TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Balado Jengkol


__ADS_3

Yups ... siang ini aku sedang berada di salah satu mall yang cukup besar di daerahku. Berjalan-jalan bersama Mamer tercinta. Bergandengan tangan tanpa ada yang berniat untuk saling melepaskan genggaman, yaellah, kita udah kayak orang pacaran aja. Aku dan Mamer kadang bisa seromantis itu lho. Hee.


“Yas, ini bagus gak??” tiba-tiba Mamer menarik tanganku untuk melihat baju bayi yang memang terlihat sangat lucu.


Aku mengangguk “Bagus Mah, Yas suka” jawabku.


“Ini juga bagus yah??” Mamer kembali menunjukkan alat mandi bayi dan perlengkapan lainnya.


Aku kembali mengangguk “Bagus Mah” jawabku lagi, bingung mau jawab apa lagi, selain daripada kata bagus dan YES!.


“Ini juga” Mamer mengacungkan stroler bayi, aku kembali mengangguk.


“Ini juga!!” Mamer mengacungkan bedak bayi dan teman-temannya, aku mengangguk.


“Ini juga!!”


“Ini”


“Ini”


“Ini”


Ya ampppuuuunnn ... lama-lama cuman ngangguk doang, kepalaku bisa pegel ini. Gimana dong, semua peralatan bayi yang terlihat oleh Mamer rasanya semuanya bagus, Mamah jadi terlihat kalap kala melihat semua barang-barang bayi ini. Dan aku hanya bisa pasrah.


“Yas, kamu juga milih baju buat kamu yah” Mamer baru menawarkan sesuatu untukku setelah kakiku hampir copot karena terus berkeliling.


“Ah, enggak Mah, baju baju Yas masih banyak kok” jawabku, kali ini aku menggeleng, setelah terus mengangguk.


“Eh, gak apa-apa, itu banyak banget baju Ibu hamil yang bagus bagus!” seru Mamah, sambil berjalan mendekati deretan baju Ibu hamil dengan merek ternama, aku kembali mengikuti Mamah dari belakang.


“Ini bagus Yas” Mamah mengacungkan baju Ibu hamil bermodel daster.


Aku kembali mengangguk “Iya Mah” jawabku pasrah, kalo sama Mamer aku gak bisa membantah, takut aja tiba-tiba aku tidak lagi menjadi mantu kesayangan.


“Yang ini juga yah” Mamah kembali mengacungkan baju lainnya.


“Iya Mah”


“Yang ini mau??”


“Mau Mah”


“Ini juga yah??”


“Bungkus Mah”


“Ini juga kayaknya lucu”


“Aku lopein Mah”


“Oke, dua puluh baju Ibu hamil sudah di keranjang, kamu masih mau apalagi Yas??” tanya Mamah menatapku yang sudah terlihat sangat letih.

__ADS_1


Aku menggeleng, “Aku udah gak mau apa-apa lagi Mah, semua yang aku mau udah di borong” jawabku lemas.


“Oke, kalau gitu kita cari sesuatu buat Zain yuk” Mamah menuntun tanganku, menuju arah etalase jam tangan khusus pria.


Aku kembali membuntuti Mamer tanpa jawaban, hanya anggukan yang bisa aku lakukan sekarang.


“Yas, ini bagus gak??” tanya Mamer menunjukkan jam tangan berwarna hitam elegant, dengan model teranyar.


“Sepertinya itu tidak cocok buat Zain Mah, Zain itu masih muda, imut, dan energik, jadi modelnya mungkin bisa model yang agak lebih muda lagi” jawabku, kali ini aku tidak setuju dengan pilihan Mamer, ya kali suami imutku mau di beliin jam tangan dengan model untuk bapak-bapak. Bisa lunturlah pamor keimutan suamiku.


“Oh, begitu yah??” Mamer kembali memperhatikan deretan jam tangan yang lainnya.


“Kalau itu gimana Yas??” tanya Mamah lagi, menunjukkan jam tangan lainnya, dengan model yang cocok untuk Pamer.


“Emmhhh ... enggak” Aku kembali menggeleng.


“Yang ini??”


“Enggak”


“Ini??”


“Enggak”


“Kalau gitu yang ini??” setelah beberapa jam tangan Mamer tunjuk, akhirnya aku menyetujui pilihan Mamer. Jam tangan berwarna hitam dengan model khas remaja. Ah, Zainku baru berusia dua puluh tahunan, jadi, dia bisa dibilang masih remaja bukan??


“Bagaimana Kak?? Jadi jam tangannya??” tanya sales jam tangan yang sudah terlihat jengkel, karena perdebatanku dengan Mamer.


Duh, penampilan khas horang kaya, tapi masih nanya discount, Mamer emang sesuatu, jiwa emak-emak yang suka nawar, dan berharap ada discount juga menempel di jiwa Mamerku, hhee.


Sales tersenyum kemudian menggeleng “Maaf, untuk produk ini kebetulan sedang tidak ada discount Bu, karena ini jam tangan keluaran terbaru” jawabnya masih sopan.


“Ya udah deh, saya ambil yang ini aja” Mamer mengambil nota dari sales, kemudian menuntunku menuju kasier.


Lama aku mengantri, hingga pada akhirnya tibalah giliran kami untuk membayar, banyaknya belanjaan kami, membuat ada banyak orang yang terpaksa harus mengantri juga. Mamer memang luar biasa!.


