TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Wejangan Pamer


__ADS_3

“Zain, Papah harap kamu bisa belajar lebih giat lagi, karena kamu kan sudah memasuki semester akhir, sebentar lagi kamu akan mengikuti ujian, Papah harap kamu bisa belajar dengan lebih giat lagi,“ Papah mertua membuka suara ketika kami tengah makan bersama,


“Papah, Zain mau masuk club sepak bola Papah,“ Zain menjawab wejangan yang Papah nya berikan.


“Zain, apa yang bisa kamu andalkan dari menendang bola?? Apa kamu akan kaya raya hanya karena jadi pemain bola amatiran??jadilah pengusaha seperti Papah,“ Papah terus merayu putranya agar mengikuti jejaknya.


“Pah, Zain hanya ingin menjadi pesepak bola terkenal, itu aja kok“ Zain masih terus menjawab perdebatan dengan sang Ayah.


Sementara aku dan Mamah hanya diam menyimak, ada rasa tidak nyaman ketika perdebatan ini dimulai.


“Zain, apa kamu lupa?? kamu sudah menikah, dan kamu sudah memiliki tanggung jawab yang sangat besar, sebagai laki-laki jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, jangan terus kekanakan" Papah berbicara sudah setengah berteriak.


“Tapi Pah, menjadi pemain sepak bola adalah mimpiku Pah, aku tidak bisa menjadi pengusaha seperti Papah" Zain masih merajuk,


“Zain, sampai kapan kamu akan terus mengecewakan kami??” Papah menatap tajam pada Zain, sempat kulihat Zain menunduk.

__ADS_1


“Tapi, Pah, biarkan Zain meraih mimpinya" Aku mencoba membuka suara.


“Tidak Yas, Papah tidak suka dengan pemuda yang hidupnya hanya tergantung pada gaji, berapa gaji pemain sepak bola?? seratus juta?? dua ratus juta?? sementara para pengusaha bisa menghasilkan miliaran uang hanya dalam waktu satu atau dua jam, cobalah berfikir lebih jauh“ Papah terus memaksakan kehendaknya.


“Pah, Zain belum mengerti untuk urusan seperti ini" kini Mamah membuka suaranya.


“Mah, Jangan terus membela anak manja ini, dia tidak akan pernah dewasa jika kalian terus membelanya, biarkan dia belajar bertanggung jawab, paling tidak bertanggung jawab pada dirinya sendiri" ucap Papah berapi-api,


“Mamah juga tau, Papah dulu memulai karier Papah setelah Papah lulus sekolah menengah atas, mungkin seusia Zain sekarang, sudah ada banyak hal yang Papah hasilkan, jadi ketika usia kita senja, kita tinggal menikmatinya. Zain, segala usaha dan kerja keras itu harus dimulai ketika kamu berusia muda, mumpung kamu masih banyak energi, mumpung fikiran kamu masih jernih, kamu harus gunakan kesempatan itu Zain“ Papah masih terus berapi-api.


Yah mungkin apa yang dikatakan Papah mertua ada benarnya juga, tapi sepertinya anak manja seperti Zain, tidak bisa diperlakukan dengan keras, apalagi kasar. Mendidik Zain harus dengan cara kelembutan.


“Pah, Zain ingin menjadi pemain sepak bola titik“ Zain, meninggalkan meja makan, kemudian berlalu pergi, menuju kamarnya.


Bruuukkkk ...

__ADS_1


Kami terhenyak saat mendengar pintu kamar Zain dibanting.


“Dasar anak nakal!!!! beraninya dia bersikap seperti itu dihadapan orang tua!!!” Papah menahan amarah, kemudian ikut berlalu meninggalkan meja makan.


Aku menarik napas, kemudian saling menatap dengan Mamer, seketika suasana menjadi sangat canggung. Entah apa yang harus kulakukan sekarang.


Menjadi pemain sepak bola adalah mimpi Zain, sementara aku, Pamer, dan Mamer tidak menyetujui mimpi Zain, ah ... haruskah aku membantu Zain?? membantunya mewujudkan mimpinya?? ya Allah ... bagaimana ini?? jika aku membantu Zain itu artinya aku harus ikut membangkang pada Pamer??.


Dan itu artinya mungkin saja aku juga tidak akan menjadi menantu kesayangan mereka lagi, ah ... aku jadi dilema, apa yang harus kulakukan, ayolah Zain, demi kemaslahatan bersama mengalahlah pada kami, jangan keras kepala lagi,


Setelah selesai makan dengan dipenuhi rasa hampa, aku membereskan meja makan di bantu Bi Inah, setelah selesai aku menuju kamar Zain, untuk membujuknya.


Bersambung......


Jangan lupa dukungannya ya readers.................

__ADS_1


Like, komentar, bintang lima, dan votenya juga. terimakasih.


__ADS_2