Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
18. Dibawa


__ADS_3

POV KANA


“Astagfirullah..., apa yang sudah kalian lakukan?”


Air mataku semakin mengalir deras setelah mendengar teriakan Ibu yang menggema di seluruh ruangan.


Bapak yang mendengar itu langsung berdiri, tak lagi menIndIhku. Sementara, aku hanya bisa berbaring karena tanganku masih terikat. Aku tak bisa melepaskannya.


“Apa yang telah kamu perbuat, Mas?” ulang Ibu sambil mendekat ke arah Bapak.


“Dia menggodaku, Sayang. Gadis yang kamu angkat jadi anak itu sangat lihai bersandiwara. Dia memaksa Mas melakukan itu. Dia ternyata diam-diam mengagumi Mas. Mas sudah mencoba menghentikannya, tetapi dia sangat pandai merayu. Mas ikut khilaf dan tergoda, Sayang. Mas mohon maaf.”


Hatiku amat sakit mendengar penuturan laki-laki bejat itu. Dengan liciknya ia membolak-balik fakta.


Dengan susah payah, kucoba membuka ikatan tanganku dan syukur berhasil. Gegas kubangkit dan berjalan mendekati Ibu.


“Enggak, Bu. Semua yang dikatakannya salah. Dia yang menggoda Kana. Dia yang memaksa. Ibu percaya sama Kana. Kana enggak mungkin membohongi Ibu.”


Aku mencoba menggenggam tangan Ibu, tetapi sayang Ibu menepisnya.


“Bu..., Kana berani bersumpah kalau Kana enggak menggoda Bapak. Apa yang dikatakan Bapak semuanya fitnah, Bu.”


“Hentikan omong kosongmu, Na. Aku tahu kamu bohong. Ibu jangan percaya dengan kata-katanya. Bapak tidak mungkin menggoda Kana. Aku sangat yakin bahwa Kana yang sudah merayu Bapak. Karena memang dia bukan gadis baik-baik.


Alasan mengapa aku membatalkan pertunanganku dengannya pun karena itu. Dia sudah tidur dengan banyak lelaki. Dia sudah bukan per4wan. Dia benar-benar wanita penggoda.”


Lagi-lagi, rentetan fitnah akan diriku tersebar. Kali ini Dien yang mengatakannya.


“Tega kamu mengatakan itu, Di. Padahal kamu enggak tahu tentang kenyataannya. Aku memang bukan wanita baik-baik. Aku tahu itu. Aku juga tak lagi per4wan. Aku pun mengakui itu. Tapi, aku bukan perempuan penggoda. Aku berani bersumpah akan itu.”


“Cukup Kana! Ternyata selama ini Ibu telah terperdaya oleh cerita palsumu. Ibu tidak menyangka kalau kamu selicik itu membohongi Ibu.”

__ADS_1


Ibu menatapku tajam. Dadanya naik turun.


“Kesabaran Ibu sudah habis. Mulai detik ini kamu bukan lagi anak saya. Sekarang juga angkat kaki dari rumah ini!”


“Bu..., Kana mohon. Jangan usir Kana. Kana enggak punya siapa-siapa lagi, Bu. Kana enggak tahu harus ke mana. Kasihani Kana, Bu.”


Aku kembali lagi berusaha meraih tangan Ibu dan mencoba menggenggamnya.


“Bukankah kamu memiliki banyak laki-laki, Na? Kenapa kamu tak meminta tolong mereka? Bukankah kamu bisa tidur lagi bersama mereka? Aku sangat yakin, mereka akan mau melakukan itu,” sinis Dien yang kini sudah menarik tubuhku supaya menjauh dari Ibu.


“Aku sedang bicara sama Ibu. Bukan sama kamu,” ketusku sambil menghempaskan tangannya yang sejak tadi menyeret tanganku.


Secepat mungkin, aku kembali mendekati Ibu yang sekarang sudah keluar dari kamarnya. Karena hanya Ibu harapanku satu-satunya.


“Bu..., tunggu! Dengarkan penjelasan Kana dulu! Apa yang dikatakan Bapak semuanya tak ben—“


“Cukup, Kana! Saya sudah tidak mau mendengarkan kebohonganmu lagi. Seharusnya kamu masih bersyukur karena saya tidak memintamu mengembalikan semua fasilitas yang telah kamu gunakan selama tinggal di sini.”


