Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
16. Tekad


__ADS_3

POV KANA


Ternyata takdir tak pernah sedikit pun memihak padaku. Kenapa Tuhan harus mempertemukanku dengannya kembali sementara kini sudah tak lagi ada harapan untuk kami mengulang semuanya?


Sudah tak ada lagi cinta untukku. Ia membenciku, bahkan ia sudah memiliki calon istri sekarang.


Sepertinya, hidupku memang tak akan pernah bahagia. Hanya akan ada penderitaan.


Kuhempaskan tubuh ini di tepi ranjang. Membuang napas kasar. Berharap dengan itu, rasa sesak di dada dapat berkurang.


“Ya Allah, apa semurka itu Engkau pada hamba sampai-sampai harus terus menghukum hamba seperti ini?” ratapku sembari memejamkan mata.


Teramat sakit rasanya melihat orang yang dulu pernah menjadi penyemangat hidupmu, kini malah berbalik memusuhimu. Tak kuasa pula rasanya melihat Dien begitu perhatian dengan gadis itu. Ulu hati ini terasa diremas. Sakit.


“Berhenti menangis! Suaramu berisik!”


Mataku membuka dan langsung menoleh.


Mendapati Dien telah bersender di ambang pintu. Wajahnya terlihat dingin. Sorot matanya juga tajam. Benar-benar berbeda dari sikapnya yang dulu. Kini tak ada lagi wajah teduh dan senyum manisnya.


“Aku enggak nangis,” bohongku sambil mengusap-usap kelopak mata yang memang jelas-jelas berair.


“Mau sampai kapan kamu menipu orang? Enggak capek apa hidup dalam kebohongan terus?”


“Aku enggak bohong, Di.”


“Enggak bohong? Menyedihkan sekali. Dasar perempuan licik. Siapa yang akan percaya kalau gadis mur4h4n sepertimu tidak berbohong?”


Si lelaki mendengkus.


Aku bangkit dari duduk. Mencoba mendekatinya. Bibir ini tetap kupaksa memamerkan senyuman meski hatiku kini terasa tercabik-cabik luar biasa.


“Mau aku hidup dengan kebohongan. Mau aku licik. Mau aku murahan. Itu hakku, Di. Selama aku tidak merugikan orang lain, aku rasa aku bebas melakukan itu.”


Telah mencoba sekuat mungkin untuk tak terlihat lemah di depannya, tetapi tetap saja suaraku masih bergetar. Pun air mata turut terurai begitu saja.


“Tidak merugikan orang lain?” ucapnya dengan senyuman sinisnya.


“Lalu pengkhianatan yang dulu kamu lakukan itu apa, Na? Apa kamu tidak merasa telah merugikan saya? Ah, sungguh naif sekali saya ini. Seharusnya, saya sadar diri karena jelas-jelas kamu tidak pernah memedulikan perasaan saya. Kamu hanya anggap saya mainan.”


Apa maksud laki-laki ini? Aku tidak peduli padanya? Menganggapnya mainan?


“Ka-kamu salah, Di. Aku peduli sama kamu. Aku peduli akan perasaanmu. Karena itulah aku sampai harus melakukan itu semua. Demi kamu. Demi Tante Mita. Tidak pernah sekali pun terbesit di kepalaku bahwa aku berkeinginan menjadikanmu sebagai mainan. Aku nyata-nyata menyayangimu, Di.”


Lagi-lagi hanya senyum mengejek yang kulihat di wajahnya.

__ADS_1


“Cukup, Na. Hentikan omong kosongmu. Dan jangan pernah sekali-kali bawa namaku dan Ibu untuk menutupi kesenanganmu yang hanya ingin memuaskan n*fsumu yang liar itu.”


Plak...


Tanganku bergerak begitu saja, menampar wajah Dien.


“Ka-mu keterlaluan, Di. Kamu benar-benar jahat.


Ia tak merespons, tetapi tatapannya begitu tajam.


“Bila kamu sebut aku jahat hanya karena aku bicara seperti tadi? Lalu, kamu mau disebut apa karena telah mengkhianatiku, hah?”


Ia memb3ntakku.


“Aku sudah bilang, Di. Kalau aku melakukan itu demi kamu. Aku enggak mungkin tega mengkhianati kamu karena aku cinta sama kamu, Di.”


Suaraku turut meninggi.


