
POV Rahdien Alamsyah (Dien)
Entah bagaimana dan sejak kapan rasa itu ada. Kanara Assyva, gadis cantik nan manis yang berhasil mencuri perhatianku pada pandangan pertama kami.
Namun, meski sudah berhasil mencuri perhatianku sejak awal, aku tak lantas berani mendekatinya. Karena aku sangat benci berhubungan dengan gadis kaya.
Selain karena mereka terkesan angkuh, banyak pula di antara mereka yang tak ingin berteman, apalagi dengan anak miskin sepertiku.
Bisa mengenyam pendidikan di SMA ternama dengan beasiswa seperti saat ini saja aku sangat bersyukur, apalagi bila aku sampai dapat berkenalan dengan orang-orang kaya itu.
Hingga waktu terus berlalu, aku pun sudah mulai melupakan tentang perasaanku. Seperti konon katanya, waktu bisa mengaburkan perasaan.
Namun, di saat hati ini telah akan melupakannya, tiba-tiba suatu hari Allah menakdirkan aku menolongnya. Di saat ia tengah menunggu jemputan dari sopirnya di depan gerbang sekolah yang sudah sepi, tiba-tiba beberapa orang pria mendekat ke arahnya.
Aku yang baru keluar dari parkiran sehabis mengambil sepeda refleks mendekat. Entah mengapa perasaan khawatir langsung menyeruak setelah melihat ia yang mulai didekati pria-pria asing itu.
Dan benar saja mereka ingin membawa pergi gadis itu. Namun, sebelum Kana berhasil mereka bawa, aku telah lebih dulu berteriak sehingga warga sekitar dan guru-guru yang masih berada di dalam sekolah berhamburan keluar.
Alhasil pria-pria yang hendak membawanya pun memilih kabur. Sepertinya, takut bila dikeroyok masa.
Setelah kejadian aksi heroikku itu, pagi harinya, Kana mencariku ke kelas. Dan yang membuatku tak percaya adalah gadis manis itu mengajakku berpacaran.
Serius aku tak berbohong.
Pikirku, ia mencariku karena ingin berterima kasih atau semacamnya karena aku telah menyelamatkannya. Namun, faktanya ia malah mengajakku berpacaran.
Sejak saat itu, aku melabelinya sebagai gadis aneh karena ketidakjelasan sikapnya.
Lalu bagaimana jawabanku? Apakah aku menerimanya?
Bila kalian berpikir aku menerimanya, maka kalian salah besar. Aku malah menolaknya.
Lah, kok bisa? Bukankah aku pernah mengatakan bahwa aku tertarik dengannya? Bukankah wajar bila aku menerimanya menjadi kekasihku?
Sayangnya aku bukan laki-laki yang mau membuang waktu untuk sekadar melakukan kegiatan yang sia-sia itu. Lebih baik aku menjomlo belasan tahun atau mungkin hingga puluhan tahun daripada harus berpacaran.
Satu prinsipku, bahwa bila aku menjalani hubungan dengan wanita maka aku sudah pasti serius akan hubungan itu dan bermaksud menjadikan ia satu-satunya wanita dalam hidupku.
__ADS_1
Sementara, pacaran bukanlah solusinya karena akan ada yang namanya hubungan putus-nyambung. Sungguh, aku amat membenci hubungan yang tak sehat seperti itu.
Setelah penolakanku terhadap gadis manis itu, Kana sepertinya merasa kesal dan menganggap bahwa aku laki-laki tak tahu diuntung yang sok jual mahal.
Aku tak menyalahinya karena itu memang wajar. Siapa yang tak akan berpikir demikian?
Di saat setiap laki-laki berlomba-lomba mendekatinya dan ingin menjadikannya sebagai kekasih, aku justru malah menolaknya. Bukankah aku laki-laki tak tahu diri yang dengan terang-terangan menolak seorang tuan putri?
Akibat perbuatanku itu, aku mendadak viral di sekolah. Banyak laki-laki mendatangiku.
Bukan. Mereka bukan ingin berteman atau semacamnya. Mereka mengajakku ribut hingga malah sempat sampai membuatku babak belur lantaran aku menolak idola mereka. Sungguh gil4 memang. Aku bahkan tak habis pikir bila kejadian seperti itu akan terjadi.
Hingga seiring berjalannya waktu dan hampir mendekati akhir semester, berita akan penolakanku terhadap primadona sekolah itu pun lambat laut menyurut. Hidupku pun kembali tenang seperti sedia kala.
Akan tetapi, kedamaian itu tak berselang lama, Kana kembali datang menemuiku. Kali ini ia memintaku menjadi tunangannya.
Awalnya, aku menolak karena aku sangat yakin bahwa Kana mengajakku bertunangan bukan lantaran dirinya serius ingin menjalani hubungan denganku, tetapi semata-mata karena ia ingin membuktikan kepada semua orang bahwa aku, laki-laki yang dulu menolaknya telah berhasil ditaklukkannya.
