
“Kakak, tiga hari lagi aku ada perlombaan sepak bola antar sekolah," Zain datang dengan terengah-engah, memberi tahuku.
“Iya, lalu???” tanyaku menatapnya, sejenak menghentikan aktifitasku yang tengah memotong sayuran.
“Aku mau Kakak datang untuk menonton pertandinganku“ Zain bergelayut manja pada pintu.
“Gak taulah Zain, aku sibuk“ jawabku, lah, ya jelaslah aku nolak, orang aku gak suka kok sama permainan sepak bola.
“Kakak, aku mohon, Kakak datang yaaa ... anggap aja ini hadiah ulang tahunku" Zain menaik turunkan alisnya.
Aku menatapnya dalam, mungkin sekali-kali mewujudkan mimpi bocah ini gak apa-apa kali yaaa ... tapi, aku ingin memberinya kejutan.
“Gak Zain, aku sibuk, aku gak suka bola“ jawabku sambil meneruskan pekerjaanku.
“Kakak!! aku suami Kakak, istri yang baik harus nurut sama suami!!“ tegasnya, setengah berteriak.
“Aaaaaaaa ... iya, aku lupa jika aku istrimu“ aku menoleh sambil mengacungkan pisau yang tengah kupegang.
“Iya, Kakak gak usah dateng“ jawabnya sambil berlalu meninggalkan aku yang tengah mematung.
“Dasar bocah, sensitife amat, dikit-dikit marah, dikit-dikit masuk kamar, ngurung diri“ aku menggumam, sambil memasukkan sayuran kedalam wajan.
Beberapa saat kemudian ...
__ADS_1
“Zain, makan dulu!!” Aku berteriak.
“Aku gak mau makan!!” jawabnya dari dalam kamar, tak kalah berteriak.
Ck, dikira rumah ini hutan kali ya, udah kayak Tarzan aja, main teriak-teriak.
“Zain, ini ada kecoak, aku takuuutt" Aku berteriak, memancing Zain, siapa tau si anak gadis mau keluar kamar, lalu makan.
Tapi masih hening, dia tidak keluar kamar juga, ish, giliran dia yang takut sama kecoak aja, aku langsung nyamperin, ini aku yang teriak minta tolong, dia gak ada niat bantu sama sekali.
“Zaiiinnn ... ada Tikuuussss gimana ini???” sekali lagi aku mencoba membujuk si anak gadis, eh maksudnya suamiku, tapi masih hening juga.
“Hallo Assalamu’alaikum Riyan, apa kabar??apa??? kamu mau ngajak aku main?? iya, boleh dong“ Aku berpura-pura mendapat telpon dari Riyan.
Tiba-tiba pintu terbuka, terlihat wajah Zain tampak di tekuk, mengundang tawaku.
“O ya???” Aku memutar kedua bola mataku.
“Iya, ya udah aku mau makan“ Eh, beneran marah dia, tapi jadi nurut.
Zain melangkahkan kakinya ke dapur, “Kakak, aku mau makan!!“ terdengar teriakan Zain dari sana.
“Iya, tadi katanya gak mau makan??” Aku mengebikkan bibirku.
__ADS_1
“Tapi sekarang mau Kak“ Jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya.
“Ya udah makan yaaa ... nih aku ambilin“ Aku mengambilkan piring lalu mengisinya dengan nasi, dan lauknya, lalu memberikannya pada Zain. Zain menerimanya, lalu mulai menyuapkan makanannya.
“Lagian, kamu kenapa sih Zain?? dikit-dikit marah, dikit-dikit ngambek, gak baik tau kayak gitu“ Aku mencoba menasihati Zain, tapi yang di nasihati malah tetap diam, masih ngambek kayaknya.
“Kakak juga, udah nikah, masih aja berhubungan sama si Om itu“ Zain memasang wajah seram yang terlihat imut dimataku.
“Riyan, namanya Riyan, Zain, kamu bisa memanggilnya Kak Riyan,“ pintaku.
“Ah, Aku gak suka sama Om-Om itu, dia pasti suka sama Kakak kan??” Zain masih menuduhku.
“Zain, Riyan itu selain adik dari Om Bayu, dia juga sudah menjadi sahabatku, sejak lama, lagian Riyan itu sudah menikah Zain" jelasku.
“Aku pokoknya gak suka kalau Kakak masih berhubungan sama Om itu” Zain masih keukeuh dengan pendapatnya.
“Zain,“ Lembut aku kembali menjelaskan pada Zain, tapi belum aku menjelaskan tiba-tiba ...
Trrraaaaannnggg ...
Zain melempar sendok, menatapku dalam, seketika aku menganga.
“Apapun alasannya aku gak suka!!!!“ Zain pergi meninggalkan meja makan, meninggalkan aku sendirian yang tengah mengurut dada. Ck, bocah, cemburu dia.
__ADS_1
Bersambung..............
Gengs, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa.....