Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
10. Beginikah Rasanya Kebahagiaan Itu?


__ADS_3

Celingak-celinguk mencari keberadaan sang suami. Karena tidak biasanya, ia sudah bangun.


Biasanya, Kak Zii akan membangunkanku juga tatkala ia sudah terjaga. Namun, pagi ini tidak.


Tidak kutemukan dirinya di sampingku. Bangun-bangun, kamar telah sepi.


“Bi Suri...” panggilku pada ART yang dikirim Papa untuk membantuku mengurus rumah yang aku dan Kak Zii tinggali sekarang.


“Iya, Nyonya.”


“Bibi lihat suami saya?” tanyaku tanpa basa-basi.


“Sepertinya, tadi di ruang tamu, Nyonya. Tuan lagi ada tamu.”


“Siapa?”


“Kurang tahu juga, Nyonya. Saya belum pernah lihat.”


“Tamunya laki-laki, kan?”


Mulai tak tenang hati ini. Apalagi saat membayangkan kalau tamu Kak Zii yang dimaksud Bi Suri adalah seorang perempuan.


Entahlah, aku tak senang bila harus melihat Kak Zii bersama wanita lain, meski itu teman kerjanya sekalipun. Iya, aku anaknya cemburuan.


“Laki-laki, Nyonya.”


Seketika terangkat langsung bibir ini. Aku mengangguk dan dengan cepat berjalan ke ruang tamu. Mood-ku telah kembali setelah tadi sempat salah kira.


“Ini bayaran kalian. Saya mau kalian tutup mulut! Jangan sampai ada seorang pun yang tahu. Apalagi keluarga saya, terutama Papa.”


Awalnya tak mau menguping pembicaraan suamiku, tetapi entah kenapa aku sedikit tertarik lantaran nama Papa dibawa-bawa.


‘Apakah Kak Zii menyembunyikan sesuatu dari Papa?’


Aku mulai menduga-duga.


“Kalian sudah boleh pergi!”


Melihat Kak Zii dan dua laki-laki itu bangkit dari duduknya, buru-buru kusembunyi di balik sofa. Takut saja bila ketahuan tengah menguping pembicaraan mereka.


“Mau di situ sampai kapan, Na?”


Sepertinya percuma bersembunyi, suamiku itu terlalu pintar. Ia selalu tahu aku sedang di mana.


Berdiri. Aku pun langsung menghampirinya. Yang ternyata sudah berada di dekatku.


“Hehe...”


Aku hanya bisa cengengesan. Meski sebenarnya, aku sedikit khawatir Kak Zii akan marah atau semacamnya karena aku telah lancang mencuri dengar obrolannya dengan dua laki-laki yang tampak seperti pereman tadi.


Tangan Kak Zii terulur merapikan beberapa rambutku yang jatuh menutupi wajah. Dengan telaten, disisipinya anak-anak rambut itu di bagian belakang telinga.


“Udah sarapan?” tanyanya kemudian.


Aku menggeleng.

__ADS_1


“Kenapa belum?”


Kini tangan sang suami telah berpindah. Menangkup kedua pipi ini.


“Kan nungguin Kakak. Aku maunya sarapan sama Kak Zii.”


Suamiku itu tersenyum. Pelan, ia mendaratkan kecupan di keningku. Seperti rutinitas yang biasa dilakukannya sebelum berangkat kerja. Namun karena ini hari libur, Kak Zii akan memiliki banyak waktu luang untukku.


“Ayo, sarapan!” ajaknya kemudian.


Lagi-lagi aku hanya mengangguk.


Kak Zii meraih tanganku. Digenggamnya erat. Akh..., senang sekali rasanya seperti ini. Senyum di bibir tak pernah redup. Selalu saja merekah.


“Aku mau duduk di samping, Kakak,” ucapku setelah sampai di meja makan.


Kak Zii tersenyum. Ia langsung menarik kursi di sampingnya untukku.


“Silakan, Sayang!”


“Makasih,” balasku riang.


Dan tanpa tahu malunya, menghadiahi suamiku itu sebuah kecupan, tepat di bibirnya.


Kak Zii menatapku terkejut. Mungkin ia heran melihatku yang kini sudah mulai berani menggodanya.


“Na..., jangan lakukan itu lagi!”


“Emang kenapa, Kak?” tanyaku pura-pura tak tahu.


“Aku kan cuma mau kasih hadiah buat suamiku. Apa enggak boleh?”


“Sayang..., kamu tahu kan kalau Kakak bukan laki-laki sabaran. Jadi, lain kali jangan coba-coba ganggu Kakak. Untuk kali ini Kakak maafkan. Tapi, kalau lain kalau kamu ulangi lagi..., Kakak akan menghukummu. Paham?”


Mengangguk kepala ini.


