TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Diagnosa


__ADS_3

Gundah, itu yang kami rasa ketika menunggu hasil pemeriksaan Zain, kulihat Zain masih terbaring lemah di atas ranjang, seketika ada perasaan yang sulit kujelaskan.


Aku menatapnya dengan iba, bagaimanapun juga Zain itu suamiku, apapun bentuk dan wujudnya, aku menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan.


“Keluarga Muhammad Zain??” perawat datang dan bertanya pada kami, spontan aku berdiri.


“Iya, saya istrinya sus, dan ini orangtuanya“ Suster mengernyitkan dahinya, mungkin sedikit tidak percaya kala aku mengaku sebagai istri Zain.


“Oh, baik bu, sudah di tunggu Dokter, di ruangannya, silahkan ikut saya“ Suster menunjukkan jalan pada kami, lalu kami mengikuti langkahnya,


“Keluarganya Muhammad Zain ya???” tanya Dokter.


“Iya betul Dok,“ Papah mertua mengangguk sambil duduk, di ikuti Mamer, sementara aku hanya berdiri di samping Mamer, sambil mencengkram ujung bajuku, takut akan kenyataan yang akan aku dengar.


“Bapak, dan Ibu, kami telah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap cedera yang ada pada kaki putra Bapak“ Dokter mulai membuka suaranya.

__ADS_1


“Iya,“ Bapak Mertua memanggutkan kepalanya, aku tau, orangtua Zain, jauh lebih khawatir di banding aku.


“Kami, mohon maaf, kami telah melakukan yang terbaik, tapi luka yang terdapat pada kaki putra bapak, cukup serius, hingga untuk sementara waktu membutuhkan perawatan yang intensive“ lanjut Dokter menjelaskan.


“A apa?? lalu bagaimana dengan cita-citanya untuk menjadi pemain sepak bola??” tanya Pamer dengan wajah di rundung pilu, aku tau meskipun kami tidak ada yang setuju dengan cita-cita Zain, tapi bukan berarti kami mengharapkan Zain untuk berada dalam kondisi ini.


“Mohon maaf pak, untuk sementara waktu, Zain, masih belum bisa beraktifitas seperti biasanya, dia harus istirahat total, dan untuk menyembuhkan lukanya Zain, harus mengikuti serangkayan pengobatan, agar sendinya bisa digunakan kembali dengan normal“ penjelasan Dokter membuat kami menganga tak percaya, bahkan Mamer sudah tak bisa lagi menahan tangisnya.


“Kira-kira, berapa lama waktu yang dibutuhkan? Agar putra saya kembali bisa beraktifitas dengan normal?” tanya Pamer yang sudah mulai bisa menguasai dirinya.


“Apa putra saya sungguh tidak akan bisa lagi menendang bola Dok?” Pamer masih tidak percaya akan kenyataan yang menimpa Zain.


Dokter tersenyum “Untuk saat ini belum bisa pak, mengingat pergelangan kaki putra Bapak patah, tapi kemungkinan selalu ada pak, selama kita terus berdo’a dan berusaha“


“Oh, baiklah, lakukan semua yang terbaik untuk putra kami Dok" Pamer akhirnya faham, dan mau tidak mau beliau menerima kondisi putranya, sementara aku dan Mamer hanya berpelukan dan terus menangis dari tadi.

__ADS_1


“Dokter tolong selamatkan Zain kami" Mamer histeris memegang tangan Dokter, memohon agar putranya bisa disembuhkan.


“Baik, ibu bantu do'a ya, kami akan melakukan yang terbaik“ jawab Dokter sambil tersenyum.


“Terimakasih Dok“ Aku memanggutkan kepala, kemudian menuntun Mamer keluar ruangan Dokter.


“Bagaimana cara kita menjelaskan semuanya pada Zain??? menjadi pesepak bola, adalah mimpi terbesarnya“ Pamer memegang jidatnya, mungkin bingung cara mengungkapkan kenyataan yang harus diterima putranya.


“Papah, nanti biar Yas bantu jelasin ya“ Aku mencoba menenangkan Pamer dan Mamer.


“Iya, terimakasih Yas, sekarang peran kamu akan sangat penting buat Zain" Pamer memegang bahuku sambil berlalu menuju kamar putranya.


Aku dan Mamer mengikutinya dari belakang, sambil berderai air mata.


Bersambung...............

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers.............


__ADS_2