
“Ku menangiiiiiissssss ... membayangkan ... betapa kejamnya dirimu atas diriku, kau duakan cinta ini, kau pergi bersamanya .... hhhuuuuoooooo ...”
Sempat ku dengar lengkingan lagu khas serial tv ikan terbang, yang ceritanya kebanyakan menceritakan tentang drama rumah tangga yang gak jauh dari penghianatan, perpelakoran dan sejenisnya.
“Ih ... sejak kapan sih?? Kak Yas suka nonton acara begituan?? Mana suara tv nya sengaja banget di kencengin lagi.
“Dasar pelakor!! Gak tau diri!!” sempat ku dengar umpatannya yang membahana.
“Dasar suaminya juga gak tau malu! Udah punya istri cantik, kaya! Masih aja kegatelan sama cewek lain, mentang-mentang ceweknya lebih cantik dan lebih muda dari istrinya!, aku sumpahin suami kayak gituh bakalan jadi jomblo seumur hidup!!!” teriaknya lagi. Mana bisa di sumpahin jadi jomblo?? Kan udah nikah juga, hadeeuuhh ... dasar emak-emak korban sinetron!.
Aku mendekatinya, lalu duduk di sampingnya, oke aku tau dia masih kesal padaku gegara bunga yang di kirim Imam padaku, dia masih mengira kalau bunga itu buat perempuan lain, ya emang bunga itu buat perempuan lain, bunga itu buat Cindy, perempuan yang di incar oleh Imam. Imam minta tolong padaku, agar aku mau membantunya menjodohkannya dengan Cindy, karena Imam tau Cindy pernah menyukaiku, jadi akan mudah bagiku untuk mempertemukannya. Dan Imam berfikir Kak Yas gak akan cemburu sama Cindy, karena Cindy masih kerabat Kak Yas.
“Mommy, sejak kapan sih suka nonton drama yang kayak begituan??” tanyaku merapatkan posisi dudukku padanya. Sementara itu Pelangi sudah tertidur di kamarnya, mungkin putriku kelelahan.
Dia tidak bicara. Oke, aku lebih suka dia ngomel-ngomel daripada melihatnya diam, manyun, cemberut seharian. Jujur, ini agak horor bagiku.
“Mommy, jangan marah-marah dong, oke aku akan jujur” kedua tanganku meraih wajah cantiknya, kemudian mengarahkannya pada wajahku, aku ingin dia menatapku.
“Jujur apa???” tanyanya sambil memutar kedua bola mata indahnya.
“Bunga itu buat Cindy” jawabku jujur. Iyah, aku akan memilih jujur saja, daripada aku harus berbohong lagi kan?? Masih inget kan?? Kebohongan yang pernah ku lakukan tempo hari?? Came on, meskipun aku merasa kala itu, aku berbohong demi kebaikan, nyatanya, apapun bentuk kebohongan tetap aja salah. Oke, aku gak mau kejadian itu kembali terulang.
“Appppaaaaa??? Kamu jahat banget sih?? Kamu selingkuh sama Cindy?? Cindy itu udah kayak adik aku sendiri, hiks ...” eeeehhh ... dia salah faham mulu deh, cewek mah gituh, suka cepet pake perasaan, belum juga aku beres jelasinnya.
‘Ku menangiiiiiisssssss ... membayangkan ...’
Ya elah, kenapa lagu itu di puter lagi sih?? Dengerin lagu itu, tangis Kak Yas semakin menjadi. Tuh kan ...
“Ya ampuuunnn ... bukan gitu maksudnya Kak, dengerin penjelasan aku dulu dong” Aku mengusap air matanya.
Dia menatapku, aku gak bisa lihat dia nangis kayak gituh, rasanya aku ngerasa bersalah banget gituh.
__ADS_1
“Bunga itu memang buat Cindy, tapi bunga itu dari Imam” jelasku akhirnya.
Sejenak dia terdiam, mematikan volume tv. Eh, bukannya dari tadi kek.
“Apa?? Maksudnya gimana??” tanyanya sambil mengelap air matanya, dengan ujung hijabnya, ck.
“Iya, jadi, Kakak masih inget kan?? Waktu itu Imam datang kesini?? Ya itu, dia minta aku jodohin dia sama Cindy, karena yang dia tau Cindy itukan masih kerabat kita” jelasku.
Dia terdiam, mungkin mencerna setiap ucapanku.
