
POV KANA
Setelah diangkat anak oleh Tante Ratna—orang yang menyelamatkanku sekaligus Ibu angkatnya Dien, beliau memintaku untuk kembali melanjutkan kuliah.
Seiring berjalannya waktu, aku benar-benar menyibukkan diri dengan kuliah dan lebih fokus lagi pada hijrahku.
Alhamdullilah, kini aku telah belajar menutup aurat, sudah bisa membaca Alquran dengan lancar, bahkan aku telah mulai mencoba menghafal ayat-ayat pendek.
Salat pun tak lagi pernah kutinggalkan. Sesekali aku juga mulai belajar puasa untuk melatih kesabaran dan tentu untuk menekan syahwat.
Hidupku saat ini benar-benar damai. Seumur-umur aku tak pernah merasakan hidup dalam ketenangan seperti ini dan aku berdoa semoga ke depannya nanti, ketenangan ini akan dapat terus kurasakan.
“Na..., Ibu keluar sebentar ya, Sayang. Mau ke pasar.”
Sontak aku langsung menoleh ke arah Ibu yang tiba-tiba mendatangiku yang sejak tadi asyik menonton ceramah di salah satu stasiun TV. Hari ini hari Ahad. Karena itulah aku bisa bersantai ria—tak pergi ke kampus.
“Mau aku temani enggak, Bu? Mumpung aku juga luang.”
Kulihat Ibu menggeleng.
“Enggak usah. Kamu di rumah saja. Ibu ke pasarnya enggak lama.”
Aku mengangguk dan melempar senyum ke arahnya.
“Ibu hati-hati, ya,” ucapku tulus.
“Iya. Ibu pergi dulu, ya Sayang. Jangan lupa sarapan, Ibu sudah siapkan di meja makan. Sekalian nanti bangunkan Kakak dan Bapakmu itu. Mereka kebiasaan selalu tidur lagi.”
“Siap, Bu,” ucapku tegas sambil mengangkat tangan seperti orang hormat.
Ibu hanya bisa tersenyum geli melihat tingkahku dan setelah itu ia berlalu hingga tubuhnya tak terlihat lagi.
Beberapa menit setelah kepergian Ibu, siaran televisi yang kutonton berakhir. Aku pun lantas mematikannya dan memutuskan untuk membangunkan Bapak dan Dien, seperti pesan Ibu.
“Ibumu mana, Na?”
“Ba-bapak?” ucapku sedikit terkejut karena sama sekali tak menyadari kehadiran beliau.
“Ibu tadi ke pasar,” jawabku buru-buru.
Jujur, aku belum terlalu sering berbicara dengan Bapak karena beliau sering tak di rumah. Biasanya ia sibuk dengan pekerjaannya.
Aku sendiri heran, mengapa pagi ini ia tak berangkat kerja karena biasanya pagi-pagi sekali ia telah berangkat, termasuk dengan hari Ahad sekali pun.
“Dien mana?” tanyanya kembali.
“Masih tidur sepertinya, Pak karena tadi Ibu minta aku buat bangunkan dia.”
“Dibangunkannya nanti saja. Kasihan kakakmu itu. Bapak mau sarapan. Kamu bisa siapkan?”
Aku mengangguk dan dengan segera berjalan menuju ruang makan. Perlahan tapi pasti aku menghidangkan makanan yang sebelumnya sudah dimasak Ibu.
Bila ada yang penasaran tentang bagaimana hubunganku dengan Dien sekarang? Ya, kamu hanya sebatas orang asing yang tahu nama masing-masing. Tidak lebih. Atau mungkin bila jujur, Dien kini malah membenciku.
__ADS_1
Menganggapku sebagai wanita rendahan yang sudah mengkhianatinya.
Mungkin karena terbiasa, aku jadinya merasa biasa-biasa saja. Toh, kini hidupku yang sekarang juga baik-baik saja. Begini saja tidak masalah. Jika memang Dien sudah melupakanku sepenuhnya.
Ya, tidak papa. Toh, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
“Silakan, Pak!”
Aku menyodorkan makanan ke arah Bapak yang sudah duduk di meja makan.
“Kamu sendiri tidak sarapan, Na?”
“Aku nanti saja, Pak,” ucapku cepat kemudian bermaksud pergi.
“Makanlah, Na. Temani Bapak!”
Aku baru akan menolak kembali, tetapi Bapak sudah menyodorkan makanan yang baru saja ia siapkan untukku.
“Ini, makanlah!”
Akhirnya, mau tak mau aku pun kembali duduk di kursi di depannya. Menikmati masakan Ibu yang tak pernah gagal rasanya.
“Bagaimana dengan kuliahmu, Na apakah lancar?”
Bapak membuka pembicaraan setelah beberapa waktu yang lalu tak ada obrolan.
“Alhamdulillah, Pak. Kuliahnya lancar,” balasku sesegera mungkin.
“Baguslah. Kalau ada masalah bilang saja sama Bapak, Na. Meski sibuk, Bapak akan selalu menyempatkan diri untuk mendengar semua keluh kesahmu.”
