Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
9. Sah


__ADS_3

Pernikahanku dengan Kak Zii akhirnya digelar. Tak banyak orang yang datang. Hanya kerabat dekat saja yang diundang. Tak ada pula acara resepsi. Yang ada hanyalah akad nikah dan salam-salaman dengan keluarga dekat.


Hal ini tentu lebih daripada cukup untukku. Terpenting bukan mewahnya acara, tetapi telah sahnya, telah halalnya aku bagi suamiku. Karena artinya tak ada lagi zina yang akan dilakukan.


“Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi acaranya selesai,” bisik Kak Zii di telingaku.


Aku hanya mengangguk. Meski, rasanya amat lelah karena harus berdiri cukup lama untuk menyalami satu per satu keluarga Kak Zii yang terbilang tidak sedikit.


“Selamat ya, Sayang. Tante doakan semoga kalian bahagia terus,” ucap salah satu keluarga Kak Zii yang baru kali ini kulihat.


Aku hanya tersenyum simpul sembari mencium tangan wanita baya itu.


“Tadi itu Tante Nina, kerabat jauh Papa,” bisik Kak Zii kembali memperkenalkan keluarganya.


 Aku hanya menganggukkan kepala, tanpa mau tahu lebih jauh lagi.


“Aku Vita. Mantan pacarnya Zii,” ucap wanita yang tiba-tiba entah datang dari mana.


Terlihat lebih dewasa, mungkin usianya kira-kira sebaya dengan suamiku.


Ia seperti seorang yang tak berminat berkenalan karena jangankan untuk mengulurkan tangan, menatap wajahku saja ia enggan.


Malahan tangannya kini ia sedekapkan di depan dada. Terkesan bukan ingin mengajak berkenalan, tetapi semata-mata hendak memamerkan siapa dirinya.


Parasnya memang cantik, tetapi bukannya sombong atau apa, wajahku jauh lebih cantik darinya.


Gadis bernama Vita itu tersenyum ke arahku. Jelas-jelas dengan senyum yang dipaksakan. Dan tanpa berkata apa pun lagi, ia menghampiri Kak Zii.


“Aku merindukanmu, honey,” ujarnya kemudian tanpa tahu malu menempelkan b*birnya di b*bir suamiku.


Mulutku terbuka, mataku pun turut melebar. Benar-benar tak tahu diri ini cewek.


“Apa yang kamu lakukan?” ucapku sambil menjambak rambut perempuan kegatalan itu.


“Sayang..., sabar, ya! Tidak enak dilihat orang. Tenangkan dirimu! Biar Kakak yang bicara sama dia. Tunggu di sini sebentar!”


Kak Zii mengecup keningku singkat kemudian berlalu begitu saja sambil menggandeng wanita kecentilan itu.


Akh..., benar-benar membuat mood-ku rusak saja.


Cukup lama aku menunggu. Hingga akhirnya sang pria muncul juga.


“Kakak kok lama. Habis ngapain aja sama cewek itu?” sindirku sinis.


Meski demikian, Kak Zii terlihat tenang. Dengan pelan, ia kembali duduk di sampingku.

__ADS_1


“Hanya bermain ringan sebentar,” jawabnya santai.


Mataku langsung menatap tajam ke arahnya karena paham akan permainan yang dimaksud.


“Kakak bercanda, Sayang. Mana mungkin Kakak melakukan itu di saat istri Kakak jauh lebih cantik dan menggairahkan dibandingkan dirinya,” ujarnya blak-blakan.


Iya, Kak Zii memang seperti itu. Ia akan mengungkapkan semua hal yang ada di pikirannya. Tanpa mau menyaringnya terlebih dahulu.


“Tau ah. Aku malas ngomong sama Kak Zii.”


“Serius. Kamu enggak mau ngomong sama Kakak?”


Aku tak menanggapinya. Malah kini, aku memunggunginya. Benar-benar seperti orang yang tengah merajuk.


“Aaa..., Kak-ak. Kebiasaan, ih!”


Kutatap tajam Kak Zii yang kini sudah berhasil membawaku dalam dekapannya.


