
“Kakak cantik!!!” terdengar dari kejauhan ada yang berteriak, aku tak menggubrisnya.
“Kakak cantik!!!” Aku seperti mengenal suaranya, kuedarkan pandanganku.
“Hay ... Kakak!! Disini!!” terlihat di arah kantin Imam dan Budi tengah melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum lalu berniat menghampiri mereka. Tapi, dengan krasak krusuk mereka secepat kilat berlari kearahku, meninggalkan barang bawaannya di meja.
“Kakak cantik!! Lagi apa disini??” tanya Imam dengan napas yang ngos-ngosan.
“Aku?? Aku mau mengantarkan makan siang buat Zain” jawabku tersenyum.
“Jangan!!” teriak Budi.
“Loh?? Kenapa jangan?? Aku udah masak banyak ini, buat makan siang Zain dan teman-temannya” jawabku.
“Maksudnya jangan sekarang!! Zain pasti lagi sibuk!” teriak Imam.
“Loh?? Inikan jam istirahat” Aku menoleh pada jam tangan yang melingkar di tanganku.
“Kakak cantik, gimana kalau kita ngobrol dulu di sana!!” Budi menunjukkan kursi yang ada di taman di depan kantor Zain.
“Hah?? Kalian kenapa??” tanyaku bingung.
“Aku ingin curhat!!” jawab Budi mengacungkan tangannya.
“Curhat apa??” tanyaku sambil berjalan mengikuti arahan mereka.
“Dia yang mau curhat!!” Imam dan Budi saling menunjuk.
“Loh?? Jadi yang mau curhat siapa??” tanyaku menatap mereka bergantian.
“Aku!!” jawab mereka kompak.
“Kalian kenapa sih??” tanyaku makin heran.
“Gak apa-apa,” mereka melambaikan tangannya kompak.
Aku mengerutkan kening, aku mencium ada ketidak beresan dari jawaban mereka.
“Hayooooo ... kalian kenapa sih??” tanyaku menyelidik.
“Sebetulnya aku yang punya masalah, dan ingin bercerita dengan Kakak cantik” Imam menunduk, tangannya bergetar. Ish ... anak anak sekarang memang mudah grogi, tangan mereka mudah bergetar.
“Masalah apa?? Cepetan ya, soalnya aku mau nganterin makanan dulu buat Zain, nanti waktu istirahatnya keburu habis” Aku terus menatap jam tanganku.
“Gak lama kok” Budi kembali melambaikan tangannya.
“Loh?? Yang mau curhat itu Imam?? Atau Budi??” tanyaku, tidak mengerti dengan tingkah mereka.
“Imam!!” jawab Budi cepat.
__ADS_1
“Ya udah, mau curhat apa??” tanyaku bersiap menyimak.
“A a akuuuu” Imam menunduk terlihat bingung.
“Iya kenapa??” tanyaku semakin kesal.
“Aku udah bohongin pacar aku Kak” Imam membuka suaranya, dia menarik napas panjang dan berat.
“Loh?? Kenapa??” tanyaku.
“Ini untuk kebaikan dia Kak” jawabnya.
“Mana ada berbohong untuk kebaikan??” Aku mengerutkan dahiku.
“Ada Kak, aku sangat mencintai pacarku, makanya aku berbohong” tangan Imam semakin bergetar.
“Cinta itu jujur Imam, kenapa harus bohong?? Kalau kamu sangat mencintai pacarmu itu, kamu harus jujur padanya tentang apapun itu” Aku memberikan nasihat pada dua anak remaja ini.
“Aku takut di putusin sama pacarku Kak” Imam menunduk.
“Loh?? Kalau pacarmu itu mencintaimu, dan alasanmu bisa di mengerti, dia pasti maafin kamu kok” jawabku.
“Ta tapiiii ... aku udah sering banget bohongin dia”
“Dia maafin kamu terus??”