“Bu..., jika Allah saja masih bisa memaafkan kesalahan hamba-Nya, mengapa Ibu tak mau memaafkan Kana?”


“Jangan bawa-bawa nama Allah atas semua keburukan yang sudah kamu lakukan Kana! Akhiri semua sandiwaramu dan cepat tinggalkan rumah saya sebelum saya menyuruh satpam mengusirmu.”


Aku masih ingin melakukan pembelaan atas semuanya supaya Ibu percaya padaku, tetapi belum sempat kukatakan apa yang ingin kuucapkan, tanganku telah lebih dahulu ditarik.


“Bawa dia keluar, Di! Ibu sudah tidak sudi melihatnya!” ucap Ibu ketus.


“Aaa...,” pekikku saat sadar bahwa Dien mengangkatku. Membopongku halnya barang tak berguna.


“Pergi dari sini dan jangan kembali! Cari laki-laki yang bisa memuaskanmu itu. Dan jangan bermimpi untuk mengganggu keluargaku lagi karena sampai kapan pun, aku dan keluargaku tidak akan sudi menerima gadis penggoda sepertimu.”


Lagi-lagi rasa sakit ini harus kembali kurasakan. Aku mencoba menarik napas dan membuangnya kasar.

__ADS_1


‘Ya Allah, hamba percaya akan firman-Mu bahwa Engkau tak akan menguji seorang hamba di luar batas mampu-Nya. Berilah hamba kemampuan untuk melewati ini semua. Hamba serahkan semuanya pada-Mu, Ya Rabb. Bimbing hamba dalam menjalaninya.’


“Titip salam buat Ibu. Terima kasih karena sudah mau menerima gadis penggoda sepertiku. Aku tak akan melupakan kebaikan kalian. Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi kalian. Aku pamit. Assalamualaikum.”


Aku lalu mengambil barangku yang beberapa saat lalu turut dibawa oleh satpam. Meski tak tahu ke mana langkah akan kubawa, aku terus memacu langkahku, menjauh dari rumah yang beberapa bulan lalu menjadi tempat ternyaman dalam hidupku.


“Mbak mau ke mana? Mau saya antar?” ucap seorang tukang ojek yang mungkin kasihan melihatku berjalan dengan barang bawaan yang cukup banyak.


“Makasih, Pak. Tapi, saya hanya mau ke sini, Pak. Mari,” ucapku dan dengan cepat berlalu.


Entah mengapa aku menjadi takut bertemu orang asing, apalagi laki-laki. Bayangan akan kejadian beberapa jam yang lalu masih segar dalam ingatan.


Aku benar-benar khawatir bila kejadian seperti itu menimpaku lagi sehingga sebisa mungkin aku ingin menghindari laki-laki.


Setelah beberapa lam berjalan, aku akhirnya menemukan masjid. Iya, mungkin hari ini hingga malam nanti, aku bisa bermalam di masjid karena aku tak tahu akan ke mana.


Hanya masjid tempat ternyaman yang bisa aku datangi. Semoga saja tak ada orang yang akan mengusir. Bila hal itu sampai terjadi, maka terpaksa aku harus bermalam di jalanan.


Tinggal menyeberangi jalan dan aku akan sampai ke masjidnya. Namun, belum sempat aku menyeberang, mobil sedan hitam lebih dulu berhenti dan menarikku masuk ke dalamnya.


Bisa kulihat beberapa orang laki-laki berpakaian serba hitam yang kurang lebih berjumlah tiga orang berada di dalamnya. Wajahnya tak terlihat karena mereka mengenakan topeng hitam.


"Siapa kalian?"


Aku berjalan mundur, mencoba kabur. Namun, belum sempat kulakukan itu kesadaranku lebih dulu menghilang.


Sepertinya mereka membiusku karena setelah kain semacam sapu tangan didekatkan ke wajah, pandanganku menjadi kabur dan berangsur hilang. Pun halnya dengan pendengaranku yang mulai menuli.


Sebelum kesadaranku benar-benar habis, aku masih sempat menjatuhkan sesuatu yang kulepas dari tangan. Entah apa itu. Aku sendiri pun tak mengetahuinya. Semoga saja benda itu bisa menjadi petunjuk bila syukur-syukur akan ada orang yang mau mencariku.


Sebelum semuanya menggelap, aku masih bisa mendengar bisikan hatiku.

__ADS_1


‘Ya Rabbi, lindungilah hambamu ini.’


Next...


__ADS_2