
Terkejut melihat Ibu yang sudah bersimpuh di lantai setelah aku kembali ke rumah sakit.
“Kenapa, Bu? Apa dokter bilang sesuatu? Kana baik-baik saja kan, Bu?”
Benakku seketika langsung dipenuhi pikiran-pikiran yang tidak-tidak tentang Kana. Apakah Kana telah.... Namun, cepat kutepis pikiran yang belum jelas itu.
“Ka-Kana pergi, Nak!”
Tubuhku langsung lemas. Jantung terasa berhenti berdetak.
Ka-na pergi? Apa maksudnya? Gadisku tidak mungkin berpulang secepat itu, kan?
Belum sempat diri ini memohon maaf padanya, pun kami belum menikah. Belum sempat pula kumembahagiakannya.
Tidak. Ibu pasti berbohong.
“Kana enggak mungkin meninggal. Kana masih hidup kan, Bu?”
Aku bersimpuh di depan Ibu sambil mengguncang tubuhnya.
“Maafkan Ibu, Di. Ibu tidak bisa menjaga Kana. Maaf.”
Aku tak menjawab ucapan Ibu. Aku malah bangkit dan berjalan menuju ruang rawat Kana. Aku ingin melihat gadisku.
“Kana...! Kana, Sayang...”
Dahi ini mengernyit karena menemukan kejanggalan. Tak kutemukan keberadaan Kana di sana. Kamarnya telah kosong.
“Suster, pasien yang dirawat di kamar ini ke mana?”
Langsung kutanyakan kepada suster yang kebetulan berada di kamar tempat sebelumnya Kana dirawat. Pihak rumah sakit tidak mungkin langsung mengurus jenazah Kana tanpa menunggu persetujuan Ibu atau aku, bukan?
“Pasien sudah dibawa pergi keluarganya, Pak!”
“Keluarga? Saya keluarganya. Suster jangan bercanda!” ucapku mulai geram.
Wanita yang mengenakan pakaian serba putih itu terkejut mendengar suaraku yang tiba-tiba meninggi. Namun, ia berusaha tetap tenang.
“Saya tidak bercanda, Pak. Ayah pasien yang membawanya. Sepertinya, pasien akan ditangani di tempat lain. Karena keterbatasan fasilitas dan tenaga medis yang ada, kami dengan suka rela meminta pasien dibawa ke rumah sakit yang lebih layak. Sebab, kami khawatir bila pasien terus dirawat di sini, kemungkinan nyawanya tidak akan tertolong.”
“Si4lan.”
Tangan ini mengepal. Tidak terima Kana harus dibawa. Meski demi keselamatan gadisku itu, tetapi tetap saja harus aku yang mengurusnya. Harus aku yang menemaninya. Harus aku yang selalu di sampingnya. Bukan dia—laki-laki tua yang bahkan buka Ayah kandungnya Kana.
Keluar dari kamar Kana sebelumnya, aku kembali menemui Ibu yang kini sudah duduk diam di atas kursi di depan ruang rawat Kana.
Duduk di sebelah si wanita.
“Kenapa Ibu tidak mencegah laki-laki itu? Kenapa Ibu membiarkan Kana pergi? Dien kecewa sama Ibu,” ucapku tanpa peduli kalau Ibu masih bersedih.
__ADS_1
“Maafkan Ibu, Di. Tapi, ini yang terbaik buat Kana, Nak.”
Aku terkekeh. Entah menertawakan siapa aku tak tahu.
“Terbaik apanya, Bu? Bagaimana jika penyakit Kana malah semakin parah? Dan bagaimana kalau Kana sampai....”
Aku menjeda ucapanku. Tidak kuasa melanjutkan. Belum sanggup membayangkan gadisku itu pergi untuk selamanya.
“Kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak. Pak Fahri orang baik, Nak. Dia pasti bisa menjaga Kana. Ibu yakin.”
Aku menoleh ke arah wanita di sampingku itu.
“Kenapa Ibu begitu yakin kalau laki-laki itu orang baik? Padahal Ibu tidak kenal sama dia.”
Ibu menunduk. Membuang muka, memutuskan kontak mata kami.
“Sebenarnya...” Ibu mengangkat suaranya, tetapi ia langsung menjedanya. Membuatku penasaran.
“Sebenarnya apa, Bu?” sudutku tak mau menunggu lama.
Ibu menatapku. Perempuan baya itu tersenyum.
“Belum waktunya, Di kamu tahu semuanya. Ibu tidak bisa mengatakannya.”
Setelah mengatakan ucapan yang semakin membuatku penasaran, Ibu bangkit dari duduknya.
Namun, tidak semudah itu. Lekas kutahan tangannya.
Sengaja mengancam supaya Ibu mau membuka apa yang selama ini tidak kuketahui itu.
“Maaf, Di. Ibu belum bisa.”
Kecewa. Benar-benar kecewa akan sikap Ibu yang lebih memilih menutup mulutnya.
Pelan, kulepaskan tangan wanita itu. Sudah tidak ada gunanya menahan dan memohon pada orang yang tidak berniat mengatakan apa pun.
Beranjak dari tempat duduk. Aku pun berjalan. Mendahului Ibu.
“Mau ke mana, Di?”
Benar saja. Ibu bertanya.
“Bandara,” ujarku kesal.
