TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Tatapan Cindy


__ADS_3

“Zain, darimana kamu?? kenapa baru pulang??” tanyaku pada Zain, yang tengah mengendap endap masuk kedalam kamarnya.


“Hhee ... aku tadi langsung latihan bola Kak, sepulang sekolah tadi“ jawabnya sambil tersenyum, tidak lupa juga sambil garuk-garuk.


“Zain, kenapa sih harus main bola terus??kamu itu sudah kelas tiga Zain, sebentar lagi ujian sekolah, kamu gak niat buat belajar??mempersiapkan diri buat ujian??” tanyaku yang mulai jengkel, siapa yang tidak jengkel, setiap hari mendapati adik eh suaminya pulang sekolah, dengan baju kotor bin bauuuu seabrek-abrek.


“Hhheee ... Kakak, aku tidak pintar dalam urusan pelajaran sekolah, aku hanya ingin menjadi pesepak bola terkenal,“ jawabnya polos.


Aku hanya mampu menggelengkan kepala, sungguh masa depanku akan hancur ditangan bocah ini,


“Ya sudah gimana kamu aja“ jawabku sambil berlalu kedapur.


Aku mulai memasak, jika difikir-fikir, kasian juga Zain kalau gak dimasakin, dia pasti kelaperan, setelah seharian beraktifitas.


“Zain, makan dulu,“ teriakku, malas harus masuk kamar Zain, tau sendirilah, kamar anak remaja cowok, berantakan, bau, poster orang-orang gak jelas nempel disana sini, apalagi aku paling benci, sama poster orang yang menjulurkan lidahnya, poster kesayangan Zain, hih, aku kalau ngeliat foster itu, suka merasa kalau orang itu lagi ngolok-ngolok aku.


“Iyaaa!!” Dia balas berteriak.


Aku duduk dikursi makan, sambil menyiapkan piring dan gelas buat Zain.


“Kakak, masak apa?” tanyanya sambil duduk.


“Masak rendang,“ jawabku sambil mulai mengunyah.


“Kakak, lagi sakit??” tanyanya sambil memperhatikan wajahku, yang agak sedikit pucat, entahlah, akhir-akhir ini, aku merasa sedang tidak enak badan, perut pusing, kepala mual, mungkin efek terlalu stress jadi asam lambungku naik.


“Gak,“ jawabku pura-pura.

__ADS_1


Dia kembali terdiam, sambil sesekali memperhatikan wajahku, agak risih juga diliatin Zain.


“Assalamu’alaikum,“ terdengar suara sapaan dari depan, diiringi ketukan pintu.


“Kak, biar aku aja yang bukain pintu“ tawarnya sambil berdiri.


“Udah aku aja, kamu terusin aja makannya“ jawabku sambil berdiri, kemudian berlalu menuju pintu depan.


Ceklek ...


Pintu kubuka, terlihat seorang gadis cantik, masih remaja, kira-kira seumuran Zain, tersenyum padaku sambil menenteng papperbag.


“Iya, cari siapa??” tanyaku.


“Ini Kak Yas kan??” tanyanya sambil menunjuk wajahku.


“Ini aku kak, Cindy, adiknya kak Riyan, aku kesini di suruh kak Riyan buat nganterin sample kue“ jawabnya sambil menyodorkan papperbagnya.


“Ya ampun, Cindy, maaf Kakak pangling sama Cindy, dulu kamu masih kecil, tapi kok sekarang udah besar aja ya“ Aku memeluk Cindy, tak kusangka gadis kecil yang dulu sering ku ajak main, kini sudah tumbuh menjadi seorang remaja yang cantik.


“Hhhee ... iya Kak,“ jawab Cindy membalas pelukanku.


“Ayo masuk dulu, kita cerita cerita dulu“ ajakku sambil menuntun Cindy kedalam rumah, ah, iya mungkin karena selama ini aku adalah anak tunggal, jadi kadang adakalanya aku merindukan hadirnya sosok adik, yang bisa ku ajak bercanda, atau sekedar mengobrol.


Cindy mengikutiku dari belakang, kami duduk diruang tamu, kemudian lanjut mengobrol kesana kemari, aku mendengarkan kisah Cindy selama kami tidak bertemu,


“Kakak, siapa??” tiba-tiba Zain muncul dari arah dapur.

__ADS_1


“Ah, iya ini adiknya Kak Riyan, namanya Cindy, Cindy ini Zain“ Aku memperkenalkan mereka dengan kikuk.


“Hay“ mereka saling berjabat tangan sambil saling melempar senyum.


“Zain, itu siapanya Kakak??” tanya Cindy bingung.


“Eeemmhh ... Zain itu“ Aku bingung, mau memperkenalkan Zain sebagai siapa.


“Aku suaminya Kak Yas“ aku Zain jujur, sementara aku tertunduk malu,


“Hah??? kak Yas udah nikah?? kok aku gak tau??” Cindy membelalakkan matanya.


“I iya“ jawabku agak gagap, antara bingung dan malu bercampur jadi satu.


“Tapi, kok aku kayaknya pernah lihat Zain di sekolah aku deh“ Cindy mengingat-ingat.


“O oya??” tanyaku.


“Iya Kak, aku kan udah beberapa hari ini pindah sekolah ke sekolah Harapan Bangsa“ jelas Cindy, dan yup itu sekolahan Zain.


“Kayaknya kamu adik kelas aku deh“ Zain tersenyum, mata sipitnya hampir hilang ditelan senyumannya, please Zain aku gak rela kamu tersenyum dihadapan wanita lain, eh.


“tuh kan bener“ Cindy tersenyum malu-malu, lah dia lupa kali ya, barusan kan aku kenalin Zain sebagai suami aku, kenapa dia malah ... oh may gooot tatapannya, Zaiiiinn aku gak sukaaaaa ... ih.


Bersambung ..............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers..............

__ADS_1


__ADS_2