“Oh gituh??” Dia memanggutkan kepalanya, “Kenapa gak bilang dari kemaren sih?? Kan aku bisa bantu mereka” Dia tersenyum. Tuh kan, coba aja positif tingking dari tadi fikirannya, jangan negatif mulu napa?.
“Ya, habis Imam bilang ini rahasia, sebagai pria kekinian, masa iya buat dapetin cewek harus minta bantuan sama kita??” Aku mengedikkan bahuku, lalu menyeka sisa air mata makmumku dengan jempolku.
“Gitu aja kok malu” Dia terkekeh,
“Makanya, jangan mikir buruk dulu sama suami sendiri” Peringatku, dia menunduk malu malu.
“Iya, maafin aku juga, harusnya aku gak nyimpen rahasia apapun dari Mommy” Aku mengelus kepalanya lembut. Sudah menjadi kodratnya mungkin, jika perempuan itu hatinya lembut, sekuat, setegar, dan setangguh apapun kelihatannya perempuan, tapi tetep aja, hatinya kadang sering rapuh. Aku gak bisa lihat dia jadi rapuh.
“Ya udah, sekarang kita ke rumahnya Cindy aja yuk, mana bunganya tadi??” Aku berdiri,
Dia menunduk lagi “Eeeemmmhhh ...” Dia menggumam.
“Kenapa??” tanyaku, kembali duduk bersila di hadapannya.
“Bunganyaaaa ...”
“Iya, kenapa bunganya??” tanyaku bingung.
“Bunganya udah aku hancurin, dan sekarang ada di sana” Dia menunjuk tong sampah di pojokan dengan wajahnya.
__ADS_1
“Apa???” Aku segera berdiri dan melihat seikat bunga mawar tak berdosa itu, terlihat Bunga mawar itu sudah teronggok begitu saja, hancur berkeping-keping “Ya tuhaaaannn ...” Aku menepuk jidatku. Bingung mau berbuat apa?.
“Maaf yah, aku tadi emosi, jadi bunganya hancur deh” Dia berdiri di sampingku, dengan wajah tanpa dosa.
“Mommy, terus gimana dong??” tanyaku mulai panik.
“Tenang, gak usah panik, kita beli lagi aja, yang penting masih sama sama bunga kan??” jawabnya enteng.
“Tapi kan beda Mommy” Aku meremas rambutku sendiri, kenapa sih?? Perempuan kalau lagi marah suka kayak gitu, segala bunga di hancurin, untung aja gak panci, wajan, sama piring yang jadi korbannya.
“Gak akan beda, kita beli aja bunga yang sama persis kayak gituh, gampangkan??” katanya sambil berlalu, aku sudah tidak bisa bicara lagi, di rumah ini, dialah penguasanya. Aku tak bisa membantah.
“Ish ...” Aku meremas rambutku, punya istri cantik kok gini amat.
Di perjalanan menuju rumah Riyan, kami sempat membeli seikat bunga mawar cantik, yang hampir sama dengan bunga yang dikirim Imam tadi. Kak Yas yang memilihnya sendiri. Aku hanya bisa pasrah.
“Mommy, emang Cindy gak tinggal di rumah orangtuanya?” tanyaku memecah keheningan.
“Enggak, orangtuanya sibuk, jadi Cindy di titip di rumah Riyan dari dulu” jawabnya sambil memainkan mainan bulat warna warni pada putriku.
“Oh gituh ya” Aku manggut-manggut,
Keluarga Kak Yas memang pada sibuk semua, sampe lupa sama anak-anaknya sendiri, beda denganku, Papah mungkin sibuk, dan sangat terobsesi pada pekerjaan, tapi Mamah gak pernah sekalipun menelantarkan aku, bahkan jika di akhir pekan, dulu Mamah dan Papah sering mengajakku liburan bersama, ya walaupun cuman ke ancol, atau ke puncak sih. Tapi, yang penting, kita bisa bersama.
Tapi, aku juga bersyukur. Karena saat ini, Kak Yas gak pernah punya niatan buat ninggalin Pelangi, dia bilang mau urus Pelangi sendiri, gak mau pake jasa Babby sitter, bahkan dia memilih untuk menyerahkan dua perusahaan yang sudah di kelolanya sejak dulu, pada Om Bayu dan Riyan.
Aku bersyukur bisa memiliki istri seperti Mommynya Pelangi.
Bersambung .................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, komentar, bintang lima, dan juga votenya,
__ADS_1
maafkan author, yang updatenya gak teratur, ada insiden kecil, yang membuat jari tangan author terluka, jadi ngetiknya agak susah gituh ... maafkan yaaaa ....