Mendapati aku yang kembali menolaknya tak membuat gadis kaya itu melepaskanku. Ia benar-benar meyakinkan diriku bahwa dirinya memang serius ingin menjalin hubungan denganku, bahkan ia berjanji akan mengenakan kerudung dan sanggup berubah menjadi gadis yang lebih baik semata-semata supaya aku mau menerimanya.
Meski masih ragu, aku pun akhirnya menerima Kana karena sepertinya hatiku masih menginginkannya—seorang gadis manis yang memikat hatiku hanya lewat pandangan pertama kami.
Kana ternyata tak seperti wanita kaya yang aku pikirkan. Ia tak angkuh, malah ia murah senyum. Hidupnya sederhana, hanya saja ia terkenal manja. Ia sering merajuk dan pecemburu. Namun, aku bisa memaklumi itu karena wajar, namanya juga perempuan.
Walaupun manja, Kana amatlah dermawan. Bahkan ia sampai rela membiayai semua pengobatan Ibuku.
Iya, Ibu mengidap penyakit yang cukup parah yang mengharuskannya untuk dirawat di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang tak sedikit.
Aku tak tahu jadinya, bila Kana tak menolong kami, mungkin hidup Ibu tak akan bertahan lama. Karena itulah, aku sangat menyayangi Kana. Aku benar-benar tulus mencintainya sehingga aku masih setia menjaga dan menjunjung kehormatannya.
Hingga prahara itu datang. Mengombang-ambingkan semua harapan.
Dini hari sekali, saat aku masih menemani Ibu di rumah sakit lantaran pihak rumah sakit sempat mencabut semua alat bantu ibu, seorang laki-laki kaya yang mengaku sebagai kakak Kana—calon tunanganku—mendatangiku.
Pikirku ia akan membawa angin segar perihal tanggal pertunanganku dengan Kana yang mungkin telah ditetapkan oleh keluarga mereka, namun sungguh sayang.
Laki-laki yang kuketahui bernama Eziio itu menunjukkan foto-foto yang membuat duniaku seakan-akan runtuh.
__ADS_1
Foto-foto itu memperlihatkan bahwa Kana tengah tidur bersama seorang pria yang sayangnya wajah laki-laki itu tak terekspos sedikit pun.
Marah. Kecewa. Merasa terkhianati. Semuanya bercampur menjadi satu.
Sedari itu, aku menyadari bahwa ucapan Kana yang katanya ingin berubah menjadi lebih baik ternyata hanyalah omong kosong.
Ia nyata-nyata telah mempermainkan hati dan cinta tulusku.
Belum lagi, setelah mendengar pengakuan dari kakaknya yang mengatakan bahwa Kana amat sering membawa teman laki-lakinya ke rumah tanpa sepengetahuan orang tuanya membuat hatiku makin panas dingin.
Eziio juga mengaku sering memergoki adiknya tengah berbuat tak sen0noh bersama teman prianya.
Sungguh, bila tak tahu tempat, aku ingin sekali berteriak dan menghajar apa saja yang ada di depanku karena emosiku telah naik pitam.
Setelah mengetahui kebenaran yang selama ini Kana rahasiakan dariku, secepat mungkin aku ingin terbebas dari hubungan palsu yang terjalin di antara kami.
Beruntung. Eziio, laki-laki kaya yang lebih tua beberapa tahun dariku itu memberiku uang yang cukup banyak semata-semata supaya aku bisa melunasi semua biaya yang Kana keluarkan untuk pengobatan Ibu.
Eziio melakukan itu semua karena simpati dan merasa bersalah atas sikap adiknya. Eziio tak ingin bila aku menyesal di kemudian hari.
Sehingga sebelum semuanya terjadi, sebelum aku melanjutkan hubungan yang lebih serius lagi, Eziio menyarankan supaya aku segera mengakhiri semuanya.
Setelah hidupku terbebas dari gadis m*rahan itu, aku merasa menjadi jauh lebih baik. Meski sebelumnya sempat terpuruk karena kepergian Ibu untuk selama-lamanya.
Namun, Allah masih menyayangiku dengan menghadirkan keluarga angkat yang begitu menyayangi dan mencintaiku bak anak kandung mereka sendiri.
Belum lagi, kini aku tengah bertaaruf dengan seorang gadis keponakan Ibu angkatku yang tentu tak kalah cantik dari wanita itu.
Gadis pilihanku kali ini pastinya juga amat salihah, sesuai dengan kriteria calon istri yang aku impikan.
Aku benar-benar berharap hidupku akan terus tenang. Hingga tadi, Ibu mengatakan bahwa ia telah menolong seorang gadis bernama Kana yang membuat darahku tiba-tiba naik.
Emosiku pun turut memuncak. Ternyata luka lama ini belum juga sembuh. Karena buktinya mendengar nama gadis itu saja bisa membuatku seperti sekarang?
Lalu, bagaimana bila aku bertemu dengannya?
Aku benar-benar berharap bahwa wanita yang bernama Kana, yang diselamatkan Ibu itu bukanlah wanita r*ndahan yang ingin namanya kukubur selamanya itu. Iya, semoga bukan dia.
__ADS_1
Next...