Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
19. Akhir


__ADS_3

POV KANA


Mataku membuka secara tiba-tiba. Perasaan pening seketika menghantam kepalaku. Aku mencoba menyentuh kepala, tetapi malangnya kedua tanganku terikat.


‘Ini di mana? Kenapa aku berada di tempat sempit seperti ini?’ batinku mulai bertanya setelah melihat dan menganalisis keadaan sekitar.


Sepertinya aku berada di sebuah gudang karena di depanku sekarang aku bisa melihat beragam barang ditumpuk-tumpuk.


Belum lagi, keadaan ruangan yang tak terawat sama sekali.


Cklek...


Pandanganku langsung terarah pada pintu yang terbuka.


“Hai, Sayang. Lama tidak jumpa. Bagaimana? Kamu menyukai tempat ini?”


Aku tak kaget setelah melihatnya muncul. Karena satu-satunya orang yang bisa melakukan ini hanya Kak Zii—laki-laki keji itu.


“Kak Zii mau apa? Kenapa Kakak melakukan ini semua. Lepas, Kak!”


Kak Zii berjalan mendekat. Ia mencengkeram daguku, meski aku telah menggeleng-gelengkan kepala supaya ia tak bisa menyentuhnya.


“Kakak akan melepaskanmu, asalkan kamu kembali pada Kakak dan menuruti semua perintah Kakak. Bagaimana?”


Aku menggeleng.


“Enggak. Lebih baik aku m4ti daripada harus menuruti perintah Kak Zii. Aku enggak mau melakukan itu lagi.”


Kak Zii tersenyum kecut. Ia melepaskan cengkeramannya di daguku. Tetapi, kini ia malah menarik kerudungku sehingga membuatnya terlepas.


Seketika, rambutku yang tergerai karena belum sempat kuikat itu terlihat sempurna.


“Mulutmu itu bisa bohong, Na. Tapi, tidak dengan tubuhmu. Kita lihat saja seberapa kuat kamu menahannya.”


Kak Zii kemudian mengelus lembut rambutku, lantas diciumnya.


“Wangi rambutmu masih sama, Na. Kakak menyukainya.”


“Kak Zii, aku mohon! Jangan lakukan, Kak.”


Sang lelaki hanya menyeringai.


“Oke-oke, aku akan ikuti semua kata Kak Zii, tetapi lepaskan dulu ikatan tanganku. Aku susah bergerak.”


Tidak-tidak. Aku membohonginya.


Aku sengaja melakukan itu supaya ia tak melakukan aksinya itu karena kini ia sudah berhasil membuka kancing bajuku.


“Apa kamu serius, Na? Secepat itukah kamu berubah pikiran, hmm?”


Aku hanya membuang muka saat Kak Zii mencoba mencengkeram daguku kembali.


“Baiklah, Na. Kakak akan lepaskan ikatanmu. Tapi, ingat kalau kamu berani kabur, kamu akan tahu akibatnya. Paham, Sayang?”


Aku mengangguk dan sejurus kemudian ikatan di tanganku terlepas.


“Aku mau keluar dari sini, Kak. Di sini sesak,” ujarku sambil berpura-pura batuk.


Sudah pasti ini adalah salah satu dari rencanaku untuk kabur.


“Naiklah,” ujarnya setelah ia berjongkok di depanku.


Iya, ia ingin menggendongku.


Dengan hati-hati aku berjalan mendekat setelah sebelumnya aku mengambil potongan kerudungku yang telah sobek. Tetapi alhamdulillah masih bisa dipakai untuk menutupi rambutku.


Dengan sekuat tenaga, kutendang pundak Kak Zii hampir mengenai bagian kepala belakangnya.


Kulihat ia sempat terjerembap, menyentuh lantai akibat ulahku itu. Mulanya aku kasihan, tetapi aku bukan gadis baik hati yang sudi menolongnya.

__ADS_1


Gegas kuberlari menuju pintu berhubung Kak Zii masih belum bisa mengejarku.


“Mau ke mana kamu?”


Dugaanku benar. Setelah membuka pintu, anak buah Kak Zii yang berjumlah tiga orang berjaga di luar pintu.


Namun, aku tak takut. Aku tetap mencoba berlari meski mereka terus mengejar.


“Tangkap dan bawa dia ke sini!”


Meski kecil, aku masih mendengar suara Kak Zii kepada anak buahnya.


Yah, sepertinya laki-laki kejam itu telah sadar.


Bugh...


“Akh...,” pekikku saat merasakan tengkukku dipukul sesuatu.


Karena tak bisa menopang berat tubuh, aku pun terjatuh ke lantai.


Badanku, khususnya, tubuh bagian belakang terasa sangat sakit dan amat sulit digerakkan.


“Akh..., sa-sakit.”


Aku bisa merasakan kepalaku ditarik paksa, kerudung yang sebelumnya aku kenakan kini kembali terlepas.


“Bangun, Sayang. Bukankah kamu akan melakukan apa yang Kakak inginkan?”


Kak Zii menjamb4k rambutku dengan kas4r. Lalu, mengangkat tubuhku yang amat ngilu ini dan menggendongku bak karung goni.


“Kak, badanku sa-kit. Aku mohon turunkan aku!” pintaku dengan suara yang lirih.


“Akh..., Ya Allah...!”


Benar-benar laki-laki tak berperasaan.


Serius. Jangan ditanya betapa sakitnya tubuhku kini. Bahkan untuk menengok dan menggerakkan anggota tubuh saja aku tak kuasa.


Hanya ada air mata yang terus mengalir, mewakili rasa sakit yang kurasa.


Akh, atau mungkin itu saja tak cukup.


