Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
12. Badai


__ADS_3

Karena Kak Zii meninggalkanku, malangnya aku jadi harus naik ojek online.


“Kakak. Kak Zii...” panggilku setelah sampai di rumah.


Mendapati mobilnya yang telah terparkir di halaman, aku langsung masuk ke dalam rumah.


Tidak memedulikan ART-ku yang kebingungan melihat wajahku yang sekarang pasti tampak begitu kacau. Aku langsung saja masuk. Tanpa menyapa mereka terlebih dahulu seperti biasanya.


“Kak Zii..., Kak Zii di mana, Kak?”


Lagi, aku memanggil namanya sambil terus mencari keberadaan sang suami.


Karena tak mendapatinya di lantai bawah, aku lantas naik ke lantai dua. Mungkin saja Kak Zii ada di kamar kami.


“Kak..., apa Kak Zii di dalam? Aku masuk, ya?” ucapku setelah mengetuk pintu kamar.


Aku menunggu beberapa lama, tetapi tak kunjung ada sahutan dari dalam.


Cklek...


Dengan pelan terpaksa membuka pintu tanpa izin.


Mulutku langsung terbuka, mataku pun turut membeliak.


“Kak..., apa yang Kak Zii lakukan? Kenapa baju-bajuku dibuang?”


Gegas kuhampiri ia. Mencoba menghentikannya yang masih mengeluarkan baju-bajuku yang ada di lemari.


Tanpa membalikkan badan dan tidak pula ia hentikan kegiatannya itu.


Ia langsung serta-merta berucap, “Detik ini juga kamu saya ceraikan!”


Ia berbalik dan dilemparnya pakaian-pakaian yang masih di tangannya ke arahku.


Tubuhku langsung mematung. Tak peduli dengan pakaian yang mengenaiku.


Aku menggeleng kuat-kuat. Susah payah, memaksa tubuh mendekat ke arahnya.


“Kak Zii tenang, Kak! Sekarang Kakak lagi emosi. Kita bicarakan semuanya baik-baik, ya.”


Aku semakin melangkah mendekat. Mencoba memeluknya supaya suamiku itu lebih tenang.


Namun, belum sempat tanganku meraihnya, ia sudah lebih dulu menepisnya. Tubuhku pun mendadak terlempar sampai menyentuh lantai kamar saking kuatnya tenaga Kak Zii.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Keputusan saya sudah bulat. Buat apa saya memelihara wanita yang tidak bisa memberikan saya keturunan. Buang-buang waktu.”


Kak Zii berdiri di depanku. Tangannya bersedekap di depan dada. Tatapannya begitu tajam. Sedang aku mendongak ke arahnya.


“Aku mungkin enggak bisa kasih Kakak anak, tapi aku masih bisa melayani Kakak. Aku masih bisa jadi istri yang baik buat Kakak.”


Aku mencoba bangkit.


“Dan masalah anak, apa kita enggak bisa pakai cara lain? Kita masih bisa adopsi. Kak, aku mohon jangan ceraikan aku. Kita saling mencintai. Apa Kak Zii lupa itu?”

__ADS_1


Laki-laki di depanku itu tersenyum sinis.


Ia mendekat. Tangannya mencengkeram daguku kuat. Hingga aku dapat merasakan rasa sakit akibat ulahnya.


“Kamu dengar ya Kana, Sayang. Sejak awal niat saya menikahimu semata-semata hanya untuk membuatmu melahirkan anak. Saya butuh penerus. Kamu tahu kenapa saya menginginkan anak darimu? Karena wajahmu sangat cantik. Saya tentu menginginkan anak yang rupawan.”


Sejenak, Kak Zii mengedarkan pandangannya ke seluruh tubuhku. Setelah itu, ia lantas berbisik, “Tubuhmu juga sangat nikmat. Tapi, perlu kamu pahami satu hal bahwa saya sama sekali tidak pernah mencintaimu. Kamu hanya saya anggap sebagai boneka yang bisa saya mainkan sesuka hati. Paham sekarang?”


Laki-laki itu mundur beberapa langkah setelah sebelumnya melepaskan cengkeramannya di daguku dan bersiap keluar dari kamar.


“Kemasi semua barangmu! Saya tidak mau lagi melihat wajahmu di rumah saya.”


Aku tahu ucapan laki-laki itu memang kejam. Namun, aku tidak ingin ambil hati. Suamiku hanya sedang diliputi emosi. Ia tidak tulus mengucapkan itu semua.


Berusaha menguatkan hati dan kucoba mengejarnya.


“Kak Zii..., aku mohon Kak. Beri aku kesempatan. Enggak masalah kalau Kakak enggak cinta sama aku. Enggak masalah juga kalau Kak Zii hanya anggap aku boneka...”


Memegang ujung bajunya hingga laki-laki itu pun menghentikan langkahnya.


“Tapi, tolong Kak jangan ceraikan aku. Aku masih mau melayani Kak Zii. Aku masih bisa m*mu*skan Kakak. Jangan usir aku. Aku mohon. Cuma Kak Zii yang aku punya,” rengekku sambil terus memegang ujung bajunya.


Aku sadar betul bahwa apa yang kulakukan sekarang amatlah hina. Aku tak ubahnya wanita m*rahan yang hanya bisa m*njual t*buhnya untuk mendapatkan apa yang kumau.


Namun, aku tak peduli. Saat ini hidupku bergantung pada laki-laki ini. Hanya Kak Zii yang kupunya. Tak ada lagi sanak saudara yang tersisa.