“Totalnya jadi empat puluh juta delapan ratus lima puluh ribu dua ratus rupiah bu” jelas cashier.


“Whaaaatttt?? Si Mbak kasier pasti bercanda ini” Aku menutup mulutku, sedikit ternganga, aku tidak percaya ternyata barang belanjaanku, suamiku, dan anakku bisa sebanyak itu.


Mamer mengeluakan sebuah kartu sakti dari dalam dompetnya, yang berada di dalam tas branded yang dari tadi di tentengnya.


“Bayar pake ini” kata Mamer dengan santainya.


Duh, meskipun kedua orangtuaku banyak uang, tapi aku tidak pernah membiasakan diriku untuk menghamburkan uang, apalagi untuk sesuatu yang menurutku unfaedah, jadi, bagiku belanjaan dengan nominal segituh, cukup luar biasa.


“Yas, kita makan dulu yuk” ajak Mamer setelah selesai membayar, sementara belanjaan kami yang segudang, sudah di urus oleh sopir setia Mamer.


“Boleh Mah,” Aku mengangguk.


Aku dan Mamer kembali berjalan menuju kafetaria yang berada di mall.

__ADS_1


“Eh Yas, itu ada kursi pijat refleksi, kita kesana dulu yuk” Mamer menarik tanganku menuju kursi pijat refleksi yang beliau maksud.


“Ampun deh” Aku menepuk jidatku.


“Boleh Mah” lagi-lagi aku pasrah, mengikuti Mamer menduduki kursi pijat refleksi, yang langsung di layani si Mbaknya.


Eh, di pijat gini, setelah seharian berjalan kesana kemari enak juga lho, apalagi leherku terasa sangat kaku, karena dari tadi aku hanya terus angguk-angguk dan geleng-geleng, perlahan tubuhku yang terasa kaku bisa mulai rileks. Ah ... nyesel tadi dalam hati sudah ngutuk Mamer. Heee ... maaf yeee Mamer.


Tiga puluh menit, aku menikmati sentuhan kursi ajaib ini, rasanya badan agak sedikit enakan. Lanjut, Mamer mengajakku makan-makan yang tadi, sempat tertunda, akibat godaan si kursi ajaib itu.


Tiba di kaffetaria Mamah mengajakku duduk di sebuah kursi dan melambaikan tangannya pada pelayan.


“Kamu mau makan apa Yas??” lagi Mamah bertanya.


“Aku mau sosis bakar, mau batagor, mau siomay, sama jus alpukat, boleh ya Mah??” Aku mesem-mesem, malu aja dengan porsi makanku yang segunung. Tapi, aku beneran laper lho, mungkin anakku yang di dalam perut merasakan jika Ibunya habis di aniaya oleh kenikmatan dunia, yang di tawarkan Neneknya.


“Boleh dong, gak di tambahin apa apa lagi??” tanya Mamer tetap santay.


“Gak ah” aku menggelengkan kepala malu-malu.


“Oke, kalau gitu, saya pesen nasi, sama balado jengkol ada Mbak??” tanya Mamah, yang membuatku agak sedikit terkekeh geli, horang kaya makanannya jengkol, malu-maluin, hhii ... tapi jengkol makanan ternikmat di dunia juga lho.


“Oh, maaf bu, gak ada” Pelayan menggeleng sambil mengulum senyum.


“Kalau gitu gado-gado aja ada gak??” tanya Mamer lagi.


“Ada bu, mau di tambah apa lagi??” tanya pelayan ramah.


“Tambah siomay aja, minumnya jus jeruk” tambah Mamer.


‘Ebuseettt ternyata Mamer maruk juga, hhii’ aku semakin terkekeh, ternyata bukan cuman bumil yang porsi makannya menggila, Mamer juga, mungkin dia lelah setelah seharian belanja bagai orang kesurupan.


“Baik Bu, pesanannya di tunggu ya” Pelayan tersenyum sambil menganggukkan kepala, dia berlalu pergi untuk menyiapkan pesanan kami.


“Yas, kamu capek gak??” tanya Mamer.


“Setelah di pijat, jadi enggak lagi Mah” jawabku jujur.


“Kita main ke kantor Zain yuk, kita kasih kejutan, sekarang udah jam empat, bentar lagi Zain pulangkan?? Kita pulangnya barengan aja, lagian Mamah mau ngasihin jam tangan itu sekarang, sebagai hadiah” Ajak Mamer. Hadiah?? Hadiah buat apa?? Perasaan banyak banget hadiah yang Mamer kasih keanaknya, meski gak ada acara sekalipun.


“Ayo Mah, Yas seneng bisa main ke kantor Zain” jawabku antusias.


“Mamah juga” Mamah tersenyum.


Tak lama pesanan kami datang, tanpa aba-aba, tanpa basa basi, akhirnya kami langsung menyantap pesanan kami. Tanpa bicara, kami hanya menikmati makanan kami masing-masing. Hari ini, aku sungguh bahagia, meskipun kelelahan, karena aku sudah di ajak shopping, di ajak di pijit, di ajak makan plus mau di ajak ke kantor suamiku. Mamer emang is the best. He ..... hidup Mamah mertua!!!.


Bersambung ............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, komentar, bintang lima dan vote juga. Aku tunggu yaaa ....


Terimakasiiihhh .....

__ADS_1


__ADS_2