
“Kana sudah sembuh, Nak?” tanya sang wanita yang kini sudah mendudukkan dirinya di sofa—tempat Bi Sirim tadi duduk.
Aku hanya mengangguk. Masih bingung bagaimana harus merespons ucapan perempuan yang dulu pernah mengangkatku sebagai anaknya.
“Papamu mana, Sayang?”
Terangkat kedua alis ini. Heran.
“Tante kenal Papa?” tanyaku melempar pertanyaan kembali.
“Papamu belum cerita?”
Aku menggeleng.
“Tanya sama Papamu saja, Nak. Biar dia yang menjelaskan semuanya.”
Semakin penasaran diriku. Ada hubungan apa Papa dengan Tante Ratna? Kenapa mereka saling kenal? Pun sampai Tante Ratna datang ke rumah segala seperti sudah tak sungkan untuk berkunjung.
Kepalaku sudah cukup pusing untuk menduga, hingga kulontarkan beberapa pertanyaan yang mengganggu kepala ini.
“Tante ada perlu apa ke mari? Apa cuma mau cari, Papa? Kalau hanya sebatas itu, sayangnya Papa sedang tidak di rumah. Mungkin Tante bisa menemui Papa di kantor karena beliau di sana sekarang.”
“Apa kamu mengusir Ibu, Nak?”
Aku tersenyum paksa.
“Aku bukan Tante yang akan dengan mudahnya mengusir orang,” sindirku santai.
Entah. Bila diingat-ingat, rasa sakit atas perlakuan wanita di depanku ini, saat ia dengan kejamnya mengusirku dari rumahnya dulu masih ada.
Tak mudah melupakan itu, apalagi lantaran aku terusir dari rumahnya, kejadian yang hampir membuat nyawa ini melayang menimpaku.
Namun, lagi-lagi, tak patut menyalahkan, melimpahkan semua kesalahan pada Tante Ratna. Sebab, beliau juga tak tahu asal-muasal masalahnya. Mungkin saja, bila aku berada di posisinya, akan kulakukan hal yang sama.
“Maafin Ibu, Na. Sikap Ibu waktu itu memang tidak bisa dibenarkan, Nak. Ibu menyesal. Kana mau ya maafin, Ibu?”
Aku diam. Tak menjawab. Kepala ini masih memikirkan ucapan yang kiranya tepat untukku katakan pada sang wanita.
Tante Ratna memegang tangan ini. Digenggamnya lembut.
“Na, maafin Ibu ya Sayang?” ucapnya sekali lagi.
__ADS_1
Kuhela napas. Terlebih dulu, kulepas tanganku yang digenggamnya. Tak nyaman rasanya. Kini, kupandangi ia serius.
“Beri Kana waktu, Bu. Kana masih perlu menata hati.”
Setelah itu, aku bangkit dari sofa.
Memilih duduk berlama-lama di sini dengannya kemungkinan dapat membuat ingatan yang ingin kuhapus itu kembali datang.
Lebih baik aku istirahat sekarang. Roh, sekarang sudah waktunya juga aku istirahat.
Aku mulai merasa lelah. Dokter menyarankan supaya aku jangan sampai stres. Jangan sampai tenagaku melemah. Sebab, aku bisa sampai pingsan bila kondisiku benar-benar buruk.
“Saya permisi, Bu,” pamitku sembari pelan-pelan melangkahkan kaki menuju lantai dua.
Kudengar sang wanita menghela napas pasrah. Pun tak dicoba dihentikannya diriku. Sepertinya Tante Ratna sadar diri untuk tak melakukan itu. Ia membiarkan aku beristirahat, tak ingin menggangguku.
“Non Kana mau mandi atau makan dulu?” ucap Bi Sirim yang ternyata masih di kamar—tengah membereskan pakaian-pakaian lamaku.
“Aku mau tidur sebentar, Bi. Kepalaku pusing.”
“Ya Allah..., ya sudah, Non. Ayo, tidur dulu. Nanti Bibi bangunkan kalau udah waktunya makan. Kalau Tuan sudah pulang.”
Bi Sirim lekas membersihkan kasurku. Ditepuk-tepuknya, pun dirapikannya lagi seprei yang sedikit kusut.
“Silakan, Non. Istirahat! Bibi tak keluar.”
Aku mengangguk lagi dan lekas merebahkan diri di atas tempat tidur, sedangkan Bi Sirim keluar dari kamar.