“Na, bangun Sayang. Kamu harus mel*yani Kakak!” ucapnya santai tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Kak Zii kembali lagi mengangkat tubuhku dari yang semulanya terlentang menjadi duduk.


“Ka-k Zii ke-jam,” ucapku susah payah.


“Kejam? Kakak tak kejam Sayang. Kakak terpaksa melakukan ini karena kamu mengingkari janjimu. Bukankah kamu tadi juga melakukan hal yang sama pada Kakak, hmm?”


Tak memedulikan ucapannya.


“Apa yang sebenarnya Kak Zii inginkan dariku? Bukankah Kak Zii sudah mendapatkan apa yang Kak Zii mau? Kakak sudah mendapatkan tubuhku, bahkan kita sudah menikah, tetapi Kak Zii menceraikanku. Apa Kak Zii tidak ingat itu semua?”


Kak Zii membelai pipiku. Ia mendekatkan wajahnya di telingaku.


“Kakak menginginkan kamu m4ti, Sayang.”


Mataku membola. Mendadak tubuhku memundur meski rasanya sangat sakit setelah badanku digerakkan.


“A-apa maksud Kakak?”


Kak Zii tersenyum licik dan menatapku lekat-lekat.


“Kakak tidak puas bila hanya membu-nuh j*lang itu. Kakak juga harus menghabisi anaknya supaya Mamaku bisa bahagia di sana.”


Apa maksud laki-laki b3rengsek ini?


“Katakan dengan jelas, Kak. Aku enggak mengerti,” pintaku frustrasi.

__ADS_1


“Biar Ibumu yang mur*han itu saja yang menjelaskan itu nanti, Na. Biar kamu tahu bagaimana kejamnya wanita r*ndahan itu. Dia..., dia telah membu-nuh Mamaku. Semata-mata supaya dia bisa menikah dengan Papa.


Benar-benar membuatku ingin mencinc4ngnya. Tapi, beruntunglah sekarang ia telah m4ti karena telah kubuat ia tew4s mengenaskan.”


Kak Zii tertawa. Suara tawa yang amat menyeramkan. Membuat tubuhku lagi-lagi mundur.


“Jadi Papa....?”


Aku tak kuat melanjutkan ucapanku karena merasa bersalah pada laki-laki yang dulu sempat kuabaikan itu.


“Tentu saja itu semua rencana Kakak. Kakak sudah mengatur semua itu.”


“Kak Zii memang iblis. Aku benar-benar membenci Kakak.”


“Oh, ya? Apa kamu tetap akan membenci Kakak saat tubuhmu ini bisa Kakak puaskan, hmm? Yah, sebelum kamu bertemu dengan Ibumu yang j*lang itu, layani Kakak dulu. Hanya beberapa jam, Na. Dan ini untuk yang terakhir kalinya.”


Setelah mengatakan hal itu, tangan Kak Zii lantas memulai aksinya. Namun, aku tak tinggal diam.


Aku memberontak.


Kugerak-gerakkan kaki dan tanganku. Tentu dengan mengabaikan rasa sakit, ngilu, dan nyeri yang ada.


Sekilas ekor mataku dapat melihat bahwa di bawah gedung tempatku kini ada kolom renang.


Ya, aku sekarang tengah berada di balkon lantai tiga rumah yang sepertinya tak berpenghuni.


Aku melihat ke bawah, dadaku seketika berdesir membayangkan bagaimana bila aku melompat ke kolam renang di bawah sana?


Apakah aku akan selamat bila aku melakukan rencana nekat itu?


Namun, aku sudah tak memiliki pilihan lain. Aku tak ingin Kak Zii melakukan itu lagi padaku.


Sering kukatakan bahwa dosaku sudah terlampau banyak dan aku tak ingin menambahnya lagi.


Bila pada akhirnya aku harus m4ti karena harus menyelamatkan diri, maka aku rela. Lebih baik aku meninggal secara terhormat dengan tetap mempertahankan harga diriku, dibandingkan harus melayani nafsu laki-laki bej4t ini.


Perlahan tapi pasti. Aku mulai berdiri.


“Kamu mau melakukannya dengan berdirikah, Sayang?” ujar Kak Zii yang sadar akan pergerakanku.


Aku lantas mengangguk dan benar saja Kak Zii membantuku berdiri.


Aku tersenyum.


“Jangan harap Kakak bisa melakukan itu lagi padaku. Aku tak sudi. Lebih baik aku m4ti daripada mengikuti kemauan Kakak.”


Dan tanpa menunggu apa pun lagi, aku langsung melompati pagar balkon.


Tak berselang lama, tubuhku bisa merasakan dinginnya air kolam renang. Namun, lagi-lagi aku kembali tersenyum.


‘Ya Allah. Apa Engkau melihat-Nya? Kini aku bukan lagi gadis bo-doh yang dengan suka rela menyerahkan kehormatanku. Kini aku telah berusaha menjaga harga diriku, Ya Rabbi.


Hamba mohon terimalah pengorbanan yang hamba lakukan ini. Dan ampunilah dosa-dosa hamba.


Hamba malu bila harus bertemu dengan-Mu, sementara dalam diri hamba masih banyak noda dan dosa.’


Air mulai mengambil alih semuanya. Sebelum akhirnya mataku menutup.


“Kana...! Kana...!”


“Nak, kamu di mana Sayang...?”


Lagi-lagi, aku kembali tersenyum. Mimpi yang indah sampai-sampai aku mendengar suara Ibu dan Dien memanggil-manggil namaku.


“Aku akan merindukan kalian. Semoga kalian hidup dengan bahagia. Selamat tinggal.”


“La Ilaha Illallah.”


Next....

__ADS_1


__ADS_2