“Sudah, Kana! Aku muak dengan omonganmu yang itu-itu terus! Seharusnya kamu tahu diri. Gadis menj*jikkan seperti dirimu tidak pantas mencintai saya. Dan asal kamu tahu, saya sungguh menyesal karena dulu pernah tergila-gila sama perempuan bermuka dua seperti kamu.”


“B*r*ngsek kamu, Di. Padahal, aku m4ti-m4tian berkorban demi kamu dan Ibumu, tetapi ini balasanmu?”


“Cih. Berkorban apa, hah?”


Menatap sang lelaki sendu.


“Aku hanya berdoa, semoga suatu saat nanti kamu tidak akan pernah menyesali semua kata-katamu ini. Semoga waktu kebenaran itu terungkap, kamu tidak menyalahkan dirimu.”


Suaraku benar-benar serak. Tenggorokan ini rasanya kering. Seakan-akan, tak sanggup lagi mengeluarkan suara.


“Ada apa ini, Nak? Dien kamu apakan Kana”


Ibu Dien tiba-tiba datang. Beliau langsung menghampiri dan memelukku.


“Ibu jangan termakan sandiwaranya. Dia perempuan penipu. Wanita enggak benar. Sampah.”


Sakit. Benar-benar sakit. Aku menangis dalam diam. Dalam pelukan wanita asing yang beberapa hari lalu menolongku.


“Astagfirullah..., jaga ucapanmu, Di! Ibu tidak suka kamu mengina wanita seperti itu. Iska bawa Dien keluar. Biar Ibu yang temani, Kana.”


“Kak, ayo kita keluar. Kakak harus dinginkan kepala Kakak.”


Kudengar langkah kaki menjauh. Sepertinya, laki-laki itu dan kekasihnya telah pergi.


“Na..., duduk dulu ya, Sayang,” ucap wanita setengah baya itu sambil menuntunku duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Aku menurut. Duduk. Ibu ikut duduk di sampingku.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Kana kenal sama Dien?” sambungnya sambil terus menatapku lembut.


Aku mengangguk, tetapi belum berani membuka suara.


“Apa Kana boleh cerita sama Ibu tentang hubungan Kana dengan Dien?”


Sejenak aku ragu untuk menceritakannya karena aku belum percaya sepenuhnya dengannya.


Namun, entah mengapa hati kecilku seakan-akan meronta-ronta untuk bercerita. Tentang semua hal yang terjadi dalam hidupku.


Hingga akhirnya, cerita itu pun mengalir begitu saja. Mulai dari kedekatanku dengan Dien hingga sampai pada pertunangan kami.


Pun aku turut menceritakan tentang aibku dengan Kak Zii hingga sampai pada perceraian yang aku alami serta alasan mengapa akhirnya aku memutuskan untuk bunuh diri.


“Astagfirullah, Ya Allah, Sayang. Dien harus tahu semuanya, Nak. Kamu harus jelaskan semuanya.”


Aku menggeleng.


“Enggak, Bu. Aku enggak mau lihat dia menyesal dan akhirnya meninggalkan calon istrinya. Aku enggak mau buat Iska kecewa dan merasa terkhianati. Lagi pula, aku enggak bisa punya anak, Bu. Jadi, biarlah Dien bersama Iska karena aku yakin mereka akan bahagia.”


“Tapi, Sayang. Kamu harus tetap jelaskan semuanya. Biar bagaimana pun Dien harus tahu.”


Lagi-lagi aku menggeleng.


“Bu...” Aku menggenggam tangannya dan menatapnya serius.


“Aku mohon untuk kali ini saja. Rahasiakan semuanya dari Dien dan Iska.”


“Lalu, bagaimana denganmu, Nak?”


Aku tersenyum lebar.


“Aku akan menyibukkan diri untuk memperbaiki diri, Bu. Aku yakin, lambat-laun aku akan bisa melupakan semuanya. Jadi, apa aku boleh minta tolong sama Ibu. Bimbing aku menjadi orang yang lebih baik lagi, Bu. Aku mau berubah.”


“Pasti, Sayang. Ibu akan membimbingmu.”


Ibu langsung membawaku ke dalam pelukannya. Di sela-sela isak tangisku aku tetap bisa tersenyum karena aku bersyukur masih ada orang baik yang mau menolong dan membantuku.


‘Ya Allah. Kali ini aku janji ingin berubah karena-Mu. Aku harap Engkau meridoinya.’


Aku berharap apa yang terjadi di masa lalu menjadi pembelajaran buatku. Pun semoga nanti, Allah hadirkan seorang yang mau menerima segala kekurangan ini.


Next...

__ADS_1


__ADS_2