TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Tetangga baru


__ADS_3

Memang sih, adaaaa aja tingkah Zain yang kadang suka nyebelin, ngeselin, tapi ngangenin banget, kadar ngangenin sama kadar ngeselinnya beda jauh mak. Kalau kadar ngeselinnya empat puluh lima persen, nah kalau kadar ngangeninnya sekitar lima puluh lima persennya. Gimana dong?? Aku udah jatuh cinta banget sama Zain. Hheee ....


“Kakak, jangan lupa bungkusin makanan buat makan siang nanti ya” perintah Zain kala aku tengah sarapan roti di pagi ini tidak lupa dengan segelas susu Ibu hamil, yang harus aku minum, takut aja kejadian waktu itu terulang. Masih ingetkan?? Waktu Zain minum susu Ibu hamil milikku?? Iya, memang dia kalau kesel suka gituh sekarang.


“Iya,” jawabku singkat sambil mengunyah roti sebagai sarapan kami pagi ini. Entahlah untuk pagi ini, rasanya badanku terasa segar, tidak seburuk kemarin. Jika kemarin aku terus merasa mual muntah, maka hari ini tidak terlalu. Jadi, aku bisa sarapan pagi menemani Zain. Yah ... walaupun aku begitu tidak menyukai aroma susu sekarang. Rasanya ... ya gitulah. Gak enak. Enek.


“Kakak, jangan capek-capek ya di rumah, nanti siang bakalan ada Bi Inah kesini, buat bantuin beresin rumah” jelasnya, sambil meniup susu miliknya, tapi bukan susu ibu hamil lho ya.


“Kenapa nyuruh Bi Inah kesini sih?? Kalau Bi Inah kesini, terus yang bantuin Mamah siapa??” Aku mendelik, kebiasaan nih anak, suka memutuskan sesuatu tanpa diskusi dulu.


“Yang bantuin Mamah banyak Kak, Kakak lebih butuh Bi Inah sekarang di banding Mamah” jelasnya lagi.


“Ya tapi, aku gak suka Zain, di bantuin orang, aku lebih suka beres-beres rumah sendiri” Aku merajuk, entahlah, meskipun aku mampu membayar jasa ART, tapi, karena dari dulu aku sudah terbiasa hidup mandiri, aku jadi tidak suka menggunakan jasa ART.


“Kakak, jangan bantah” Dia memperingatkan aku, entahlah semenjak aku hamil, selain dia menjadi posesif, dia juga menjadi so dewasa, dan so bijak. So tau mana yang terbaik untukku dan anaknya. Ck.


“Tapi Zain, aku beneran gak nyaman kalau ada orang baru dirumah” Aku masih berusaha bernegosiasi.


“Gak ada tawar menawar, Bi Inah itu sudah seperti keluargaku sendiri Kak” jelasnya lagi.


“Tapi Zain, please aku masih bisa sendiri” rengekku masih mempertahankan ego.


“Kakak, jangan buat aku larang Kakak datang ke toko kue ya” Dia menatapku tajam.


Jeddeerrr ... ancaman macam apa ini?? Aku tanpa kegiatan?? Wah ... bisa gila aku kalau terus dikurung dirumah.

__ADS_1


“Iya, baiklah” akhirnya aku mengalah, pasrah. Tak ada pilihan lain lagi.


“Nah, gitu dong” Dia tersenyum penuh kemenangan, sementara aku hanya bisa mendelik, aku kalah dari si Bocah. Huh ...


“Kakak, aku berangkat kerja dulu ya” pamitnya kemudian, berdiri menggeser kursi makan, lalu berlalu menuju pintu utama, sementara aku mengikutinya dari belakang.


Dia berjongkok untuk memakai sepatu di teras rumah, sementara aku berdiri di sampingnya. Sambil memperhatikan keadaan sekitar.


“Eh, Zain ada apa itu rame-rame??” Aku menunjuk depan rumah, yang kebetulan begitu ramai, ada beberapa mobil truck dan colt yang mengangkut barang-barang.


“Mungkin itu tetangga baru, yang baru aja pindahan Kak” jawabnya sambil berdiri.


“Oh, tetangga lama kemana ya?? Pindah??” tanyaku dengan pandangan tak lepas dari pemandangan di depan.


“Mungkin Kak” Zain mengedikkan bahunya.


“Iya” jawabku sambil meraih tangannya, lalu menciumnya.


Seperti biasa, dia memelukku sekilas lalu menghujani wajahku dengan ciumannya.  Ih ... Zain, dia emang selalu gak tau tempat. Udah tau di depan lagi rame, banyak orang. Dia mah emang kadang suka gak tau malu. Tapi aku suka sih. Zain memperlihatkan kasih sayangnya padaku di hadapan  umum.


Zain menaiki motornya, lalu melambaikan tangannya. Dan aku membalas lambaian tangannya, aku memperhatikan kepergian Zain hingga motor yang membawanya hilang di makan tikungan.


Aku tersenyum, kemudian berniat beranjak melangkahkan kaki menuju rumah.


“Hay Kak” tiba-tiba suara itu menghentikan langkahku.

__ADS_1


Aku membalikkan tubuhku, lalu menoleh pada sumber suara.


“Oh, hay” aku tersenyum, kala kulihat seorang perempuan muda sedang tersenyum padaku, mungkin usianya tak akan jauh dariku.


“Kak, aku tetangga baru di rumah itu” jelasnya, sambil menunjuk rumah yang dari tadi aku perhatikan.


Oh, rupanya dia tetangga baruku. Aku manggut-manggut,menerima uluran tangannya.


“Mbak baru beli rumahnya ya??” tanyaku basa-basi.


“Iya, kami baru menikah, dan kami memutuskan untuk pindah kedaerah ini, senang berkenalan dengan Kakak, nanti kita bisa ngobrol bareng ya Kak” perempuan manis ini tersenyum lagi padaku.


Aku membalas senyumannya “Aku Yasmin dan yang tadi itu suamiku, namanya Zain” Aku memperkenalkan diriku pada perempuan di hadapanku.


“Ah, aku Tina Kak, dan suamiku namanya Agus, nah yang itu” Dia menunjuk seorang laki-laki yang berdiri di depan sebuah truck yang sedang menurunkan barang barang.


“Oh iya” Aku menganggukkan kepala.


“Oh iya, suami Kakak kelihatan masih muda yah” Tina kembali membuka percakapan.


“O ya?? Terimakasih” jawabku asal.


“Iya, kalau gituh aku permisi dulu ya Kak, aku di panggil suamiku” Tina tersenyum lalu berlari menuju arah suaminya, setelah sebelumnya dia melihat suaminya melambaikan tangannya padanya. Aku tersenyum lalu kembali masuk kedalam rumah, bersiap untuk berangkat ke toko kue.


Bersambung ...............

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya  ya readers .... like, komentar positif, bintang lima dan vote sebanyak banyaknya. Makasiiihhh


Follow IG author Teteh_neng2020.


__ADS_2