
“Tidak!!!! tidak mungkin kakiku cacat, tidak mungkin aku tidak bisa main bola lagi!!!” Zain berteriak histeris ketika kami memberitahukan kebenarannya.
“Zain, istighfar, kamu bukan cacat, hanya saja kamu perlu melakukan serangkaian pengobatan, agar kaki kamu bisa kembali normal“ Aku mencoba menenangkan Zain.
“Tidak Kakak, aku tidak mau begitu, aku ingin tetap menjadi pesepak bola!!” Zain makin histeris.
“Zain, percaya sama aku, kamu pasti bakalan sembuh, selama kamu mau berusaha untuk sembuh, nanti kalau kamu sudah sembuh, kamu bisa kembali mewujudkan cita-citamu Zain“ Aku mengelus bahunya lembut, terbersit rasa kasihan di hatiku, bagaimanapun Zain suamiku.
“Tidak!! aku tidak mau begini!!! Papah, Mamah, tolong Zain, Zain gak mau begini!!” Zain menoleh pada kedua orangtuanya, yang daritadi hanya bisa menyeka air mata, meminta pertolongan.
“Zain, yang sabar ya, nanti Zain akan sembuh, iya?? oke?? anak mamah pasti bisa, Zain anak kuat“ Mamer berusaha memeluk putranya, tapi yang mau dipeluk malah memberontak, Zain tidak bisa menerima kenyataan, bahwa dia tidak bisa bermain bola lagi.
Wajah imut, kelakuan yang nyebelin, tapi lucu, juga ngangenin, senyuman manis, yang selalu menghiasi hari-harinya, entah kemana perginya, kini yang kulihat hanya wajah mengiba, dan tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Zain, kasihan sekali kamu.
“Zain, lihat aku, kamu masih muda, masih ada banyak hal yang bisa kamu lakukan selain menjadi pemain bola," Aku mencoba menenangkan Zain lagi, aku berkata selembut mungkin.
“Tidak Kakak, aku tidak mau begini“ Zain sesenggukan.
“Zain, aku percaya, kamu bisa melakukan hal lebih hebat dari pemain sepak bola,“ Aku mengelus bahu Zain, ada desir aneh pada diriku ketika melakukannya.
__ADS_1
“Kakak, Kakak gak akan pergi ninggalin aku kan???” tiba-tiba Zain menatapku, kemudian menatap kedua orangtuanya bergantian.
Aku tersenyum “Tentu saja tidak,“ jawabku.
“Janji??” tanyanya sambil menjentikkan jari kelingking.
“Janji“ jawabku sambil mengaitkan jari kelingkingku pada jari kelingking Zain.
“Makasih Kakak“ Zain memelukku tanpa aba-aba, lagi-lagi aku mematung, kaget dengan reaksi Zain, sementara Pamer dan Mamer hanya saling memandang sambil tersenyum.
“Iya, sama-sama Zain, Kamu harus kuat ya, kamu harus mau berobat dengan teratur, biar kamu cepet sembuh“ Aku melepaskan pelukan Zain, merasa tidak enak di pandang Pamer dan Mamer, dan juga ... rasanya di peluk suami itu ... entahlah, mungkin Zain hanya terharu atas jawabanku.
“Kakak, Kakak jangan kemana-mana ya, Kakak disini aja, temenin aku“ Zain mengapit tanganku di antara ketiaknya , ck, ni anak ada-ada aja, di kira aku bakalan kabur kali ya?.
“Enggak, Kakak gak boleh kemana-mana“ Zain merengek, hadeuh, perasaan yang cedera kakinya, bukan kepalanya, eh.
“Ekheeemmmm“ tiba-tiba Pamer berdehem.
“Papah, sama Mamah pulang aja, Zain disini mau sama Kak Yas aja“ Zain mengusir kedua orangtuanya, tanpa rasa malu, ampun dah, fikiran orangtua pasti aneh-aneh deh.
__ADS_1
“Ciiieeee ...” Pamer menutup mulutnya menahan tawa, tuh kan ...
“Ya ampuuunnn Zain kami ternyata sudah dewasa, sudah mau berdua sama perempuan cantik“ Mamah mencubit kedua pipi Zain dengan gemas.
“Perempuan cantik ini istri Zain Mamah“ Zain berdalih, sambil mengerucutkan bibirnya, ck dia lupa sama cedera di kakinya. Dia juga lupa baru saja dia menangis guling-guling, tidak mau menerima kenyataan.
“Ya ya ya, kalau gitu kami pulang dulu ya, besok kami kesini lagi“ Pamit mereka.
“Iya Mamah, hati-hati dijalan ya“ Aku menyalimi mereka, kemudian cikipa-cikipi sama Mamer.
“Zain sukses ya“ Pamer berbisik sambil mengedipkan matanya pada anaknya, seolah meberi kode.
‘Sukses?? sukses apa coba???’
“Oke Papah" Zain membalas kedipan Papahnya.
Sementara aku dan Mamer hanya mengerutkan kening sambil geleng-geleng kepala.
Ternyata satu keluarga ini sama saja, sama sama aneh, eh.
__ADS_1
Bersambung.................
Readers jangan lupa dukung terus kisah kami yaaaa @ Kakak Yas & Dede Zain.