TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Malam Pertama


__ADS_3

Berciuman begitu lama, dengan background pantai, detemani semilir angin, rasanya aku berada di dalam sebuah fatamorgana dunia, aku masih bingung, ini terlalu ambigu bagiku. Ini nyata atau tidak. Tapi aku tidak ingin membuka mataku, aku hanya ingin terus merasakan sebuah kebahagiaan tanpa gangguan. Jika ini mimpi, maka aku tidak ingin terbangun, tapi jika ini nyata, maka aku ingin ini abadi. Yah ... begitulah manusia, selalu serakah.


“Kakak,“ sapanya setelah melepaskan bibirnya dari bibirku.


Aku membuka mata, kemudian menatapnya dalam, terlihat wajahnya yang putih bersinar, menjadi merah padam, entah karena trik matahari, entah karena menahan nafsu, atau jangan-jangan karena malu.


Dia mengelus pipiku lembut, lalu tersenyum.


Deg !!!


Apalagi ini??? aku tidak bisa mengontrol emosiku sendiri.


“Aku sangat menyayangi Kakak“ Dia tersenyum.


Ya ampuunnn ... bahkan gulapun kalah manisnya dengan senyuman suamiku.


Aku merunduk malu-malu, tak kusangka perempuan sekeras dan setangguh diriku, bisa kalah hanya karena senyuman seorang bocah. Ck, cinta memang begitu, selalu menyebalkan.


Angin, menerpa tubuh kami, menjadi saksi kisah suci perjalanan kami, mendengarkan setiap bisikkan cinta dan kasih sayang kami.


Setelah lama mematung, untuk bisa saling menguasai diri masing-masing, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Setelah sebelumnya kami sempat makan, dan jalan-jalan di tempat lain, hingga waktu hampir malam.


Di sepanjang perjalanan, menuju hotel, kami berjalan bergandengan, dengan tangan yang tak lepas dari genggaman kami masing-masing.

__ADS_1


Aku sangat mencintai suamiku. Begitupun dia, usia tidaklah menjadi penghalang bagi cinta kami.


Kkkrriiieettt ...


Pintu kamar di buka, dengan malu-malu aku berjalan mendahului Zain, dengan tangan masih saling bertautan satu sama lain.


Ku dudukkan tubuhku di ranjang,


“Zain, aku mau mandi dulu“ Aku berdiri, bermaksud segera beranjak menuju kamar mandi, ingin rasanya aku menenggelamkan kepala, untuk bisa menetralisir fikiranku.


Tapi Zain, dengan sigap menarik tanganku erat, hingga aku terjatuh menimpanya.


“Za Zain ... “ Aku terperanjat dengan reaksi Zain, tapi dia hanya terdiam.


Deg, deg, deg ...


Tiba-tiba Zain melepaskan tanganku, lalu beranjak.


Aku bingung, mau kemana Zain kok dia ninggalin aku sih???.


Treeekkkk ...


Lampu mati,

__ADS_1


“Hah?? Zain, kok gelap???” Aku celingukan mencari penerangan.


Greeeppp ... Zain memelukku erat, tanpa sekat.


“Bismillah, Allahumma jannibissyaithaana, wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa“ Zain membisikkan sebuah do’a, do’a yang sebelumnya pernah aku baca di panduan buku nikah.


Satu tahun menjalani hidup bersama Zain, suka, duka, canda, tawa, tangis, rindu , semuanya pernah kujalani. Semua rasa itu, pernah ku alami.


Pernikahan ini, terkesan amat konyol, semua berawal dariku yang so' kuat, dan so' berani mendatangi pesta pernikahan mantan, yang membuatku terjebak dalam situasi yang dulu terasa amat mengerikan, tapi sekarang rasa ngeri itu, berubah menjadi rasa bahagia yang tak terkira.


Mendampingi suami, dengan jarak usia hampir delapan tahun, sungguh tidak mudah bagiku, apalagi Zain masih kelas dua SMA kala itu, sungguh berat bagiku, jika di ingat lagi, entah berapa puluh kali, fikiran untuk berpisah itu melintas di benakku.


Besok, lusa, ujian dalam rumah tanggaku mungkin akan lebih berat dari sebelumnya, tapi aku yakin, seperti sebelumnya, aku akan bisa melewati semuanya. Keyakinan itu, yang membuatku bisa bertahan hingga detik ini. Hingga aku bisa meraup bahagia yang kuinginkan.


Bersambung...............


Readers, taukah kalian, author gemeteran waktu nulisin part ini, gak tahan dengan kisah cinta mereka...hhhheee...author senyum senyum membayangkan, kemudian menuliskannya, dengan hati yang berdebar......


Semoga bisa menghibur, dan membuat kalian bahagia yaaaa.....


Jangan lupa dukungannya yaaaa.......


follow IG author Teteh_neng2020

__ADS_1


__ADS_2