Semenit, dua menit telah mencoba memejamkan mata, tetapi sayangnya diri ini tak kunjung terlelap. Pikiranku masih sibuk bekerja. Memikirkan banyak hal. Alhasil, aku semakin pusing.
Bangkit. Menyibak selimut. Memutuskan untuk keluar kamar. Sepertinya jalan-jalan di taman belakang rumah lebih bisa menghilangkan pening di kepala ini dibandingkan dengan harus memaksa mata untuk berpura-pura tidur.
Langkahku mendadak terhenti. Kening ini pun turut mengerut tatkala melihat pintu kamar di sebelah terbuka. Iya, itu kamar milik salah satu laki-laki yang amat ingin kulupakan, kuhapus dari ingatan ini. Siapa lagi bila bukan mantan suamiku—Kak Zii.
‘Apa dia sudah kembali?’ batin ini bertanya. Namun, kepalaku langsung merespons. Menggeleng.
‘Tidak. Laki-laki itu tidak mungkin kembali. Pintu kamarnya terbuka pasti karena ART yang ditugasi membersihkan kamar ini tidak menutup pintunya dengan benar.’
Kali ini, aku setuju dengan bisikan hati. Maka dari itu, aku mendekat—berniat menutup pintunya.
Baru akan menutup pintu, suara benda jatuh dari dalam kamar terdengar. Seperti bunyi pecahan kaca.
__ADS_1
Tak ingin memendam rasa penasaran, aku langsung masuk ke dalam kamar Kak Zii.
Netra ini langsung terfokus pada benda jatuh tadi. Bingkai foto. Itulah yang jatuh.
Pelan-pelan, aku mendekat. Menghindari pecahan kacanya. Lekas kuambil bingkai foto yang telah pecah itu. Langsung kubalik.
Gerakan tangan ini langsung terhenti setelah berhasil membalikkan bingkainya. Ternyata isi bingkainya adalah fotoku sendiri.
Fotoku yang mengenakan kebaya putih, tengah tersenyum lebar ke arah seseorang yang kuduga adalah Kak Zii. Hanya saja wajah Kak Zii tak terlihat jelas karena memang fokus foto ini memang hanya pada wajahku.
Tidak berhenti sampai di situ, tubuhku semakin mematung setelah netra ini mengunci pada kalimat yang tertulis di bawah foto.
[Sayang, Kakak menyukai senyummu, tapi Kakak juga menginginkan tangismu. Hati ini berucap mencintaimu, tapi malangnya hati ini juga berteriak membencimu. Maaf, Sayang. Kakak masih belum bisa memutuskan. Posisi Kakak benar-benar tak nyaman.]
Kepalaku makin pusing. Aku tak bisa berpikir. Tak paham akan maksud dari kalimat ini.
Apa mungkin laki-laki itu pernah ada rasa sama aku? Apa mungkin laki-laki berengs3k seperti dia mengenal yang namanya cinta? Apa mungkin laki-laki b3jat itu punya hati nurani?
Aku masih belum percaya. Aku menolak mempercayai itu. Di mata dan hatiku, dia hanyalah seorang p3njahat. Dan akan tetap seperti itu.
Menyudahi keterkejutan yang tiada gunanya ini. Dengan kasar, kurobek foto wajahku yang tengah tersenyum ini menjadi beberapa bagian. Tak cukup sampai di situ, kuinjak-injak juga fotonya. Hingga foto itu benar-benar koyak.
“Aku benci kamu berengs3k!”
Tanpa sadar aku berteriak. Sembari terus menginjak foto yang sebenarnya sudah tak berbentuk lagi.
“Ya Allah, Non..., apa yang Non Kana lakukan?”
Bi Sirim yang melihatku berteriak sembari mengentak-entakkan kaki tak jelas. Langsung memeluk tubuh ini. Didekapnya aku erat.
“Non Kana tenang ya, Non. Ada Bibi di sini.”
“Aku benci laki-laki itu, Bi. Aku benci.”
“Iya, Non. Iya. Enggak papa. Non Kana yang tenang, ya.”
Sesaat, aku hanya memeluk Bi Sirim. Menangis sejadi-jadinya dalam pelukan ART-ku itu. Untuk pertama kalinya, setelah beberapa tahun berlalu aku kembali menangis karena mengingat bayang-bayang masa lalu yang kelam.
Ternyata, aku masih belum sembuh. Hati ini masih belum bisa memaafkan mereka.
Next...
__ADS_1