“Dien mau menyusul Kana. Dien akan bawa Kana kembali dengan tangan Dien sendiri,” tambahku tanpa membiarkan Ibu angkatku itu kembali bertanya.
“Kalau kamu pergi bagaimana dengan Ibu, Di? Siapa yang akan menemani Ibu? Lalu, Iska. Bagaimana dengan anak itu, Nak? Bukankah kamu mencintai Iska, Di? Lupakan Kana, Nak! Berbahagialah sama Iska.”
Terdiam. Tak bisa kujawab pertanyaan Ibu. Benar. Aku masih memiliki Iska di sisiku. Akan tetapi, aku juga mencintai Kana. Aku ingin menikahi gadis manis itu.
__ADS_1
Lama aku merenung. Memikirkan matang-matang pertanyaan Ibu.
Aku menoleh ke arah Ibu yang masih setia berdiri di belakang. Menunggu jawabanku.
“Dien yakin, Bu. Kana adalah jodohku. Dien akan menikahinya,” jawabku mantap.
Kulihat Ibu menghela napasnya.
“Pikirkan baik-baik, Nak. Ibu tidak mau kamu menyakiti perasaan Iska. Bukankah kalian juga sudah membicarakan tentang tanggal pernikahan kalian?”
Aku turut membuang napas. Masih kutatap wajah Ibu.
“Dien akan bicara sama Iska. Dien yakin Iska akan mengerti. Dien tahu dia gadis yang baik. Dien berdoa semoga Iska menemukan laki-laki yang lebih baik dari Dien.”
Ibu menggelengkan kepalanya. Membuatku lagi-lagi harus membuang napas.
“Kamu tidak boleh egois seperti itu, Di. Sedari awal kamu sudah berani meminta Iska buat jadi istrimu. Tapi, sekarang kamu malah akan memintanya meninggalkanmu? Apa kamu pikir dia akan setegar itu, Nak?”
Aku hanya terdiam. Tak bisa menjawab pertanyaan Ibu.
“Tetap nikahi Iska, Nak. Tepati janji dan kata-kata manismu yang dulu pernah kamu ucapkan itu.”
“Tapi, Bu... Dien mencintai Kana.”
“Cukup, Di! Kamu jangan mempermalukan Ibu. Sebagai laki-laki kamu juga mestinya harus memegang teguh kata-katamu. Ibu tidak mau tahu, kamu harus tetap menikah dengan Iska.”
“Bu...”
Aku mencoba membuka suara, tetapi tak ada tempat. Ibu telah lebih dahulu melanjutkan ucapannya. Seolah tidak memberiku kesempatan untuk menolak.
“Kalau kamu sampai berani meninggalkan Iska, maka tinggalkan Ibu, Di. Angkat kaki dari rumah Ibu! Ibu tak butuh anak laki-laki yang pengecut seperti kamu.”
Selepas mengucapkan ancamannya, sang wanita itu langsung pergi. Meninggalkanku sendiri yang masih sibuk dengan pikiranku.
Hanya bisa terdiam. Sungguh nasib yang malang. Aku pikir, kebahagiaanku dengan Kana sudah di depan mata. Namun ternyata, Ibu tidak merestui hubungan kami.
Dugaanku, Ibu akan senang melihatku dengan Kana menikah. Mengingat, aku begitu percaya kalau Ibu angkatiku itu amat menyayangi Kana dan beliau pasti menginginkan kebahagiaan untuk gadisku itu juga. Namun, sepertinya aku lupa bahwa Iska juga adalah anak dari keluarga Ibu, yang artinya Iska juga amat diprioritaskan olehnya.
Apakah yang harus kulakukan? Haruskah aku menuruti perkataan Ibu dengan menikahi Iska ataukah tetap menunggu Kana yang entah kapan akan kembali? Hatiku dilanda kebimbangan yang amat sangat.
Bagaimana pun juga perkataan Ibu ada benarnya. Aku sudah menjanjikan pernikahan kepada Iska. Aku tak mungkin mengkhianati dan menyakitinya. Walau bagaimanapun, Iska pernah singgah dan mengisi hatiku. Menemaniku bangkit dari keterpurukan akibat berpisahku dengan Kana.
Lagi-lagi, aku hanya bisa mendesah. Mengacak-acak rambutku karena frustrasi.
“Ya Allah. Apa yang baiknya hamba lakukan. Di satu sisi hamba tidak ingin menyakiti Iska, tetapi di sisi lain hamba sangat mencintai Kana. Hamba ingin menikahinya. Beri hamba pertunjuk. Beri hamba jalan keluar. Hamba meminta padamu. Hamba memohon.”
Kembali melanjutkan langkah karena suara azan sudah berkumandang. Aku harus segera salat. Meminta petunjuk sebanyak-banyaknya perihal pilihan yang akan kuambil.
Apa pun keputusannya nanti, apa pun hal yang akan kuambil, aku benar-benar berharap bahwa aku bisa menjaga kedua wanita itu. Karena mereka sama-sama berharga.
__ADS_1
‘Bismillah. Aku pasrahkan semuanya padamu Ya Allah. Karena Kau yang paling mengerti aku dan paling tahu yang terbaik untukku. Insya Allah, aku akan ikhlas menerima ketetapan-Mu.’
Next...