TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Ketahuan


__ADS_3

“Hay Kak,“ Cindy datang dengan melambaikan tangannya padaku, aku yang tengah merasakan pusing di kepalaku, sedikit memicingkan mataku, terasa begitu silau di tambah kepalaku terasa berkunang kunang.


“Hay Cindy” Aku membenahi posisi dudukku.


“Lagi apa kak?? Kak Riyan mana??” tanyanya.


“Riyan di dapur, o ya, katanya kemaren kamu sempet di operasi usus buntu ya?? Maaf ya aku belum sempat nengokin kamu” Aku mencoba tersenyum pada Cindy, menahan rasa mual di perutku.


“Gak apa-apa Kak, sekarang aku udah sembuh kok, lagian kemaren aku di tolongin Zain kok, tolong bilangin makasih sama Zain ya Kak” ucap Cindy. Sebentar, ini aku yang sedang pusing, telingaku yang rusak, atau bagaimana, aku tidak salah dengarkan?? Cindy bilang, dia di tolong Zain? Tapi kenapa Zain tidak mengatakan apapun padaku?.


“O ya?? Maksudnya gimana?? Zain nolong kamu” tanyaku masih ragu dengan ucapan Cindy.


“Iya, waktu itu akukan pingsan di pinggir jalan Kak, untung ada Zain lewat, terus Zain membawaku dan menungguiku di rumah sakit” jelas Cindy lagi.


“O ya??” tanyaku benar-benar kaget, jadi waktu Zain pulang malam itu karena menolong dulu Cindy?? Jadi Mister ‘Z’ itu Zain??? Kenapa dia tidak jujur padaku??.


“Emang Zain tidak cerita sama Kakak??” tanya Cindy menyelidik.


“Cerita kok, mungkin akunya aja yang lupa” Aku tersenyum kecut pada Cindy, terlihat ada gurat kecewa di wajah Cindy.


“Ya udah, aku kedapur dulu ya Kak” pamit Cindy, lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.


“Huuuhhh ... “ Aku menrik napas berat, rasa pusing dikepalaku semakin menjadi.


“Zain kenapa harus bohong sih??” rasa kecewa dan kesal bercampur aduk jadi satu di dalam dadaku.


Semakin lama rasanya kepalaku semakin berat, kuputuskan untuk pulang saja. Setelah berpamitan pada Riyan dan Cindy, aku menaiki mobil yang tadi kugunakan ketika berangkat ke toko kue, sepanjang jalan aku menekuk wajahku. Rasanya hatiku begitu dongkol, kala mendengar pernyataan dari Cindy, tentang kebohongan Zain. Tadi, ketika berangkat dari rumah dengan perasaanku begitu senang, sekarang aku pulang dengan keadaan yang kacau.


Tiba dirumah, aku turun dari mobil, aku segera menuju kamar, masih sangat kesal aku melempar tas dan hijab yang kugunakan, rasanya cuaca hari ini begitu panas.


Rasa mual kembali menyerang, aku kembali memuntahkan semua isi perutku,

__ADS_1


“Ugh, aku kenapa sih??” Aku menyeka keringat dingin yang menetes di dahiku dengan tangan. “Apa jangan jangan ... “ seketika aku berlari menuju nakas, tempat kalender kecil di pajang.


“Tujuh, delapan, eh ... bentar-bentar, kayaknya aku salah ngebuletin tanggal deh”


“Ini, iya tanggal ini, sepuluh, sebelas, eh kayaknya bukan juga, haduuhh ... aku memang sudah telat datang bulan, sudah telat sepuluh hari jika di hitung dari tanggal sepuluh, aduh gimana ini?? Apa aku hamil??” Aku berjalan mondar-mandir, ragu akan pendapatku sendiri.


“Zain, kenapa dia belum pulang juga, apa dia sedang selingkuh lagi??” aneh memang, fikiranku begitu kacau, tidak biasanya aku bersuudzan pada suamiku sendiri. Tapi pernyataan Cindy tadi, membuat kepercayaanku berkurang pada Zain.


“Ah, pasti aku cuman masuk angin aja, telat datang bulan bukan berarti hamil 'kan??”


Kutepis segala keyakinanku, akhirnya untuk mengurangi rasa pusing, kurebahkan tubuhku di atas kasur. Menatap langit-langit, sayup aku tidak sadar lagi, aku sudah menemui alam mimpiku, tanpa sadar.


“Kakak ... “ terasa ada yang mengguncangkan tubuhku.


Aku mengerjap, kemudian membuka mataku, aku bangkit, lalu menoleh pada jam beker di sampingku, waktu menunjukkan pukul lima sore, itu artinya aku tertidur sudah lebih dari tiga jam.


“Zain, kamu sudah pulang??” tanyaku masih dengan suara serak khas bangun tidur.


“Hmht” jawabku, tiba-tiba teringat akan cerita Cindy tadi, seketika kepalaku kembali pusing, perutku kembali mual.


“Kakak sakit??” tanyanya, mencoba meraih dahiku.


Segera aku menepis tangannya, entahlah masih kesel aja bawaannya, tau kan?? rasanya dibohongin kayak apa?? Nyesek.


“Kakak kenapa??” Zain semakin mendekatiku.


“Kamu bohongin aku Zain??” tanyaku, tak ingin berbasa-basi.


“Bohong?? Bohong apa??” tanyanya mengerutkan dahi.


“Malam itu kamu yang nolongin dan nungguin Cindy 'kan??” tanyaku mulai berapi-api.

__ADS_1


“A akuuu, akuuu” seketika wajah zain memerah, dia gugup, lalu menggaruk kepalanya. Fiks dia bohong.


“Aku apa??” tanyaku, mataku berkaca-kaca, air mata mulai mengembang.


“A aku gak tega liat Cindy pingsan di pinggir jalan Kakak, maafin aku” Zain menunduk.


“Bukan itu jawabannya Zain, aku nanya kenapa kamu bohong??” seketika air mataku tumpah tanpa di perintah.


“A aku takut Kakak marah, maaf Kakak” Zain mengatupkan tangannya di dada, memohon maaf dariku.


“Kamu jahat Zain!!” Aku berdiri berniat meninggalkan Zain, tapi kepalaku rasanya semakin pusing.


“Kakak, aku mohon, maafin aku yah, yah” Zain memegang tanganku erat.


“Lepas!!” Aku melepaskan tangan zain.


“Kakak” Zain mengikuti langkahku.


“Kamu boleh nolongin orang Zain, tapi kamu gak perlu bohong” Aku kembali berapi-api, sementara Zain hanya menunduk.


“Aku kecewa sama kamu Zain!” Kembali aku memundurkan langkah, berniat keluar dari kamar, tapi kepalaku sungguh tidak bisa di ajak kompromi lagi, rasanya sangat pusing. Tanganku mencoba menggapai ujung pintu, tapi ....


Bbrrruuuukkkk ....


Seketika aku terjatuh, pandanganku mulai kabur


“Kakak!! Kakak kenapa???” sempat kudengar teriakan Zain, tapi aku tak mampu membuka mataku. Duniaku gelap.


Bersambung ...............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, komentar, bintang lima, dan vote sebanyak banyanya yaaa....

__ADS_1


Follow juga IG author yaaa ( Teteh_neng2020), author tunggu yaaa .... makasiiihhh ....


__ADS_2