
bulan ini usia kehamilanku memasuki usia kandungan sembilan bulan kurang sepuluh hari, dokter bilang tinggal menghitung hari, maka Zain junior akan segera launcing. Rasanya sungguh bahagia, sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ibu, dan si imutku akan menjadi Ayah, Ayah imut.
Zain adalah calon Ayah yang luar biasa, setiap bulan dia selalu mengantarku pergi ke Dokter kandungan tanpa terlewatkan, mengantarku senam hamil, jalan-jalan, dan lain sebagainya, Zain selalu mengikuti semua keinginanku, apalagi untuk sesuatu yang berhubungan dengan anaknya. Setiap hari dia selalu bertanya “Kakak, Kakak mau apa hari ini??” Ah, imutnya dia.
Aku begitu bahagia memiliki suami seperti Zain. Kini Zain juga bekerja di kantor Papah, karena Papah yang memaksa Zain, Zain setuju tapi dengan syarat Zain bekerja di bidang yang dia mampu, Zain bilang ingin belajar semuanya dari awal. Tentu saja Zain juga mengajukan gaji yang sesuai dengan pekerjaannya. Setiap bulannya dia memberikan gajinya kepadaku. Kecil memang, tapi cukup buat kami. Aku bisa belajar kesederhanaan bersama Zain, aku belajar menjadi istri dan Ibu yang baik bersamanya. Bersama Zain aku juga jadi banyak belajar tentang arti sabar.
“Kakak ... lagi apa??” tiba-tiba Tina muncul dari balik pintu, ketika aku dan Bi Inah sedang membereskan kamar untuk bayiku nanti.
Aku mengerjap “Tina, aku lagi beresin kamar buat calon anakku” jawabku tersenyum.
“Kakak, masih belum tau jenis kelaminnya apa?? Aku penasaran banget lho” Tina mengelus perutku.
“Gak, aku sengaja gak mau tahu jenis kelamin anakku dari sekarang, Zain bilang biar jadi kejutan aja nanti” jawabku, yah ... Zain memang begitu, dia bilang dia tidak ingin melakukan USG pada anaknya, dia ingin terkejut nanti, ketika tahu jenis kelamin anaknya.
“Anakku mau lahir cewek atau cowok aku akan menyayanginya Kakak, yang penting dia sehat” begitu kata Zain waktu itu.
“Kak Zain masih kerja ya Kak??” tanya Tina lagi, sambil memainkan mainan bayi berbentuk bulat, dengan lampu kelap-kelip.
“Iya,” jawabku, kembali fokus melipat baju baju bayi, berwarna-warni, kiriman dari para Nenek, yang terus bersaing mengirimiku segala pernak-pernik alat-alat bayi, hingga kamar ini, lebih cocok di sebut gudang, daripada di sebut kamar.
“Kak, nanti kalau Kakak udah lahiran, kita adain arisan yuk, sama Ibu-Ibu lainnya, kan bosen Kak, masa iya tiap hari cuman kita berdua terus yang aktif di kompleks ini” Tina mengerucutkan bibirnya. Lah ya pasti cuman kita yang tiap pagi, siang, sore selalu keliatan di depan rumah, karena cuman kita yang pengangguran di daerah ini, sementara para perempuan lain di kompleks ini, sibuk menjadi wanita karier.
“Iya, nanti kita adain acara arisan yah” Aku mengangguk.
“Kak, mau rujak gak??” tawar Tina.
“Boleh tuh, aku suka, kamu sama Bibi bikin di dapur yah, aku mau beresin ini dulu” perintahku, sementara aku masih melanjutkan pekerjaanku.
Tina dan Bi Inah beranjak menuju dapur, sejurus kemudian aku kembali asyik dengan pernak-pernik bayi, yang sengaja aku tata dengan serapih mungkin.
“Adu du du duh, kenapa perutku sakit sekali ya??” refleks aku meremas perutku sendiri, kala kurasakan perutku serasa di remas.
“Aduh, kok makin sakit yah??” Aku semakin meringis kala kurasakan perutku semakin sakit, ku gigit bibir bagian bawahku.
“A aaa aaahhh ... Bi ... Tina ... “ Kucoba memanggil orang-orang yang sedang tertawa di dapur.
“Kok sakit banget sih?? Apa kamu mau keluar nak?? Ah ... apa ini?? Aku pipis?? Kok gak kerasa sih??” Aku menatap heran cairan yang keluar dari area sensitifku.
“Uuuuuuuuhhhh sakit banget” Aku mulai mengeluarkan air mata.
“Zain mana sih?? Aku harus menelponnya, semuanya gara gara dia!!” umpatku dalam hati, segera kuraih ponselku, lalu aku mencoba memanggil nomor Zain.
__ADS_1
“Aaaaahhhh!! gak di angkat lagi!!” Aku melempar ponselku kesembarang arah.
“Biiiii .... Tinaaaa .... perut ah kuh sakiiittt!!!” Aku berteriak sekuat tenaga, tapi mereka tak kunjung datang.
Ku dudukkan tubuhku, mencoba untuk mengatur napas, kali ini, bukan terapi paru-paru, tapi aku mencoba mengumpulkan tenaga lewat napasku.
“Kak, ini ru ja k nya, ya ampun!!! Kak Yas kenapa??!!” teriak Tina sambil melempar rujak yang di pegangnya.
“Non!! Non mau melahirkan??” tanya Bi Inah tak kalah panik.
“Bukan bi kan sepuluh hari lagi!! Tapi kok Kakak ngompol disini sih?? Jorok banget” Tina menutup hidungnya, aku masih tetap mengatur napas, mencoba menetralisir rasa sakitku.
“Non, ini namanya air ketuban bukan ngompol!!” teriak Bi Inah.
“Hhhuuhhh ... hhuuuhh ... hhuuuhhh .... Biiiiiii panggilin Zaiiiinnnn!!!” teriakku pada Bi Inah, sementara tangan kiriku meremas tangan Tina, yang ikutan meringis, merasakan apa yang kurasakan.
“Kak!! Ini dedeknya beneran mau keluar???!!!” tanya Tina.
“Hah ... hhhuuhhh ... hhuuhh ... gak tahu, kayaknya iya” jawabku terputus-putus.
“Yakin Kak?? Dia mau keluar?? Aku harus gimana?? Mas Aguuussss toloonnngg!!” teriak Tina mendudukkan dirinya di lantai.
“Kakak, tarik napaaasss keluarkan, tarik napaaasss ... keluarkkkaaaannn ... hhhuuuhhh ... hhhaaaaahhh ...” Tina terus memperagakan tarik napas.
“Aaaaahhh iya Kak Zain, kenapa aku malah nelpon Mas Agus??? Sebentar Kak!!” teriak Tina, segala kepanikan yang terjadi malah membuat semuanya menjadi semakin kacau.
“Non, sebaiknya kita kerumah sakit sekarang Non, Bibi sudah siapkan segala kebutuhan Non buat melahirkan nanti!!” teriak Bi Inah, yang sudah siaga dengan tas besar di pundaknya.
“A aku ma mau Zaiiinnn Bi” keringat mulai mengalir dari dahiku, rasanya begitu sakit di area perut, dan area sensitifku.
“Kak, aku udah nelpon Kak Zain, dia lagi di jalan, kita ketemu di Rumah sakit aja Kak, biar cepet!!” teriak Tina sambil memapahku.
“Bi, jangan lupa bawa rujaknya, buat di rumah sakit!!” teriak Tina pada Bi Inah.
“Ya elah, si enon, lagi panik ginih masih inget aja sama rujak” Bi Inah melengos, sambil menyambar rujak yang tadi sempat di lempar.
“Aku suka tambah panik kalau lapar Bi” kata Tina sambil terus memapahku menuju mobilnya.
“Aku yang nyetir, Kakak sama Bibi duduk di kursi tengah!!” seru Tina, sambil masuk kedalam mobil, di tempat sopir.
“Ah, kunci, kunci mana kunci??” Tina celingukan, sementara aku sudah berada dalam pangkuan Bi Inah, dengan mencengkram erat baju daster yang di gunakannya.
__ADS_1
“Dih da lam tasku” jawabku terbata.
“Apa Kak??”
“Di dalam Tas!!” Aku berteriak, karena sudah tak sanggup lagi.
“Ah, iya, ini dia kucinya” Tina mengacungkan kunci mobilnya setelah merogohnya dari dalam tasku.
“Okeh, baiklah, kita siap-siap berangkat, baby kamu yang kuat yah, hup” Tina menjalankan mobilnya dengan brutal, mobil kadang oleng kekiri, kadang juga oleng kekanan, tapi aku tidak peduli, yang penting secepatnya aku tiba di rumah sakit.
“Yuuuhhhuuu .... wwwwooooiiii minggir woooyyy!! Gak lihat apa?? Ini ada orang yang mau lahiran!!!” berkali-kali Tina membunyikan klaksonnya, kala ada kendaraan lain yang menghalangi jalannya.
“Ti na ha ti-ha ti” pintaku, sambil terbata, sementara Bi Inah sudah menutup wajahnya dari tadi.
“Ya Allah, gustiiii ... Non Tina hati-hati, ini kasihan Non Yas!!” seru Bi Inah, yang kurasakan pahanya sudah bergetar.
“Tenang semuanya, serahkan pada Tina, hhuuuuhhh ...” berkali-kali Tina menghela napasnya, mengusir rasa panik yang menderanya.
“Siaaaappp?? hupt ...” Tina kembali menjalankan mobilnya setelah berhenti di lampu merah.
“Gak ngerti banget mereka, udah tahu ada yang mau lahiran, malah pada santai di jalanan, ngalangin aja, minggiiirrr
wwwwoooyyy!!!”
Cekkkkiiiiiiiiittttt .....
Tiba-tiba mobil berhenti.
“Non??? Apa kita sudah tiba di syurga??” tanya Bi Inah, masih tetap menutupi wajahnya.
“Aaaaaaaa ... aku gak tau Bi, ini sakit banget” Aku kembali menjerit.
“Sudah tiba Kak, ayo turun, mana Kak Zain?? Dia bilang sudah tiba disini??” Tina celingukan sambil turun dari mobilnya.
“Kakak!!!” tiba-tiba Zain menghampiri mobil kami “Aku udah daftar Kak, Kakak tinggal masuk, Mamah dan Papah, semuanya akan segera datang” Zain memangku tubuhku, menempatkan aku di kursi dorong.
“Aaaaaa aku gak kuat Zain, ini sakit banget!!” Aku kembali berteriak.
“Sabar Kak, pukul aku kalau Kakak sakit” Zain terlihat amat panik, tangannya gemetaran, berkali dia menggaruk tengkuknya.
Bersambung ............
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, komentar positif, bintang lima, dan juga vote sebanyak banyaknya yaaaa .....