“Aku sudah selesai, Pak. Aku permisi dulu,” ujarku sambil membawa piring bekasku ke dapur. Aku berniat mencucinya.
“Na...,” ucap Bapak dengan suara yang terdengar serak.
Aku menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya.
“Iya, Pak. Ada apa?”
“Apa kamu bisa ambilkan baju Bapak di kamar karena sepertinya baju Bapak yang ini terkena kuah sayur. Bapak masih belum selesai makan. Makanya Bapak tak bisa mengambilnya.”
Aku tak lantas mengiyakan maunya karena aku merasa tak enak hati bila harus masuk ke kamar Ibu dan Bapak. Selama aku tinggal di sini, aku belum pernah masuk ke dalam sana.
“Ma-af, Pak. Bukannya enggak mau ambilkan, tapi aku enggak berani masuk. Tak pantas rasanya, Pak. Takut lancang.”
“Enggak papa, Na. Bapak percaya sama kamu. Kali ini saja, Na Bapak minta tolong. Kamu enggak kasihan sama Bapak? Bapak sudah mulai kedinginan ini.”
Dengan perasaan yang masih entah, akhirnya aku pun menuruti kemauan Bapak untuk mengambilkan baju ganti untuknya.
“Assalamualaikum,” ucapku setelah membuka pintu kamar Ibu dan Bapak.
Setelah masuk, lekas kuhampiri lemari yang tadi dimaksud Bapak dan mengambil pakaian untuknya.
Aku mengambil pakaian kaos seperti baju yang tadi Bapak kenakan. Kulangkahkan kaki kembali ke arah pintu setelah sebelumnya tak lupa menutup lemarinya.
__ADS_1
“Ya Allah, Bapak...!” pekikku terkejut karena tiba-tiba Bapak sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
“Ini bajunya, Pak. Aku sudah ambilkan. Jadi, aku permisi,” pamitku sambil mencoba keluar dari kamarnya.
Namun, alih-alih keluar, melangkahkan kaki pun aku tak bisa karena tiba-tiba saja tanganku telah ditahan.
“Jangan pergi, Na. Temani Bapak dulu di sini,” ucapnya sembari menarikku ke dalam pelukannya.
“Astagfirullah, Pak. Apa yang Bapak lakukan? Lepas, Pak!”
Aku mati-matian mendorong tubuhnya dan mencoba melepaskan diri dari pelukannya.
“Bapak sudah lama menunggu untuk ini, Na. Kamu terlalu cantik untuk dibiarkan begitu saja. Bapak menginginkanmu.”
“Pak istigfar, Pak. Apa yang Bapak lakukan ini salah. Pak, lepas! Aku nggak mau buat Allah marah lagi. Aku mohon! Lepas!”
Kuinjak kakinya sekuat mungkin. Kugigit pula bahunya sekencang-kencangnya. Dan alhamdulillah. Pelukannya terlepas. Gegas kuberlari ke arah pintu dan mencoba membukanya berulang kali. Namun, sungguh sayang. Pintunya terkunci.
“Tolong..., tolong aku..., Ibu..., Dien..., tolong...!”
Aku tak kehabisan ide, lekas kuberteriak sekeras mungkin supaya seseorang mendengar dan menyelamatkanku.
“Akh..., Pak sa-sakit...” rintihku di saat aku merasakan kerudungku ditarik paksa dari belakang.
Srek...
Mataku membeliak setelah mendengar bunyi sobekan itu. Dan benar saja, kerudungku sobek dan rambutku kini terlihat dengan jelas.
“Rambutmu sangat halus, Na,” ucapnya sembari membelai-belai rambutku.
“Pak lepas! Jangan lakukan ini!” protesku sambil terus berusaha membebaskan diri.
“Tolong...!”
Kembali aku juga berteriak. Aku masih berharap seseorang datang menolongku.
“Tidak akan ada yang datang menolongmu, Na. Karena hari ini kamu harus temani Bapak.”
Setelah mengucapkan kata-kata yang terdengar menjijikkan itu, aku dapat merasakan diriku melayang. Ya, Bapak membopongku bak karung beras.
Laki-laki baya tak bermoral itu menghempaskanku di kasur dan dengan kasar men*ndihku.
“Pak nyebut, Pak. Apa yang Bapak lakukan ini salah. Aku mohon, lepas!”
Aku telah mencoba melawan, mengerahkan semua kekuatanku, tetapi tenagaku tak sebanding dengannya. Tanganku diikatnya dengan baju kaos yang tadi kuambilkan di kepala ranjang. Alhasil, aku tak bisa memberontak banyak.
“Menurutlah, Na, maka Bapak akan bersikap lembut.”
Kristal-kristal bening seketika meluncur begitu saja dari mataku setelah kulihat laki-laki jahanam itu mulai menurunkan wajahnya mendekat ke wajahku.
‘Ya Allah, maaf. Lagi-lagi hamba kembali membuatmu murka.’
Brak..., brak..., brak...
__ADS_1
“Bapak? Kana?”
Next...