“Iya Kak”
“I iya Kak, tapi, seandainya Zain yang bohongin Kakak, Kakak mau maafin dia gak??”.
“Ya tergantung".
“Tergantung apa Kak?”.
“Tergantung dari kadar kebohongan yang Zain buat, kalau sampai Zain berani membohongiku lagi, tak remes-remes dia!! Huh ...”.
“Aaaaaaa ... jangan Kak, kasihan Zain”.
“Ya ya ya, aku tau, kalian pasti akan membela dia”.
“Kakak cantik!! Bagaimana jika kita jalan-jalan saja?? Bosenkan dengerin dia ngoceh terus??” tiba-tiba Budi memberiku usulan baru.
“Tidak, aku mau ketemu Zain, ini makanannya gimana??”.
“Eiihhh ... tidak apa-apa, makanannya aku yang akan makan”.
“Jangan!! Ini untuk Zain, awas, minggir, aku mau ketemu Zain dulu”
“Jangan!!”.
__ADS_1
“Kalian kenapa sih?? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku??”.
“Tidak!” jawab mereka kompak.
“Lalu?? Kenapa dari tadi kalian terus menghalangiku untuk bertemu dengan Zain??” tanyaku, berusaha menyingkirkan tangan Imam dan Budi.
“Kakak cantik!! Aku punya costum baru lho” Budi mulai memberi usulan yang aneh-aneh lagi.
“Tidak!! Aku mau ketemu sama Zain, awas kalian jangan ada yang menghalangiku!!” Aku mulai jengkel akan tingkah mereka yang sangat aneh.
“Kakak cantik!! Apa Kakak mau membagi makanan itu denganku??” tanya Imam menarik rantang yang aku bawa.
“Iya mau, tapi tunggu Zain dulu” Aku menghempaskan tangan mereka. Mereka itu pada kenapa sih?? Mencurigakan!!.
“Sayang!! Istriku!!” Deg! Itukan suara Zain? Dia pasti marah, karena aku malah berkumpul dengan teman temannya. Ini semua salah Budi dan Imam.
Aku menoleh, kulihat priaku sedang berdiri disebrang jalan, tersenyum imut, sambil melambaikan tangannya.
“Zain!!” Aku membalas lambaian tangannya.
“Kakak, kenapa kesini??” tanyanya, sekilas dia mencium keningku, aku tersenyum.
“Aku mau nganterin makanan ini buat kamu Zain” Aku mengacungkan rantang yang aku bawa.
“Yah ... aku udah mau pulang Kak” ucap Zain lembut.
“Loh?? Kenapa?? Inikan belum waktunya untuk pulang” Aku mengerutkan dahi.
“Aku izin Kak, aku ngantuk banget, pengen tidur aja dirumah” jawabnya manja.
“Ah baiklah, kita pulang saja, lalu bagaimana dengan makanan ini??” tanyaku, bingung juga, aku udah masak banyak, nyatanya tidak di makan sama sekali, sayangkan?? Jadinya mubadzir.
“Ah ... Kakak cantik, tenang saja, ada kami” Imam dan Budi dengan sigap mengambil rantang yang dari tadi aku tenteng.
“Aaaaaa jika ada kalian semua masalah jadi beres” Aku tersenyum sambil memberikan rantang tersebut.
“Tenang Kakak cantik, di tangan kami apapun itu, semuanya akan rebesss” jawab mereka kompak. Ah ... aku teramat bersyukur, Zain memiliki sahabat sebaik dan secare mereka.
“Baiklah, selamat menikmati makanannya yaaa, kami duluan, yuk Zain” Aku menarik tangan suamiku.
“Yuk ... “ Zain mengedipkan matanya pada Imam dan Budi, lalu menuntunku berjalan pulang menuju rumah.
Bersambung ................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ... like, komentar, vote, dan bintang limanya juga.
Follow akun IG author Teteh_neng2020
Author tunggu yaaa ...
__ADS_1
Terimakasiiihhh .....