
Tiba di sebuah lapangan bola yang lumayan luas, tempat tujuanku kali ini, aku menuntun Zain turun dari dalam mobil, Zain patuh mengikutiku dari belakang.
“Kakak, mau ngapain sih kesini segala??” tanyanya, kurasakan tangannya meronta.
“Eits, kamu gak boleh nolak, sini, berdiri disini,“ Aku mengatur posi Zain, untuk berdiri tegak, menghadapku, sama persis dengan tutorial yang tadi sempat aku peragakan.
“Ayo Zain, kamu harus semangat, kamu harus banyak melakukan olahraga ringan, supaya sendi kamu kembali terlatih, dan kembali bisa digunakan untuk menendang bola“ jelasku antusias.
“Hah?? jadi Kakak ngajakin aku kesini, hanya karena Kakak mau ngajarin aku latihan olahraga??” tanya Zain, dengan wajah di penuhi rasa heran.
“Iya lah, kamu fikir aku ngajakin kamu ke sini buat shopping apa“ Aku mendelik, kemudian mengatur posisiku.
“Kamu siap Zain?? ikutin gerakan aku ya“ Aku mulai berkacak pinggang.
“Tidak, aku tidak mau latihan,“ tiba-tiba Zain berteriak.
“Lah?? kok gak mau?? kenapa??” tanyaku bingung.
“Aku udah gak mau jadi pemain bola lagi“ sentak Zain.
__ADS_1
“Loh? kenapa?? Bukannya menjadi pemain bola adalah mimpi kamu??” tanyaku mengerutkan dahi.
“Itu dulu, sekarang, semenjak kaki aku cacat, aku gak mau jadi pemain bola lagi“ suara Zain terdengar bergetar.
“Ya ampun, kok kamu mudah nyerah sih?? jangan cepet putus asa gitu dong Zain, kamu harus tetap semangat!!!“ Aku membulatkan tanganku lalu mengacungkannya, pertanda memberi semangat buat Zain.
“Gak Kakak, aku gak mau“ Zain mendudukkan dirinya di tanah.
“Ish, remaja kok labil amat ya?? perasaan dulu aku gak gitu-gitu amat?? “ Gumamku dalam hati.
“Ya terus sekarang kamu mau gimana Zain?? masa kamu mau menyimpan mimpimu sampai disini??” Aku masih berusaha merayunya.
“Aku gak mau Kakak, gak mau, gak mau titik. Aku gak mau latihan lagi“ Zain beranjak kemudian setengah berlari menjauhiku.
“Zain, tunggu dong, kok kamu marah sih?? kamu ninggalin aku lagi, Zain!!” Aku berteriak memanggil namanya berkali-kali, tapi si anak gadis masih tetap berlari gak jelas,
“Katanya gak mau olahraga, tapi itu malah lari-larian, dasar bocah“ Aku mendumel gak jelas, jengkel dengan sikap Zain.
“Hah?? Zain mana ya?? cepet amat larinya, bukannya dia kakinya masih sakit ya?? huh ... huh ... huh ... “ Aku celingukan mencari Zain, sambil menyeka keringat, karena aku kehilangan jejaknya.
__ADS_1
“Hhiihhii, Zain boleh minta nomor ponselnya gak??” terdengar suara cekikikan dari balik pohon rindang, yang terdapat sebuah kursi.
Ku edarkan pandangan, lalu mendekati arah suara, terlihat Zain sedang duduk di kursi dengan di apit dua perempuan.
“Ck, bocah, beraninya dia ninggalin aku, dan malah asyik-asyikan dengan dua ABG ini!!!” Aku mengeratkan gigi, pertanda kesal dengan sikap Zain.
“Zain!!” sentakku, sambil melipat tangan di dada.
“Hah? Ka kakak, hhee” Zain garuk-garuk.
“Hay Kakak,“ sapa dua gadis yang tengah mengapit Zain.
“Hmh,“ ternyata dua ABG yang mengapit Zain adalah Cindy dan Alice, dua perempuan yang menyukai Zain. Menyebalkan!.
“Kakak, di sini juga??? Kakak aku lagi minta nomor ponselnya Zain, tapi gak di kasih“ Alice mengerucutkan bibirnya, gadis cantik dengan balutan baju olahraga pas badan. Terlihat begitu imut dan seksi, sementara aku?? oh may got. Ku lirik diriku sendiri, Celana olahraga komprang, kaos olahraga komprang, dan hijab yang sudah penuh dengan keringat, dan badan sudah agak bau sepet, karena dari pagi melakukan olahraga, tanpa mandi. Iiieeewwww ...
“Kalian, kenapa ada disini ??” Tanyaku akhirnya
“Kami.....”
__ADS_1
bersambung .....
jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ...