TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Promo Menikahi Duda Galak!


__ADS_3

Assalamu'alaikum ...


apa kabar readers semua???


aku kembali hadir menyapa readers semua untuk promo karya terbaruku nih, judulnya MENIKAHI DUDA GALAK, sudah rilis 8 bab yaaa ... semoga readers semua suka dengan karya terbaruku, jangan lupa jadikan pavorite, like, komentar, dan berikan bintang lima juga vote sebanyak banyak nya yaaa ...


cuplikan bab 1


 


******************


“Hadirin yang terhormat, sekarang mari kita sambut kedatangan Direktur sekaligus pemilik perusahaan  kita ... Bapak Edgar Adiswara, beserta istri tercintanya Ibu Eliana Adiswara, yang telah mendampingi Bapak Edgar dengan penuh cinta dan kasih sayang, hingga Bapak Edgar mampu berdiri sampai di titik ini” seluruh hadirin berdiri, untuk menyambut kedatangan kami, terdengar suara riuh tepuk tangan yang terasa memekakkan telingaku. Suamiku menggenggam tanganku dengan erat, seolah dia tak ingin berpisah dariku. Kami berjalan menuju podium.


“Selamat siang ... seluruh hadirin yang berbahagia, perkenalkan saya Edgar Adiswara, dan dia adalah istriku, sekaligus Ibu dari anak – anakku,” Pria itu menatap wajahku dengan senyuman simpul, lalu kembali menatap hadirin yang ada di hadapan kami.


“Yah ... kalian pasti sudah tahu, jika perempuan di sampingku, adalah seorang perempuan yang sangat cantik, selain memiliki paras yang cantik, istriku ini juga merupakan istri yang pandai dalam segala hal, terutama pandai dalam membahagiakan suaminya, yang semoga saja untuk kedepannya, istriku ini juga akan pandai mendampingiku untuk memimpin perusahaan ini agar menjadi lebih baik lagi ...” tepuk tangan kian gemuruh, sesekali aku mendengar bisikan mereka.


‘Iya, istri Pak Edgar cantik sekali yaaa ...’


‘Pasti menyenangkan jadi istri seorang pemilik perusahaan’


‘Waaahhh ... romantis beut, Gue baper ...’


‘Pak Edgar, aku maulah jadi yang kedua’


‘Pantes di sayang, cantik masih muda lagi ...’


‘Halah ... cantik apaan, orang dia pesek gitu kok, kalau belum di rebonding dulu, rambutnya itu keriting, wkwkwk’


Dan bla bla bla ... begitulah mulut manusia, selalu sulit di rem jika itu tentang ngatain manusia lainnya. Tapi, tidak semua orang seperti itu kok, aku yakin, jika di belahan bumi lainnya, masih terdapat miliaran orang baik, yang masih bisa mengendalikan mulutnya.


“Heh ... ayo tersenyum!” sentaknya sambil mencengkram tanganku erat.


“Aaaaaaa ... aku juga mengerti! Hhii hhii hhii ...” sedikit tersentak, aku juga membalas cengkraman tangannya. Sambil mencoba melengkungkan bibirku, mencoba tersenyum di paksakan.


“Awas saja kalau kau bikin malu di acara ini” ucapnya lagi, sambil terus tersenyum palsu di hadapan media, dan di hadapan tamu yang menghadiri acara siang ini. Acara yang sudah di rangkai sedemikian rupa, demi terjalinnya silaturahmi antara pemilik perusahaan dan mitra bisnis yang selama ini telah ikut serta dalam memajukan perusahaan.


“Huh ... itu saja yang kau katakan! Kau tidak perlu sehawatir itu padaku! Aku ini sudah berlatih dari semalam!” tegasku, dengan suara tertahan.


“Ahhaa ... haha ... haha ...” dia terus tertawa di hadapan semua orang, tapi sungguh tidak ada yang tahu, sesungguhnya betapa kejam dan galaknya suamiku ketika di rumah.

__ADS_1


Aku terpaksa harus menjalani pernikahan palsu ini, semua ini gara gara kejadian beberapa bulan silam, yang membuatku terjebak akan pernikahan yang tidak kusukai ini.


Jika aku mengingat kembali semuanya, maka ingin rasanya aku mencakar wajah pria tua yang sedang menggandeng tanganku ini. Rasanya begitu menyebalkan.


“Aaaaaa ... sakit!” teriaknya tiba tiba, sedikit tertahan, dia mengeratkan giginya.


“Ah, maaf ... aku tidak sengaja” ucapku sambil melepaskan tangan yang tanpa sadar telah aku remas dengan eratnya dengan cengkraman yang sangat kuat.


‘menyebalkan!’


