
“Kakak... “ Zain membuka pintu sambil memanggilku dengan wajah lusuhnya.
Penampilannya begitu menyedihkan, ada banyak gurat lelah di wajahnya.
“Zain, kamu sudah pulang?” tanyaku memutar tubuh dan menatapnya.
“Iya,“ jawabnya lesu.
“Gimana kerja kamu hari ini?? lancar??” tanyaku antusias.
“Lancar Kak“ Zain mendaratkan bokongnya di kursi, kemudian aku segera mengambilkannya air minum, dan menyodorkannya padanya.
“Kalau lancar, kenapa wajahnya di tekuk?” tanyaku sambil mengerutkan dahi, apa pekerjaan di bagian administrasi, sebegitu melelahkannya?? Hingga baju Zain ada noda kotor, entah bekas apa?.
“Ya inikan hari pertamaku bekerja Kak, jadi aku agak kewalahan“ jawabnya.
“Kamu ngerjain apa aja Zain??” tanyaku antusias.
“Eemmhhh“ Zain memutar kedua bola matanya mungkin dia sedang mengingat pekerjaannya tadi.
“Banyak Kak, aku mengerjakan buku, dan menghitung uang“ jawabnya polos.
“Hah? masa sih??” tanyaku sambil garuk-garuk, ish ...
“Kakak, aku lapar“ Zain merajuk.
“Ah, iya aku lupa, aku sudah menyiapkan makanan untukmu, ayo makan” ajakku.
Aku menuntun tangan Zain, membimbingnya hingga duduk di kursi makan,
Aku mengambil piring, dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauknya.
“Ayo makan“ aku menyodorkan piring berisi makanan itu ke hadapan Zain.
“Iya Kak“ Zain menerimanya.
Zain langsung makan dengan lahapnya, tanpa jeda, aku memperhatikannya dengan seksama, kenapa Zain terlihat sangat lapar sekali?? Apa tadi siang dia tidak makan?? porsi segini, gak cocok buat karyawan bagian administrasi, tapi lebih cocok untuk porsi tukang kuli.
Malam, ketika aku baru selesai membereskan pakaian yang baru aku setrika, aku melihat Zain sudah terlelap dengan mulut yang menganga, terlihat rasa lelah yang mendera di wajahnya. Dengkuran keras cukup menggangguku malam ini.
“Zain, kamu kenapa?? Tidak seperti biasanya dengan sikapnya?” Aku bergumam, lalu beranjak menuju kamar mandi, berniat membersihkan wajah, dan gosok gigi.
__ADS_1
Dddrrrttt .... dddrrrttt .... dddrrrttt ...
Suara panggilan dari ponselku terus berdering, ketika aku baru keluar dari kamar mandi, aku meraih ponselku, kulihat nama Zainuddin yang tertera di sana.
“Hallo Assalamu’alaikum??” Aku mengangkat telpon dari si Udin, sambil keluar dari kamar, takut Zain terbangun dari tidurnya.
“Wa’alaikumsalam Yas, aku bisa bicara denganmu ??” suara Udin terdengar serak.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Aku ada di taman dekat rumah kamu, kamu bisa kesini?? Aku butuh seseorang Yas“ suara Udin terdengar memelas.
Dari balik pintu, aku mengintip Zain, dia masih tertidur dengan posisi yang sama.
“Maaf gak bisa Udin, aku lagi sibuk“ jawabku.
“Yas, sekali ini aja, ini sangat mendesak, aku butuh kamu" Udin semakin memelas.
“Maaf Udin, gak bisa, aku ada urusan lain“ Aku kukuh menolak ajakan Udin.
“Yas, hanya sekali ini saja, kamu tau aku Yas, aku tidak bisa mengutarakan isi hatiku pada sembarang orang, hanya kamu yang aku percaya Yas, aku mohon,“ terdengar si Udin malah menangis.
