
POV KANA
Tiga tahun kemudian...
Tak ada satu pun hamba yang tahu akan garis takdirnya, termasuk aku. Aku tak tahu ke mana Allah akan membawa hidupku.
Pikirku, hidup yang akan kujalani hari ini akan serupa dengan apa yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu.
Hidup yang hanya diliputi kesedihan, kepedihan, penderitaan. Menduga aku bahwa tiada bahagia untuk diri ini di masa mendatang.
Namun lagi-lagi, sebagai manusia ilmunya terbatas. Apa yang disangka bisa meleset. Apa yang diduga bisa keliru.
Alhamdulillah. Kini, hidupku lebih terarah dan pastinya tak semenyakitkan seperti dulu. Selalu berdoa, semoga saja jalan hidupku kali ini lebih dimudahkan. Dihindarkan aku dari segala hal yang bisa membuat batin dan fisik ini menderita.
Aku tersenyum. Lekas kuseret koperku. Membawanya masuk ke dalam rumah yang masih megah ini.
Akhirnya, aku kembali ke tempat ini—tempat di mana beberapa tahun yang lalu semua penderitaan itu bermula.
“Ya Allah..., Non Kana...” pekik wanita paruh baya yang sudah berdiri menyambutku.
“Bi Sirim?”
Kami sama-sama terkejut setelah menyadari keberadaan masing-masing.
“Non Kana makin cantik. Ya Allah..., gimana? Kabarnya sehat?”
“Alhamdulillah sehat. Bibi juga apa kabar? Baik, kan?”
“Baik. Bibi mah nggak pernah sakit, Non,” ujar Bi Sirim sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum. Senang sekali rasanya bisa kembali bertemu dengan orang-orang yang aku rindukan.
“Alhamdulillah kalau gitu, Bi. Semoga Bibi tetap sehat selalu, ya.”
“Aamiin. Non Kana juga harus tetap sehat.”
“Doain aja ya, Bi. Semoga bisa cepat pulih seperti dulu lagi.”
“Pastinya, Non. Oh, iya..., ngomong-ngomong Tuan di mana? Bukannya Tuan juga ikut pulang bareng Non Kana?”
“Papa langsung ke kantor. Sepertinya sibuk banget beliau.”
“Iya, Non. Benar. Semenjak Den Eziio tidak lagi memegang kendali atas perusahaan dan rumah sakit, semuanya jadi harus diurus Tuan. Kadang kalau Tuan pulang sendirian, pas Non Kana masih harus dirawat waktu itu, Tuan jarang mampir ke rumah. Habis ngurus-ngurus kantor, Tuan langsung pergi lagi ke tempat Non Kana.”
Aku mengangguk. Memang begitu besar perjuangan Papa untukku. Rasa-rasanya aku sampai sungkan untuk meminta tolong padanya lagi.
Pernah, aku minta izin hidup sendiri sama Papa. Supaya tak bergantung lagi padanya. Namun, Papa menolak mentah-mentah permintaanku itu.
“Ayo, Non. Masuk. Sini-sini..., barangnya Bibi bawa.”
Aku menurut. Memberikan barang dan koper yang sejak tadi kupegang pada Bi Sirim.
“Kamar Non masih di lantai dua. Masih di samping kamar Den Eziio,” ucap Bi Sirim setelah kami masuk ke dalam rumah.
Langkah ini langsung terhenti. Entah kenapa suasana rumah Papa tak berubah. Masih sama seperti dulu.
Perasaanku mendadak gamang. Perasaan takut itu masih ada. Trauma itu masih bersisa.
“Bi, apa Kana boleh tidur di lantai bawah saja? Atau di ruangan lain. Asalkan jangan di kamar Kana yang dulu.”
__ADS_1
“Den Eziio tidak di rumah, Non. Dia masih di luar negeri. Jadi, Non Kana tidak perlu khawatir. ”
“Kak Zii di luar negeri? Bukan di penjara?” tanyaku hati-hati.
Mbak Sirim menunjuk sofa di ruang tengah.
“Duduk dulu, Non. Kita ngobrol sambil duduk. Non Kana pasti capek.”
Lagi, aku menurut. Duduk di sofa ruang tengah—di samping Bi Sirim.
“Den Eziio memang pernah masuk penjara. Tapi, sudah bebas, Non. Setelah Den Zii bebas, Tuan Fahri langsung mengirim Den Zii ke luar negeri. Berharap dengan begitu, Den Zii berubah jadi orang baik.”
Aku mengangguk. Setelah mendengar ucapan ART-ku, hati ini sedikit lega. Perasaan takut di dalam hati lambat laun menjadi berkurang.
“Udah tenang, kan? Udah mau naik ke atas? Lihat kamarnya Non Kana?”
“Sebentar dulu ya, Bi. Aku masih mau duduk di sini.”
“Ya sudah, Bibi duluan. Nanti Non Kana nyusul.”
Kembali, kuanggukkan kepala ini. Kulihat Bi Sirim dengan kuatnya membawa barang-barangku ke lantai atas. Sementara, aku hanya terdiam. Namun, pikiran ini masih berkelana ke mana-mana.
“Kana?”
Wajah ini menoleh ke arah pintu masuk. Melihat seseorang yang sudah lama tidak kulihat. Ia berdiri. Menatapku tak percaya.
“Kana?” ucapnya sekali lagi sambil berjalan mendekat.
Sementara, aku hanya mematung. Tak tahu harus bersikap.
__ADS_1
Next...