
“Kakak!!!”
“Zain???” Mataku terbelalak kaget, ketika menatap Zain sudah ada dibelakangku, rambut acak-acakan, baju berantakan, dan berjalan terpincang-pincang.
“Kakak kenapa masih disini?? ini udah malem Kakak“ Zain mengintimidasiku.
Sementara aku hanya saling pandang dengan Riyan, Riyan menahan senyumnya, sambil memalingkan muka.
“Iya, aku sibuk hari ini,“ jawabku seadanya.
“Kakak, ayo pulang!! tidak baik berduaan dengan pria bukan muhrim!!” teriaknya lagi, membuat tawa Riyan pecah.
“Hmht, dasar anak kecil“ jawabku gemas mendengar kata-katanya.
“Kakak, aku bukan anak kecil, aku suamimu!!!” Lagi Zain berteriak.
“Hah ... mana bisa disebut suami, jika untuk menyentuh istrinya saja sudah gemeteran mau pingsan??” jawabku lantang, aku bahkan melupakan keberadaan Riyan yang hanya terkekeh geli melihat pertengkaran kami.
“Kakak, jangan bicara begitu, tidak baik, ayo pulang!!” dengan kaki diseret, Zain mencengkram tanganku kuat, lalu menyeretku kearah luar, sementara Riyan dan pegawai lainnya, hanya tersenyum dan memalingkan wajahnya.
Mau tidak mau, aku mengikuti langkah Zain, sambil menggelengkan kepala, dengan kaki yang cedera, mau dibawa kemana tubuhku ini??.
Tiba diluar dia terdiam, lalu menatapku tajam “Kakak, kenapa Kakak selalu berduaan dengan Om itu???” tanya Zain, tatapannya itu lhoooo ... Duh ...
“Om yang mana??” tanyaku celingukan, oh, mungkin yang dimaksud Zain adalah Riyan.
“Yang tadi sama Kakak“ Zain menjelaskan.
“Oh, itu Riyan adiknya Om Bayu“ jelasku.
“Kakak, tidak boleh dekat dengan dia lagi, aku suami Kakak!" Zain berteriak.
“Iya," jawabku sambil berlalu, mendekati mobil yang terparkir, yang tadi kugunakan ketika mendatangi toko kue, Zain mengikutiku dari belakang.
__ADS_1
“Kakak, Kakak dengerin omongan suami Kakak 'kan??” tanyanya lagi terlihat frustasi, tapi itu malah menambah kelucuan diwajahnya.
“Hmmhh ...” jawabku.
“Kakak, jawab aku!!!“ Zain berdiri didepanku.
“Zain, masuk mobil!!“ perintahku.
“Iya kak“ jawabnya, sambil kembali menyeret kakinya, membuka pintu penumpang, dan langsung duduk.
“Anak baik" Aku tersenyum melihat tingkahnya.
“Kakak, jangan pernah menemuinya lagi" lagi-lagi Zain berteriak, entah ada apa dengan anak ini,
“Zain, kenapa kakimu dan kenapa dengan penampilanmu?? apa kamu bertengkar lagi??” tanyaku setelah menyadari kembali, betapa berantakannya dia.
“Ti tidak, “ jawabnya menggeleng, kemudian menundukkan pandangannya.
“Lalu???” tanyaku.
Aku memutar kedua bola mataku “Lagi??”.
“Iya Kak, maaf" jawabnya semakin menunduk.
Aku hanya terdiam, hari ini sungguh hari yang sangat melelahkan.
Setibanya dirumah, aku langsung masuk kedalam rumah, tidak lagi mempedulikan Zain yang sedang berusaha turun dari mobil.
Aku mendaratkan bokongku dikursi, Zain masuk dan menatapku dalam, entahlah ada apa dengan bocah ini,
Kkrriinnngg ... kkkrriiinnggg ... kkrriiinnnggg ...
Suara ponselku berbunyi, aku mengambilnya dari dalam tas, terlihat dari layar, Riyan menelponku, mungkin ada masalah lagi.
__ADS_1
Aku segera mengangkatnya “Hallo Assalamu’alaikum Yan, kenapa??” tanyaku, sementara Zain terus memelototiku, aku merasa tidak nyaman dan langsung masuk kedalam kamar.
“Tidak apa apa Yas, kamu baik baik saja??” tanyanya.
“Iya, aku tidak apa apa“ jawabku, sambil duduk ditepi ranjang.
“Kakaaaaaaaakkk!!!!!” tiba-tiba saja teriakan yang melengking terdengar dari ruang tengah.
“Astagfirullah,“ Aku segera mematikan telpon dengan Riyan, dan langsung berlari kearah suara berasal.
“Ada apa Zain??” tanyaku kala melihat Zain tengah naik diatas soffa sambil berjinjit ketakutan.
“Ada kecoak Kak,“ jawabnya sambil bergidik.
“Kecoak?” tanyaku bingung, ku edarkan pandangan, tapi aku tidak menemukannya.
“Iya, disana, tadi lari kebawah soffa“ jawabnya sambil menunjuk-nunjuk.
“Ah, ya sudah besok aja Zain, aku mau mandi dulu“ jawabku malas.
“Tidak Kakak, harus dicari sekarang, kalau tidak kecoaknya akan berkembang biak“ jawabnya, membuatku jengkel.
“Iya, awas kamu, jangan berdiri diatas" Aku mengibaskan tangan.
Hampir setengah jam berlalu tapi kecoak si mahluk menggelikan itu, aku tidak menemukannya, aku sudah nungging miring-miring di antara soffa, sebagian soffa lagi, aku berusaha mengangkatnya, tapi masih tidak kutemukan.
“Zain, tidak ada“ Aku menatap Zain, yang sedang santai memperhatikan aku.
“Kakak, jangan kemana-mana, Kakak disini aja, temenin aku, aku takut" rengeknya sambil memegang tanganku.
Aku menarik napas, ‘kamu bohong Zain, tidak ada kecoa, tapi kamu tidak ingin aku menelpon Riyan lagi 'kan??’ hatiku berbisik.
“Iya, baiklah" jawabku sambil kembali membenahi soffa yang sudah berantakan.
__ADS_1
Bersambung.....................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers.............