Aku menarik napas panjang, akan salah bagiku pergi keluar rumah, jika tanpa izin Zain suamiku, tapi si Udin orang yang nekat, bagaimana jika dia melakukan hal di luar dugaanku??.
“Baiklah, kamu ada di depan rumahku bukan??” tanyaku akhirnya, tak tega juga liat si Udin nangis nangis.
“Iya Yas, makasih Yas, aku tunggu kamu di sini“
Truth ...
Udin menutup telponnya,
Aku beranjak meraih jaket, lalu menggunakannya, aku membuka pintu utama, dan membiarkannya terbuka. Ku lihat si Udin sudah berdiri di depan pagar. Aku berjalan menuju pagar untuk menemuinya.
“Kenapa Udin??” tanyaku dengan melipat tangan di dada,
“Yas, aku Zain, aku masih tetap sama, aku masih Zain yang dulu pernah kamu kenal“ Udin menatapku lekat, aku menundukkan pandanganku.
“Jadi, ada apa?? Kenapa kamu terlihat begitu kacau?” tanyaku akhirnya, mengarah pada intinya.
“Yas, aku melihat Zanet sedang bersama pria lain, aku sungguh akan bercerai dengannya“ aku si Udin.
__ADS_1
Aku mengerutkan dahiku,
“Maksudnya bagaimana?” tanyaku masih bingung.
“Aku melihat Zanet sedang tidur bersama pria lain Yas“ Zain tertunduk, kemudian berusaha meraih tanganku, tapi aku segera melepaskannya.
“Bagaimana rasanya??” tanyaku.
“Sakit Yas,“ Udin terisak.
‘Yah, itulah hatiku dulu Udin, di saat aku sangat mencintaimu, di saat kartu undangan akan disebarkan, tapi kamu malah menghamili perempuan lain' lirih hatiku berkata.
“Maaf karena dulu pernah menghianatimu, jadi sesakit itukah hatimu kala itu Yas??” Udin menatapku.
“Hmht,“ jawabku, entahlah ... tapi aku tak mengerti dengan perasaanku, berbahagia di atas penderitaan orang lain, jelas itu salah, tapi mengingat perlakuannya dulu padaku?? Rasanya aku begitu bahagia, mendengar pernyataannya sekarang.
“Yas, sangat sakit, di sini“ Udin menunjuk dadanya.
“Yah, aku tau itu“ tiba-tiba aku merasakan rasa sakit yang Udin rasakan, pria pengkhianat ini, dulu pernah jadi tambatan hatiku sekian lama, bohong jika tak ada sedikitpun rasa peduli di hatiku. Meskipun kebencian itu mendominasi hatiku, tapi, masih ada sedikit rasa iba untuknya.
“Yas ... aku begitu menderita, melihat Zanet tidur bersama pria lain“ Udin mendekatiku, dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Sabar ya Zain“ masih dengan posisi melipat tangan di dada, aku membiarkan Udin menempelkan kepalanya di bahuku, mungkin dia butuh sandaran. Kasian dia.
“Maafin aku Yas,“ air matanya luruh di pipi.
“Mungkin ini adalah karmaku Yas, karena dulu telah menghianatimu“
“Tidak Zain, ini takdir, aku sudah lama memaafkanmu, lagi pula sekarang aku sudah memiliki Zain suamiku“ jawabku.
“Selamat ya Yas, karena kamu telah menemukan kebahagiaanmu sendiri,“ Udin masih terisak.
“Kamu juga akan segera menemukan kebahagiaanmu sendiri Zain“ Aku terus menguatkan hati si Udin, aku tau rasanya jadi dia sekarang, pasti sakit.
“Kakak!!!!” tiba-tiba suara itu ...
Buuuukkkk !!!!
“ Zain!!!”
“ Aaaawwwww ...“
__ADS_1
Bersambung .................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers .... like, koment positif, bintang lima, vote, dan juga follow author, author tunggu ya readers, makasiiihhh ....