Akh..., benar-benar memalukan. Apalagi tadi kulihat Pak Septo—sopir kami sempat melihat aksi Kak Zii itu.


Jantungku tak pernah berdetak normal akibat ulah Kak Zii barusan.


“Enggak usah malu, Sayang. Kakak malah semakin menginginkanmu kalau kamu seperti ini terus. Ayo, habiskan sarapannya!”


Alih-alih tenang, ucapan suamiku justru semakin membuat dada ini bergemuruh. Wajahku pun rasanya semakin memanas.


“Permisi Tuan, Nyonya... ini jangan lupa diminum susunya!”


Melihat susu yang disodorkan Bi Suri membuat perut ini ingin mual. Aku yang awalnya senang minum susu menjadi tak berselera lantaran harus meminum susu dari Bi Suri yang rasanya entah kenapa malah pahit. Bukan manis seperti susu-susu yang kerap kuminum.


Menjauhkan susu itu dari hadapanku. Aku tidak mau meminumnya lagi.


“Kenapa, Sayang?”


Kak Zii yang melihatnya seketika bertanya.


“Aku enggak mau minum susunya, Kak. Susunya pahit. Aku enggak suka.”

__ADS_1


“Sayang..., susunya diminum, ya. Kakak enggak mau tubuhmu sakit. Kamu harus tetap sehat supaya tiap saat kita bisa melakukan itu. Kakak ingin segera punya anak, Na.”


“Ih..., Kak Zii mah mikirnya gitu terus. Kana kan masih harus kuliah dulu, Kak. Kana enggak mau punya anak cepat-cepat.”


“Na..., lihat Kakak!”


Kak Zii memegang bahuku. Menghadapkan tubuh ini padanya. Diangkatnya daguku supaya aku bisa leluasa melihat wajahnya.


“Sayang..., Kakak enggak larang kamu buat ngejar impianmu. Pun kalau nanti kamu hamil, kamu tetap Kakak izinkan kuliah. Kakak tidak akan mengekangmu. Tapi, Kakak cuma minta satu, Na. Kasih Kakak anak, Sayang.”


Kak Zii memelukku. Mendekap tubuh ini erat. Aku yang diperlakukan semanis ini langsung luluh. Kekesalanku menguap seketika.


Melepaskan pelukan. Kak Zii menatapku. Diraihnya tangan kanan ini. Dikecupnya lembut.


“Minum susunya, ya?” ucapnya kemudian.


Bak terhipnotis, aku langsung mengangguk.


Kulihat suamiku itu tersenyum. Langsung diambilnya susu yang belum kusentuh itu. Diserahkannya gelas berisi cairan putih itu padaku.


“Mau Kakak bantu minum?” bisik Kak Zii pelan.


Paham akan maksud sang suami. Wajah ini langsung memanas dibuatnya.


Aku menggeleng dan tanpa diperintah. Cepat-cepat kuambil gelas berisi susu itu dari tangannya. Gegas, meminumnya hingga tandas.


“Istri pintar.”


Kak Zii tersenyum. Tangannya terulur menyentuh bibir ini. Diusap-usapnya pelan sisa susu yang masih tertinggal di sana. Tidak berhenti di situ, suamiku itu mendekat dan dengan secepat kilat, dikecupnya bibir ini.


“Itu hadiah karena kamu menuruti Kakak.”


Aku hanya menunduk. Belum terbiasa dengan kejutan-kejutan yang suamiku ini lakukan.


“Cepat habiskan makananmu, Na! Kakak mau mengajakmu keluar hari ini. Kamu pasti bosan beberapa hari ini hanya di rumah terus.”


Terangkat kepala ini. Hatiku langsung ceria.


Benar apa yang dikatakan Kak Zii. Aku sudah bosan di rumah apalagi ketika suamiku harus pergi ke kantor—meninggalkan diri ini yang hanya gelundang-gelundung tak jelas di kamar.


“Kita akan ke mana?”


“Ke mana pun kamu mau. Kakak akan ikut.”


“Serius?”


Berbinar-binar mataku. Tak kuat menahan kesenangan ini, terlebih setelah melihat suamiku itu menganggukkan kepalanya.


Aku tersenyum. Tanpa aba-aba, gegas menghamburkan diri ke dalam pelukannya yang nyaman itu. Membenamkan wajah ini di atas dada bidangnya.


“Makasih, Kak. Makasih,” ucapku berkali-kali sembari mengeratkan pelukanku.


Akh..., beginilah rasanya kebahagiaan itu? Rasanya luar biasa. Aku benar-benar berharap kebahagiaan ini tidak pernah berakhir.


Iya, semoga saja.

__ADS_1


Next...


📌 Terima kasih sudah membaca🙏 Jangan sungkan buat tinggalin jejak. Like, komen, dan subscribe cerita ini, ya. Makasih 💚💚💚🌻📌


__ADS_2