Setiap hari hanya kegiatan ini saja yang kulakukan, ha ha hi hi di hadapan banyak orang, aku di paksa harus terus tersenyum meskipun enggan.


‘Ibu ... kenapa aku harus mengikuti keinginanmu, untuk menikahi pria tua bangka, yang sangat galak ini ... aku tersiksa Ibu ...’


“Ibu Eliana, boleh tersenyum? Bapak dan Ibu akan di foto untuk di terbitkan di surat kabar” seorang wartawan menginterupsi kami. Agar aku bisa memeluk pinggang suamiku, sambil tersenyum setulus dan seromantis mungkin, sementara itu, suamiku melakukan hal yang sama, memegang pinggangku lalu tersenyum di paksakan.


“Awas saja, kalau kau mengambil kesempatan ini dariku! Kau harus membayar dengan harga yang setimpal, karena sudah memegang pinggangku” bisiknya pelan, dan tertahan.


“Whhhaattt?? Bukannya harusnya aku yang mengatakan semua itu?”


“Haha haha ... terimakasih semuanya, terimakasih untuk segala dukungan dan pastisipasinya untuk hari ini, terimakasih ... terimakasih ... “ ucapnya sambil tersenyum, lalu membungkukkan tubuhnya, mau tidak mau akupun mengikuti gerakannya.


“Jangan lupa, malam ini kau dan anak anak ada jadwal latihan karate!” bisiknya sebelum menaiki mobilnya, setelah kami berada di parkiran.


“Jangan membantah, dan jangan pernah mencoba untuk melawanku!” peringatnya lagi.


Aku melengos membuang muka, memperhatikan laju mobilnya hingga hilang bersatu dengan kendaraan lainnya.


“Huuuhhh ...” aku menarik nafas panjang, acara hari ini sungguh membuatku sangat lelah. Belum lagi baju dan heels yang kugunakan sungguh sangat menyiksaku.


Perlahan kubuka sebelah heels ku,


“Astaga ... apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa aku harus terjebak dengan pernikahan politik seperti ini?” rutukku.


“Hey ... kau merutuk lagi?” suara seorang pria dari belakangku membuatku menoleh, aku tersenyum


“Aldo??” aku tersenyum padanya.


“Waahhh ... harusnya Nyonya segera pulang dan belajar untuk pertemuan besok, karena besok adalah acara pertemuan Pak Edgar dengan beberapa mitra bisnisnya dari luar negri” Katanya sambil tersenyum jahil.


“Whhhaaattt??? Lagi??? Sampai kapan semua ini akan berakhir? Kenapa si tua itu harus selalu melibatkan aku dalam setiap urusannya yang aneh??” aku hampir saja menangis di buatnya, terbayang besok akan ada jutaan pasang mata, yang akan terus memperhatikan gerak gerikku, karena semua yang suamiku lakukan tak akan luput dari sorotan media, di antara mereka sebagian akan mengoceh mengabsen kekuranganku, dan sebagian lagi akan menyanjung dan memuja mujiku. Aku sungguh tidak menyukainya.

__ADS_1


“Mari Nyonya kita pulang ...” ajak Aldo kemudian,


Aldo itu adalah asisten pribadi suamiku, usiaku dan Aldo hampir sama, hanya beda beberapa tahun saja, seringkali Aldo di tugaskan untuk mengantar jemput aku oleh suamiku, karena seringnya kami selalu pulang terpisah kala rangkaian acara telah selesai, aku pulang ke rumah untuk melanjutkan siksaan selanjutnya, dan suami galakku akan menghadiri acara selanjutnya. Yah ... begitulah kehidupan kami. Penuh dengan settingan. Terlihat mesra ketika di hadapan publik, tapi selalu tak pernah akur ketika di rumah.


Pantas saja, jika sebagian pasangan yang menikah karena saling mencintai pun akan mengalami kesulitan dalam menyatukan pendapat, apalagi aku? Yang menikah karena kebutuhan. Bukan kebutuhan biologis, atau kebutuhan materi. Namun kebutuhan peran satu sama lain. Apalagi perbedaan pendapat kami di tunjang oleh jarak usia yang cukup jauh, aku berusia dua puluh lima tahun, dan suami galakku berusia empat puluh satu tahun.


Hhuuhhh ... semua ini berawal dari beberapa bulan yang lalu ...


.


 


 


 


.


 


 


 


.


nah, itu cuplikan bab satu nya yaaa ... semoga readers terhibur. silahkan segera search MENIKAHI DUDA GALAK, atau klik profilku, dan readers semua akan menemukan karya terbaruku.


 


 


terimakasih banyak untuk perhatiannya, dan terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca promo ini.


 


 


wasaalamu'alaikum ....


 

__ADS_1


 


__ADS_2