Lagipula, bila aku pergi dari rumah ini, entah akan ke mana aku.


Lagi-lagi Kak Zii kembali menepis tanganku yang memegang sebagian bajunya. Pun, aku kembali limbung hingga terjatuh.


“Kak, aku mohon. Aku sanggup melakukan apa pun asalkan Kak Zii tidak mengusir apalagi menceraikanku. Jadi wanita simpanan Kakak juga aku rela. Aku mohon Kak. Jangan lakukan ini padaku. Aku cinta Kakak.”


Aku bersujud di bawah Kak Zii semata-semata supaya ia iba kepadaku dan mengurungkan niatnya untuk menceraikanku.


“PAK SEPTO....“ teriak suamiku itu lantang sampai-sampai membuatku bangkit dari sujud.


“I-iya, Tuan. Ada apa?”


Pak Septo—satpam merangkap sopir rumah kami itu datang.


“Usir perempuan m*rahan ini dari rumah saya. Beresi semua barang-barangnya! Saya sudah tidak sudi melihatnya di sini!”


“Ta-tapi, Tuan. Nyonya Kana kan istri Tu—”


“Dia sudah saya ceraikan. Jadi cepat usir dia atau kamu saya pecat sekarang!”


Kak Zii memotong ucapan Pak Septo dengan suara yang masih sama tajamnya.


Meski masih ragu, Pak Septo mendekatiku dan dengan lembut ia berucap, “Ayo Non kita keluar dari sini. Biar saya bantu bawakan barangnya.”


Pak Septo memegang tanganku untuk dibawanya keluar dari kamar. Namun, aku dengan cepat menepisnya.


“Aku enggak mau pergi. Lepas! Aku masih mau di sini. Kak Zii..., aku mohon, Kak. Jangan usir aku!”

__ADS_1


Lagi-lagi, aku mencoba mendekati Kak Zii. Aku masih berharap supaya laki-laki yang masih kuanggap suami itu mau menerimaku kembali.


“Pak SEPTO USIR DIA!” gertak laki-laki itu lagi sambil menatap nyalang ke arah laki-laki baya yang masih berdiri mematung.


“Ba-baik, Tuan.”


Pak Septo mencekal tanganku kembali. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Mungkin supaya aku tak bisa menepisnya.


“Ayo, Non. Kita pergi! Saya mohon Non jangan melawan lagi!”


Pak Septo menyeretku dengan sekuat tenaganya. Sementara aku berusaha mati-matian membebaskan tanganku yang dicekal.


“Pak, Lepas! Saya mohon. Saya tidak mau pergi dari rumah ini. Pak, tolong saya. Biarkan saya berbicara dengan suami saya.”


Sepanjang jalan, aku terus merengek. Berharap Pak Septo iba dan mau meloloskanku. Namun sayang. Satpam ini tak sedikit pun mendengarkanku. Sepertinya, ia memang takut kehilangan pekerjaannya.


“Non Kana tolong tunggu di sini sebentar. Saya akan bawakan semua barang-barang, Non.”


Pak Septo kemudian menutup rapat pintu gerbang utama supaya aku tak bisa masuk kembali ke dalam rumah.


Kutatap datar gerbang rumah yang ada di depanku kini. Sungguh miris rasanya bila harus mengingat bahwa beberapa jam yang lalu aku masih dengan nyaman dan damainya berada di dalam rumah ini. Namun, sekarang aku malah berada di luarnya.


Terusir seperti gelandangan.


Aku tersenyum getir, sementara pandanganku tak lepas dari gerbang berwarna hitam itu. Aku masih sangat-sangat berharap bila-bila Kak Zii keluar dari baliknya dan memeluk tubuhku. Meminta maaf atas apa yang barusan ia lakukan padaku.


“Non, ini barang-barangnya. Semuanya telah saya bereskan, termasuk dengan ponsel dan segala macamnya,” ujar Pak Septo sambil menyerahkan barang-barangku yang telah dikemasnya dalam koper-koper.


Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum miris.


“Terima kasih, Pak,” ucapku berbarengan dengan air mata yang kini sukses jatuh.


Ya, sedari tadi aku telah menahannya sekuat tenaga supaya tak menangis di depan Kak Zii.


Entahlah. Aku mungkin ingin tetap terlihat keren di depannya. Tak ingin dicap sebagai wanita lemah.


Pak Septo hanya mengangguk dan menutup kembali gerbang berwarna hitam itu dengan sekali tarikan.


Sejenak, aku masih membiarkan air mataku mengalir. Aku tak ingin menyeka atau pun menghentikannya.


Aku hanya ingin menangis sepuasnya supaya rasa sakit di dada dan hatiku dapat berkurang.


Aku tak mau susah-susah menjelaskan rasa sakitnya karena aku yakin tak seorang pun akan mengerti akan rasa sakit yang tengah kualami saat ini. Iya, tak akan ada seorang pun yang sanggup merasakannya.


Kupejamkan mata dan menarik napas dalam, lalu membuangnya.


Kubuka mataku. Kudongak langit yang berwarna biru cerah. Sudut bibirku tertarik ke atas membentuk senyuman.


“Ma..., tunggu aku. Sebentar lagi aku akan ke tempat Mama. Kita akan segera bertemu.”


Aku lantas membawa barang-barangku berjalan ke arah sungai yang ada di dekat rumah.


Next...

__ADS_1


__ADS_2