaku.


“Iya, Mbak walinya Muhammad Zain 'kan?” Guru yang kutanya mendongakkan kepalanya.


“Astagfirullah ...” teriakku kembali kaget, kala kulihat sang Guru pun mencocoki lubang hidungnya dengan kapas yang sudah berwarna merah, karena darah yang mengalir dari lubang hidungnya, wajah yang biru lebam, dan rambut yang tak kalah acak - acakan.


“Silahkan duduk Mbak,“ Guru BK menunjukkan kursi, disebelah para wali murid yang lain.


“Ba baik pak“ jawabku gagap, entah apa yang harus kulakukan sekarang.


“Jadi begini, Bapak, Ibu, sebagai wali dari murid - murid ini, saya ingin memberitahukan, bahwa para siswa yang tak lain adalah putra dari Bapak dan Ibu sekalian, akan kami skors selama tiga hari kedepan,  karena telah melakukan pelanggaran sekolah,“ Guru BK membuka suaranya sambil meringis memegangi pipinya yang lebam, aku tahu pipi itu pasti terasa sakit, sesakit hatiku yang harus mengalami kenyataan ini ... iiiiieeeewwww ...


“Apa yang telah putraku lakukan hingga keadaannya seperti ini??” tanya si Ibu berbody montok, dengan make up menor, dan perhiasan yang wwaaawww....


“Jadi putra Ibu dan Bapak ini, telah melanggar peraturan sekolah, pertama mereka telah menyontek ketika ulangan sedang berlangsung, kedua mereka hampir saja melarikan diri dari sekolah, disaat jam pelajaran masih berlangsung, ketiga, awwww ... adddududuh“ penjelasan Guru BK terhenti, mungkin karena rasa sakit dan perih disekitar wajahnya yang dari tadi dia pegang.


“Yang ketiga, karena mereka ketahuan mau bolos sekolah, mereka saling menyalahkan, dan akhirnya terjadilah perkelahian ini“ jelas guru BK sambil terus meringis, sementara aku?? Jangan ditanya, aku shock, kaget, kesel, rasanya ingin murka.


“Lalu, bapak juga kena pukul??” tanyaku memberanikan diri untuk bertanya.


“Iya Mbak, saya kena beberapa pukulan, ketika saya berusaha untuk melerai mereka“ jawab Guru BK.


“Ya Allah,“ Aku bergidik membayangkannya, kemudian pandanganku beralih pada makhluk yang membuat masalah, dan yang di tatap malah cengengesan tanpa dosa.


“Harusnya Bapak sebagai guru di sekolah bisa membimbing dan mendidik anak - anak ini dengan benar dong!!“ teriak si Ibu yang bertubuh langsing membuka suaranya.

__ADS_1


“Iya, Bapak gimana sih?? Bapak gak lihat anak saya babak belur begini??” teriak si Ibu montok kembali bersuara.


“Iya, Bapak 'kan gurunya, tidak sepantasnya Bapak men-skors putra kami!!“ teriak mereka hampir bersamaan.


“Ah ... sudah sekarang siapa yang akan bertanggung jawab untuk pengobatan anak - anak ini??” tiba - tiba pak polisi yang dari tadi terdiam bersuara.


“Pak, kenapa Bapak sampai manggil polisi segala?? Memangnya tidak bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan??” tanyaku pada Guru BK, yang semakin terlihat frustasi.


“Maaf Mbak ...” Belum Guru BK menjawab,


“Saya orangtua dari murid yang adik Mbak tonjok!“ Polisi itu menatapku lekat, seolah meminta pertanggungjawaban penuh dariku, aku memejamkan kedua mataku, seketika kepalaku berdenyut - denyut.


“Iya Mbak, adik Mbak juga yang membuat seragam anak saya rusak, Mbak harus bertanggung jawab!“ teriak si Ibu montok, yang membuatku semakin takut.


“Dan adik Mbak juga yang membuat anak saya wajahnya jadi lebam begini!“ kini si Ibu bertubuh langsing ikut menimpali, aku merasa terintimidasi, kenapa semua jadi meminta pertanggung jawaban dariku?.


“Ma maksudnya?? Saya harus menanggung semua ini?? Kenapa?? Bukannya anak kalian juga membuat adik saya terluka??” merasa tidak terima, aku mencoba bernegosiasi.


“Tapi anak kami yang paling parah, memangnya Mbak tidak lihat kondisi anak - anak kami??” jawab mereka hampir kompak, dengan wajah yang siap menerkamku.


“Benar begitu Zain??” tanyaku pada suami tengilku, lalu ku tatap ketiga temannya yang bisa kupastikan, luka mereka memang jauh lebih parah dari Zain.


“Kakak, maaf“ jawabnya sambil menundukkan kepalanya dalam,


Aku menarik napas dalam, ada kejengkelan yang sulit ku ungkapkan.


“Baiklah, saya akan bertanggung jawab untuk semuanya, termasuk untuk pengobatan Bapak guru,“ jawabku lemah sambil menatap Guru BK yang dari tadi hanya memandangku, dengan tatapan iba. Guru BK mengangguk kemudian meremas rambutnya yang sudah berantakan.


Sementara suami tengilku hanya tersenyum cengengesan menenggelamkan mata sipitnya.


Bersambung...................

__ADS_1


Hay readers, jangan lupa terus dukung kisah Zain dan kak Yas yaaaa.......


 Readers, author merasa ikut prihatin, atas menyebarnya virus corona yang sekarang sudah melanda Indonesia, dan sudah menelan korban, semoga kita semua selalu ada dalam lindungan Allah swt. yaaaa,,,,


__ADS_2