“Lepas, Kak. Enggak enak dilihat orang. Aku malu.”


“Ya sudah. Mau ke kamar, hmm? Acaranya juga sudah selesai. Mereka juga pasti mengerti.”


Setelah mengatakan itu, Kak Zii mengangkat tubuhku dengan entengnya.


“Ka-kak serius kita pergi? Entar kalau ada yang cari kita gimana?” ujarku masih tak percaya.


“Tap—“


“Kakak enggak mau dibantah, Sayang. Kamu harus nurut sama suamimu. Paham?”


Belum sempat kuanggukkan kepala, Kak Zii sudah membawaku menjauh dari tempat akad nikah dilangsungkan.


“Kakak mau bawa aku ke mana?”


“Menurutmu ke mana, hmm?” ujarnya dengan seringai yang sudah kuhafal.


“Apa Kakak akan melakukan itu lagi?” ujarku dengan polosnya.


“Kamu memang menggemaskan. Rasanya aku ingin langsung memakanmu di sini.”


Kak Zii bermaksud mendekatkan wajahnya, tetapi langsung kutahan dengan tanganku.


“Kak. Jangan dulu. Aku malu kalau ada yang lihat.”


Dapat kulihat Kak Zii membuang napasnya kasar. Sepertinya sedikit kesal akan sikapku.

__ADS_1


Kini, langkah Kak Zii juga terasa jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.


Apakah Kak Zii sengaja mempercepat langkahnya supaya hasratnya dapat segera terpenuhi?


Ternyata memang benar, setelah membuka pintu kamar dan kembali menutupnya, bahkan lekas dikuncinya, Kak Zii langsung saja memojokkanku di pintu, saking cepatnya, punggungku cukup sakit karena terus ditekannya.


Uhuk..., uhuk....


“Kenapa?” tanyanya khawatir.


“Eng-ngak papa. Hanya keha-bisan napas,” jawabku terengah-engah sambil menggelengkan kepala.


Alih-alih prihatin, Kak Zii malah terkekeh.


“Kamu memang kebiasaan, Na. Padahal kita sudah sering melakukannya, tetapi kamu tetap saja masih seperti ini.”


Mendengar pengakuan Kak Zii yang frontal seperti itu membuatku langsung tertunduk. Malu saja rasanya. Pipi ini pun rasanya memanas.


Srek...


“A-apa yang Kakak lakukan?” ucapku tiba-tiba karena Kak Zii sudah membuka resleting bajuku.


“Kamu benar-benar bikin Kakak gemas, Na. Ya jelas kita akan melakukan itu, Sayang. Kita enggak mungkin melewatkan malam pertama kita, kan? Ya, meski kita sudah berapa kali melakukannya?”


“Kak Zii, berhenti ngomong blak-blakan seperti itu. Aku risi tahu!”


Kuutarakan juga kekesalan itu.


Tak ingin membuang waktu, aku langsung berlalu dari hadapannya.


Tak peduli dengan tubuhku yang hanya memakai pakaian seadanya, aku terus saja melangkah hingga sampai di ambang pintu kamar mandi kamar suamiku itu.


“Siapa yang menyuruhmu ke situ, Na? Apa kamu mau kita melakukannya di kamar mandi?”


Kudengar Kak Zii berteriak. Mencoba menggodaku. Dapat kudengar juga, langkah kakinya yang semakin mendekat—berjalan ke arahku.


“Aku mau mandi dulu, Kak. Gerah,” ucapku kemudian buru-buru menutup pintu kamar mandi supaya Kak Zii tidak bisa masuk.


Namun percuma. Tangannya sudah meraih hendel pintu sebelum pintunya berhasil kututup.


“Sayang, jangan menyiksa Kakak seperti ini. Kakak enggak suka.”


“Aku enggak bermaksud begitu, Kak. Aku serius ingin mandi. Tubuhku benar-benar lengket.”


“Biar Kakak bantu! Kita mandi sama-sama!”

__ADS_1


Ah?


Next....


__ADS_2